Nudisme


Posting ini saya dapatkan dari seorang teman lewat email saya :

artculture-indonesia

[ac-i] jurnal toddopuli: gerakan naturalis

sangumang kusni
Tue, 20 Jan 2009 05:32:26 -0800
Jurnal Toddopuli:

GERAKAN NATURALIS:
Esok, Akankah Kiya Bakal Telanjang Semua?

[Cerita Untuk  Anak-anakku]

Judul di atas merupakan tema yang dibahas dalam acara sastra-seni  terusan tivi 
FR2 Perancis satu setengah minggu lalu dalam rangka membicarakan "Telanjang 
Dalam Sastra-Seni Dunia" dihubungkan sekaligus dengan soal seksualitas.

Dalam membahas masalah telanjang dalam sastra-seni dilakukan perbandingan 
pengaalaman dari negeri satu dan negeri lain.  Hadir dalam debat ini selain 
sastrawan-sastrawan, sosilog, pastur, filosof,  juga Wakil Ketua Gerakan 
Naturalis Perancis. Gerakan Naturalis disebut juga kelompok Nudis yang di 
Perancis mempunyai perkampungan sendiri lengkap dengan prasarananya seperti 
Kantor Pos, pasar, lapangan olahraga, perumahan, dan lain-lain. 

Menurut Gerakan Naturalis Perancis, terletak di tengah-tengah antara yang 
terdapat di negeri-negeri Eropa Utara dan Amerika Serikat. Agaknya, Gerakan ini 
berangkat dari pandangan "kembali ke alam" sebagai dasar filosofinya. 

Melihat reportase yang ditayangkan oleh tivi Perancis beberapa tahun lalu, aku 
dapatkan bahwa di kalangan komunitas Nudis ini terdapat suatu keakbraban dan 
kerukunan manusiawi yang sulit diperoleh di Paris dan kota-kota besar yang 
galau penuh dengan kekerasan. "Kembali ke alam" dalam bentuk Gerakan Naturalis 
ini, barangkali salah satu bentuk pemberontakan, paling tidak protes terhadap 
keadaan di kota. Tafsiran begini pun pernah diutarakan oleh PM. Chou En-lai 
alm. , PM Republik Rakyat Tiongkok, saat menerima pemain-pemain tenis meja 
Amerika Serikat di Beijing seusai pertandingan dunia tenis meja di Jepang. 
"Rambut panjang anak-anak muda ini adalah suatu pemberontakan terhadap keadaan 
di masyarakat Amerika", kuranglebih demikian penafsiran PM Chou. 

"Apakah di kalangan komunitas Nudis, keadaan bertelanjang bulat tidak 
merangsang birahi anggota-anggota komunitas?", tanya seorang peserta debat. 

"Sama sekali tidak",  jawab Wakil Ketua Gerakan Naturalis Perancis itu yang 
tentu saja tampil dengan pakaian lengkap sebagaimana peserta yang lain. "Di 
komunitas Nudis, telanjang merupakan hal yang alami. Wajar. Karena semua orang 
telanjang. Yang aneh justru jika ada yang mengenakan pakaian". Karena itu 
orang-orang yang masuk ke perkampungan Nudis diharuskan untuk juga telanjang. 
Termasuk para wartawan yang ingin meliput perkampungan yang terletak Perancis 
Selatan. "Saya berada di forum ini berpakaian seperti Anda-anda semua, karena 
jika saya telanjang seperti di kampung Nudis kami, saya akan dipandang aneh 
oleh Anda-anda dan pemirsa", tambah Wakil Ketua Gerakan Naturalis itu.

"Apakah di komunitas Nudis kalian pernah terjadi perkosaan?", peserta lain 
bertanya.

"Sama sekali tidak pernah terjadi. Bahwa hubungan seks terjadi, tapi hubungan 
ini berlangsung sehat, alami dan manusiawi. Tidak ada pemerkosaan seperti yang 
banyak terjadi di masyarakat berpakaian atas nama peradaban dan kebudayaan. 
Nudisme  mempunyai dasar filosofi yang jelas". Karena itu mungkin ia menyebut 
diri suatu gerakan. Gerakan Naturlis, gerakan kembali ke alam yang menyerupai 
ide "kembali ke akar" dalam kebudayaan dan ekonomi pembangunan.

Dalam hubungan dengan masalah pemerkosaan dan hubungan seks dan penjajaan 
tubuh,  moderator menanyakan pandangan seorang filosof yang diundang:

Sang filosof mengawali komentarnya dengan mengutip pendapat Pascal, salah 
seorang filosof terkemuka Perancis yang mengatakan bahwa "Tubuh itu netral, 
sedangkan pikiran itu subyektif". "Artinya pikiran manusialah yang menentukan 
bagaimana perlakuan terhadap tubuh dan memperlakukan tubuh itu", tambah sangat 
filosof menafsirkan kata-kata Pascal. Artinya perkosaan, incest, pedhopil, 
penjajaan tubuh, jika merunut tafsiran filosof ini , merupakan hasil 
dari perlakuan pikiran pada tubuh. Gerakan Naturalis pun jadinya tidak lain 
merupakan buah subyekt dari pikiran.

Pertanyaan lebih lanjut terhadap pandangan Pascal ini antara lain adalah: 
"Mengapa dan bagaimana terbentuknya subyektivisme pikiran?" . Pertanyaan yang 
bisa dirinci: "Apa dasar sosial, ekonomi, politik, sejarah dan kebudayaannya 
subyektivitas pikiran ini?".

Pembicara lain menyangkutkan perbedaan Gerakan Naturalis di Perancis, Amerika 
Serikat dan negeri-negeri Eropa Utara dengan masalah agama. Eropa Utara jauh 
lebih bebas. Sampai-sampai pernah terjadi di Hamburg, ada sepasang dari 
Komunitas Naturalis yang berjalan telanjang di jalan raya kota. Disebutkan ini 
sebagai pengaruh Portestanisme/Evangelis, sedangkan Perancis yang dipandang 
moderat atau setengah-setengah dikaitkan dengan adanya Katolisisme dan 
Protestanisme. Sementara  Amerika Serikat  yang lebih tertutup oleh kuatnya 
Puritanisme. 

Dari pembahasan tentang nudisme ini, debat kemudian beralih ke masalah 
telanjang dalam sastra-seni, model-model telanjang di Akademi Fine Art, Beaux 
Art. Di negeri-negeri di mana Islam dominan, nampaknya telanjang hampir tidak 
terdapat di dalam sastra-seni.  Sedangkan dalam perbandingan Tiongkok nampak 
kurang terbuka dibandingkan dengan Jepang. Keterbukaan  di Jepang, nampak 
misalnya dari adanya upacara tradisional pengarakan penis, di samping adanya 
filem-filem yang selain mempertontonkan tubuh bugil lelaki dan perempuan, dan 
filem-filem khusus tentang hubungan intim secara seremonial. Hanya saja, aku 
tidak tahu, apakah di Jepang terdapat kampung Nudis dan organisasi seperti 
Gerakan Naturalis yang juga mempunya penerbitan mereka, seperti di Perancis.. 
India juga dinilai oleh debat sebagai negeri terbuka dalam masalah telanjang 
sampai melahirkan Kamasutra dan candi dengan relief-relief serta patung-patung 
telanjang . Barangkali hal ini ada kaitannya
 dengan konsep Hindu dan Budha.

Adanya telanjang dalam sejarah sastra-seni dinilai oleh debat sebagai kenyataan 
yang tak terlepaskan dari pandangan filosofi dalam masyarakat pada suatu kurun 
zaman, pandangan tentang hidup-mati dalam, bagaimana mengartikan hubungan 
seksual, tubuh manusia . Kehadiran telanjang dalam sastra-seni dipandang 
sebagai tampilan artistik wacana-wacana ini. Barangkali karena itu maka 
memahami karya sastra-seni seniscayanya memahami pandangan, sejarah dan latar 
filosofi dominan pada suatu kurun waktu. 

Diskusi dalam debat tivi FR2 ini menggelitik benakku untuk melihat keadaan 
sastra- seni di Indonesia. Terus-terang saya tidak menguasai keadaan semua 
pulau, terutama pulau-pulau besar utama. Pulau-pulau yang latar budayanya 
berbeda satu dengan yang lain. Jawa berbeda dengan Kalimantan, berbeda dengan 
Sulawesi, Papua, Sumatera, Bali dan lain-lain.... Pulau-pulau ini juga 
tidak merupakan satu pulau kebudayaan monolit. 

Hanya bisa dipastikan masalah telanjang dan seksualitas bukanlah tampilan asing 
dari sastra-seni negeri kita, dari dahulu  sampai hari ini. Di Borobudur atau 
Candi Prambanan, tampilan-tampilan begini dengan gampang bisa kita dapatkan.. 
Bahkan menurut sumber yang kudapatkan, tidak jauh dari Tawangmangu, 
Solo, terdapat sebuah candi kecil yang dipenuhi oleh tampilan-tampilan begini. 
Juga di Bali. Apakah hal ini ada kaitannya dengan Hindu dan Budha? Serat 
Centini merupakan salah satu monumen telanjang dan seksualitas dalam sastra 
Jawa. 

Di Tanah Dayak Kalimantan Tengah yang berbudaya Kaharingan , agaknya soal 
telanjang dan seksualitas, tidak juga ditabukanh untuk diungkap dalam 
sastra-seni. Misalnya dalam sastra lisan: "Sangumang Dan Maharaja", yang 
terdiri dari rangkaian rupa-rupa cerita, terdapat tidak sedikit petilan-petilan 
yang menceritakan hubungan intim dengan rinci. Tujuannya mengejek "Maharaja" 
atau "Raja" yang di Tanah Dayak dipandang sebagai lambang keburukan dan 
kemalasan. Sastra lisan pada umumnya bersifat berpihak [engagé]. [Bandingkan 
dengan cerita-cerita Sade dari Perancis]. Ketika masih di Sekolah Rakjat , 
sekarang Sekolah Dasar, untuk suatu upacara, ayah pernah kulihat membuat patung 
pasangan sedang bersetubuh dengan posisi misionaris. Patung ini digunakan dalam 
upacara kelahiran bayi baru. 

Dengan mengambil contoh dari Tanah Dayak Kalimantan Tengah ini yang ingin 
kutunjukkan bahwa tampilan telanjang dan seksualitas tidak asing dari 
sastra-seni etnik Dayak. Penampilan telanjang dan hubungan seks tidak ditabukan 
karena merupakan bagian alami tak terpisahkan dari kehidupan.

Kalau melihat pada masa Republik Indonesia,  aku teringat akan lukisan 
telanjang Basuki Resobwo alm. Lukisan seorang perempuan kurus telanjang. 
Menjawab pertanyaan, salah seorang pemimpin Lekra dengan wacana "seni untuk 
rakyat"nya ini, menjawab kurang lebih: Apa ini tidak memihak rakyat? Aku 
melukiskan betapa kurusnya perempuan ini karena kemiskinan dan ketiadaan. Orang 
mestinya bertanya mengapa ia demikian kurus-kering? Dengan telanjang aku bisa 
menunjukkan dengan jelas garis-garis kekurusan tubuh dan rautnya. Sedangkan 
Soejojno, melukiskan hubungan intim dalam kelambu ditambah dengan kata-kata 
"Sayang saya bukan anjing". Artinya , baik Pak Bas mau pun Soejojno yang 
sama-sama orang Lekra tidak mentabukan soal telanjang dan seksuaalitas tapi 
mereka melukiskannya sesuai filosofi mereka. Filosofi yang jelas. Nikolai 
Osyrovsky, salah seorang romansier masa Uni Soviet dalam karyanya "Bagaimana 
Baja Ditempa" juga berbicara soal ini.

Agaknya masalah telanjang dan seksualitas, hendaknya tidak disederhanakan dan 
disimpulkan dengan cepat menjadi sesuatu yang otomatis cabul atau porno. Aku 
khawatir penyederhanaan dan kesimpulan cepat hitam putih tanpa mencoba terbuka 
dan apresiatif akan memiskinkan kreatifitas seniman. Memupuk hipokrisi.. 
Membaca, menikmati dan mengapreasi suatu karya sastra-seni, boleh jadi menuntut 
kegiatan belajar juga sekali pun benar bahwa penikmat, pembaca karya mempunyai 
kedaulatan penikmat dan pembaca.

Beberapa titik inilah yang kupungut dari diskusi dan debat tivi FR2 Perancis 
tentang "telanjang dalam sejarah sastra-seni yang berlangsung satu setengah 
minggu lalu.

Kucatat diskusi debat ini dengan harapan bisa menjadi acuan pemikiran kalian, 
anak-anakku yang terus membesar sejalan dengan perkembangan waktu. Waktu yang 
menurunkan ke hadapan kalian rupa-rupa masalah yang perlu kalian jawab untuk 
menciptakan budaya kalian sendiri yang tanggap zaman. ****

Winter 2009
------------------
JJ.Kusni

      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

3 thoughts on “Nudisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s