Tak ada teriak “Autis” sore itu


Penawar dahaga,

tenggorokan

menguap sesosok asap.

 

Kau yang setiap pagi duduk disana,

begitu hikmat menyantapnya.

 

Sesosok bayi biasa duduk bersamamu,

kau sit-up setiap pagi sambil bersenandung…

nanana…nanana…

kau tengkurap dan dia berguling bagai anak kucing diatas bahumu.

 

Tak ada yang hitam,

tak peduli orang berkata apa,

kau berceloteh tak mau diam.

Sambil sesekali,

dia, sibayi mungil menghapus air liurmu.

 

Tapi sore itu, asap memenuhi tenggorokanmu,

aku terkecat sambil menyantap mie ayam.

 

Mengapa tak ada lagi celoteh itu,

kau isap dalam-dalam

kau hembuskan besar-besar seperti gajah

seperti umur tuamu

 

tak ada teriak “Autis” sore itu

ketika asap menggepul memenuhi rongga dadamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s