Merenung


Yah, memang…satu sisi gue lagi-lagi gak bisa pungkiri, bagaimana perasaan ini terasa begitu sakit.

Mungkin gue adalah orang yang termasuk dalam kategori memelihara penyakit hati.

Gue pikir, gue mengenal hati gue…tapi ternyata gue gak kenal dengan hati gue.

Gue hanya ingin semua kembali normal…semua ketergantungan ini hilang, dan gue bisa menjalankan kehidupan ini normal senormal-normalnya.

Tapi ternyata enggak sama sekali. Gue sulit untuk ngilangin doktrin yang ternyata tanpa sadar hadir begitu saja dihidup gue. Gue sadar, gue gak bisa tanpa dia.

Brengsek! gue benci merasa sepeti ini terus menerus.

Gue benci harus ngebohongin semua yang gue rasain. Gue sayang sama dia.

Kenapa gue demikian kejam sama diri gue sendiri dengan membuatnya selalu susah.

Gue harus pergi dari Jakarta! gue harus pergi dari semua hal yang mengingatkan gue dengan dia…gue benci semua apa yang membebani otak gue walaupun itu adalah perasaan gue sendiri.

Dan seharusnya gue bisa menghargai hati bahkan diri gue sendiri…Karena sebenarnya gue bisa bersinar lebih terang daripada selama ini.

TUHAN izinkan aku mencela, izinkan aku mengumpat kumohon…. :((

4 thoughts on “Merenung

  1. insayallah bararti siap untuk memulai..jangan menunda lagi…karena menunda sesuatu yang penting itu tidak baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s