Lucu, hari ini aku ngedengerin “If I were a boy”. Disaat usaha yang aku harus lakukan, malah gagal ditengah jalan. Dan orang yang aku harapkan gak bisa dihubungin.
Teringat masa lalu, dan bernostalgila…
Gila memang akhirnya harus teringat betapa kuatnya aku sebagai perempuan sampai berada di titik ini (baca : wonder woman). Samapai-sampai aku takk percaya bahawa ternyata aku mapu melewatinya.
Jika kalian membaca, aku mau kalian gak sama sekali berfikir bahwa aku ingin menyalahkan siapa-siapa. Tapi aku rasa aku ingin mengeluarkannya hingga tak bersisa.
Ada satu cerita yang aku belum bagi langsung kekalian dan aku tak percaya dapat melakukannya.
Anggaplah cerita ini adalah kisah salah seorang temanku yang aku ceritakan ulang.
Hari itu aku datang kekampus. Pagi sekali, dengan satu tujuan keras…aku ingin mengerjakan skripsi, karena dateline udah tinggal 2 minggu lagi, untuk sidang.
Aku masuk keruang Lab untuk sekedar melihat apakah dia ada disana (hanya itu) dan berniat berlanjut keperpustakaan.
Tapi begitu aku berjalan keperpustakaan, dia memanggil kencang tapi aku menghiraukannya. Berjalan lebih cepat kearah perpus dan menghidupkan laptop bahkan aku sempat OL.
Kudiamkan suara keras yang memanggil2 diluar sana, dan aku membuka bab3 ku. Tapi akhirnya dia membuka pintu perpustakaan bersama salah seorang temanku(abang). Menghampiriku dan bilang.
“Tolong bantu ngoreksi daftar pustaka, daftar isi, abstrak, sampul sampai semuanya va…cos mau ngerjain programnya nih masih ada yang eror.”
Aku berkerut. Kerutan itu tampak oleh temanku satunya. Dia diam dan melemparkan senyum.
“Tapi va juga mau ngerjain skripsi.” Bantahku setengah teriak.
“Yaelah dikit doank…nih masalahnya harus dikumpul hari ini.”
“Yaudah sini flasdisk sama hardcopynya.”
Dia memberikannya dan berlalu pergi. Tapi temenku itu tetap diam ditemat sambil menatapku tersenyum.
“Sabar ya babu…!” sindirnya. Aku diam sambil menahan tangis.
Akhrnya kuputuskan memasang status YMku menjadi “Fuck of all about you!”
Tiba2 dia ol, dan menanyakan mengapa statusku seperti itu. Aku katakan bahwa aku lupa menggantnya semalam.
Pendek cerita, akhirnya dia telah mendaftarkan dirinya untuk ikut sidang. Aku turut senang. Lalu berfikir apa kado yang pantas kuberikan padanya.
Akhirnya kubuatlah sesuatu, kuputuskan membuat buku dokumentasi untuknya(ide 3 bulan sebelumnya). Tak lupa menambahkan Dia dimata teman2…jadi aku membuat jadwal pembuatan kado ini. Pertama : aku harus mencetak foto, mengumpulkan sebanyak2nya dokumentasi mengenainya selama berada dikampus, pendapat teman2 tentang dia, semuanya berjalan sekitar 3 bulan hingga benar2 sempurna. Aku pun memilih kertas yang baik untuk membuatnya lebih baik dan maksimal.
Setiap hari aku harus mencari tempat cuci foto yang murah, tapi akhirnya mendapat yang gila2an sampai2 aku pernah pulang dengan berjalan kaki, atau gak makan siang sama sekali.
Lalu mengejar2 teman2 yang hampir semua malas untuk membuat komentar.
Dan aku juga harus mendapatkan kecuekannya padaku. Aiihh sedihhh…disaat kita harus berkorban demia seseorang dan tiba2 kita tahu bahwa dia berkorban demi orang lain.
Akhirnya skripsiku batal. Tertunda dan gagal. Tapi dia berhasil sidang.
Pagi sekali lagu Sheila on 7 “mudah saja” dan peluk “dewi lestari” berdengung dikuping setelah dia menelpon untuk menyuruhku segera tiba dikampus dan merapikan rambutnya yang gondrong agar terlihat rapih.
Langkah kakiku berat sekali. Rasa sedih dan pilu rasanya gak bias berganti dengan perasaan lain.
Pendek kata aku menyaksikan sidangnya tanpa memandang kearahnya. Aku tak sanggup menahan airmata yang akan jatuh. Jika aku mengingat semuanya terutama skripsiku yang akhirnya tertunda dan gagal.
Selesai sidang dia mengantarku pulang. Aku gembira, karena aku tak pernah menghabiskan waktu lebih banyak selama 6 bulan terakhir ini. Bahkan untuk menemuinya saja sangat sulit.
Seperti biasa ketika kami menaiki transjakarta, aku memilih untuk duduk ditangga samping pak supir setelah melihat pesta kembang api di ancol. Awalnya dia gak mau, tapi aku memaksanya. Setengah perjalanan aku perutku terasa mual. Ternyata perasaan sakit itu membuat ingin muntah.
Dia tertidur, aku melihat kearahnya memandangnya lekat2…seperti biasa dia tertidur. Betapa damai melihatnya demikian. Rasa2nya tak ada yang lebih bahagia selain melihatnya begitu. Aku menyayanginya…setulus-tulusnya…tak pernah seperti itu selama ini. Aku menahan tangis itu kembali dan membangunkannya.
Dia katakan dia begitu lelah. Tapi aku bersikeras…dan mengatakan bahwa ada sesuatu untuknya. Dia terbangun dengan senyum lalu kuserahkan buku berpita biru itu. Dia terperangah dan tersenyum sambil membuka2 isi halamannya. Aku bahagia sambil menahan tangis itu.
Dia sangat menyukainya katanya. Aku senang mendengarnya. Bahkan dia sadar betapa butuh waktu yang lama dalam membuat konsep buku ini.
Malam itu kami tiba dikampung melayu. Aku akan transit..tapi aku masih ingin melihatnya (untuk terakhir kali sebelum melepasnya). Aku ikuti dia hingga Salemba. Dan kembali lagi ke kampung melayu.
Dan akhirnya kutumpahkan semuanya.
Beberapa minggu kemudian aku mengajaknya ketempat makan favorit kami. Setelah mengantarnya ke kemayoran untuk bertemu dengan kawannya. Tiba2 gelang pemberiannya menghilang dari tanganku. Aku sedih sekali mengingat betapa aku menghargai pemberiannya.
Setelah pulang dari t4 makan itu…akhirnya aku katakan ingin melepaskannya…dia kaget mendengarnya tapi aku tahu bahwa dia takkan menarik tanganku untuk tidak pergi walaupun kutahu suatu saat akan begitu.
Tak ada tangis disana, aku hanya ingin mewujudkan pelengkapan “Lubang dihati” yang selalu ia nyanyikan setiap hari. Dan jika itu yang terbaik untuknya aku sudah mengantarnya.
Dua hari kemudian…betapa tangis itu memuncak, aklu telah lancing membaca outbox handphonenya dan tertulis disana “Mungkin waktu itu aku gugup dan gak ngejawab kenapa aku samapai sekarang belum juga pulang ke orang tuaku, tapi aku Cuma ingin ada disampingmu, disisimu dan menyaksikan perjuanganmu pada saat waktu penentuan itu(sidang skripsi).” Dan outbox itu bukan untukku. Aku terpukul perih dan menangis tak tertahan hingga akhirnya memutuskan untuk benar2 pergi dari hidupnya. Selama dua minggu sama sekali tak ada makanan yang masuk keperutku seperti biasa. Aku sakit keras dan hampir masuk rumah sakit.
Betapa perihnya kalimat itu walaupun katanya tidak terkirim. Dan aku sadar bahwa ternyata aku sama sekali tak berharga dan hanya harus ada ketika dia butuh dan aku tak boleh membutuhkannya.
Aku menangis sesakit-sakitnya. Hingga memutuskan memulai hidup baru dan mencari penggantinya. Dan ternyata perasaan itu tak pernah berakhir. Hingga kini. Aku sayang kamu.