terimalah…


Hari itu, ketika menengadah diatas jembatan penyebrangan dijembatan merah. Air hujan dibawah temaram lampu jalanan terasa tidak seperti biasanya. Dia lebih indah, lebih cantik. Dan pelangi dibawahnya begitu bulat sempurna dan banyak warna jingga disana.

Jangan tanya apa aku peduli dengan semua orang (dimobil)____dibawah____yang melihat keatas mereka. Aku tak peduli. Mereka mau bilang kita gila atau sinting.

Karena aku baru saja melepaskan tangis itu. Dan kau mengajakku berhenti untuk menikmati suasana yang betapa aku mencintainya dari dulu. Air dibawah temaram lampu jalanan.

Aku menangis kembali didalam hati. Seandainya aku bukan perempuan, maka aku tak akan melakukannya. Biarkan aku merasa manusiawi, menikmati kemanusiawianku, merasakan sakitnya, merasakan kerinduannya, merasakan segala perasaan yang pernah ada dan hingga saat ini masih ada.

Please…Biarkan aku menjadi berlebihan seperti ini. Biarkan aku merasakan sisi kemanusiawianku yang satu ini. Ketika aku menjadi berlebihan disaat aku menemukan cinta.

Aku tak ingin seperti siapapun tokoh yang kau sebutkan, dan aku tahu mereka. Mereka yang berjuang untuk apa yang mereka yakini benar, dan disanjung. Tapi, tak ada satupun cinta yang berani menerima mereka. Aku tak peduli. Karena aku perempuan.

Karena aku perempuan dan mempunyai hak untuk merasakan sisi melankolisku sebagai perempuan. Maka terimalah rasa melankolisku ini. Rasa rindu ini. Rasa kehilangan ini…

Karena aku selalu yakin saat dimana pelangi itu terlihat indah adalah saat dimana air hujan pergi meninggalkan lampu jalanan. Jatuh ketanah dan mengalir kelaut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s