Ijinkan Aku!


Aku hanya ingin tiba dipuncak itu,

Dimana harapan lalu, berada.

Aku hanya ingin bersama dia,

Tak ada yang lain, bersama dia

Menyusuri bebatuan, aliran sungai telaga biru.

Disana…

 

Aku ingin tiba diMandalawangi,

Dipuncak harapan,

Dipuncak kematian,

Dipuncak pusaran harapan dan keinginan bersemayam.

Bersamanya…

 

Sungguh betapa ingin sampai dipuncak itu,

Tak ada yang lain,

Hanya ingin kulampiaskan rasa marah ini,

Kecewa ini,

Dan rasa sakit ini,

 

 

Aku ingin bebas disana,

Dilembah Mandalawangi,

Mengalir sejuk seperti angin,

Berbicara sebuah bahasa tak dikenali

Bersama bunga Edelweis.

 

Tak ada yang lain selain merasakan bau tanahnya,

Bau embun-embunnya,

Dan aroma tubuhnya, tak ada yang lain.

Hanya lepas dan bebas menjadi jati diri yang kutahan dalam.

 

Aku sungguh ingin kepuncak itu,

Ijinkan aku, tiba disana, untuk pertama kalinya

Dan membebaskan semua sebebas-bebasnya.

Dilembah Mandalawangi…

 

Sebuah Tanya

 

akhirnya semua akan tiba

pada suatu hari yang biasa

pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

 

apakah kau masih berbicara selembut dahulu

memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

sambil membenarkan letak leher kemejaku

 

(kabut tipis pun turun pelan-pelan

di lembah kasih, lembah mandalawangi

kau dan aku tegak berdiri

melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

 

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu

ketika kudekap kau

dekaplah lebih mesra, lebih dekat

 

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi

kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya

kau dan aku bicara

tanpa kata, tanpa suara

ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

 

apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua

kecuali dalam cinta

 

(hari pun menjadi malam

kulihat semuanya menjadi muram

wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

dalam bahasa yang kita tidak mengerti

seperti kabut pagi itu)

 

manisku, aku akan jalan terus

membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan

bersama hidup yang begitu biru

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s