Maria al-qabtiyya


Waw..ths buat pak Riyadi yang udah memberikan banyak ilmu selama ini sehingga saya tahu mengenai Maria al-qabtiyya…mau tahu siapa dia, klik
disini yahhh…

Nah dari beberapa penjelasan beliau, saya jadi teringat novel karangan kang abik yang judulnya “Ayat-ayat cinta”

Disana ada seorang penganut kristen koptik bernama Maria….wah serunya saya jadi bertanya2 apatujuan kang abik untuk mengangkat nama ini yahhh…karena Maria al-qabtiyya sendiri masih diperdebatkan apakah dia benar2 sudah dipersunting oleh rasulullah atau belum.

Wallahualam yahh semua kebenaran sebuah sejarah🙂

Tapi yakinlah sesungguhnysejarah yang tak pernah bohong adalah AlQur’an, dan hanya ALLAH-lah yang tau persis kebenarannya. Tugas kita hanya meyakini itu bukan???

Dan teman, jujur saja…angat sulit untuk belajar segalanya dari awal, karena segala cerita dan sejarah dapat membuat kita makin yakin dan mencintai Rasulullah atau malah sebaliknya(mengecam). Teman, saya sarankan untuk terus mencari tahu, karena saya pribadi juga sempat terguncang, karena saya sama sekali masih baru belajar, dan ilmu saya masih sangat kurang untuk benar2 meyakini dan benar2 mengartikan semua tindakan rasulullah dengan benar.

Termasuk tentang menikahnya beliau dengan Aisyah ra…saya sempat berfikir “pantas saja syekh puji menikahi anak dibawah umur”. Sekali lagi…belajarlah tanpa berhenti untuk mau menjadi “Tau”.

Semoga berguna yahhh

4 thoughts on “Maria al-qabtiyya

  1. Latar belakang; Persoalan yang dimunculkan:

    Tentang Pernikahan Nabi Muhammad dengan Siti Aisyah, seorang teman Kristen suatu kali bertanya ke saya, ”Apakah Anda akan menikahkan saudara perempuan-mu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?” Saya terdiam. Dia melanjutkan,” Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?” Saya katakan padanya,” Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya. Kebanyakan Muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu bisa diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.

    Dasar Riwayat / Hadits:

    Sebagian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak dalam hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya, Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq , dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

    Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ”Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

    KRONOLOGI:

    (Angka Tahun terutama yang sebelumnya Hijriah bisa berselisih satu tahun, terutama dikarenakan pada saat itu belum ada referensi, sejak dari kapan Tahun itu dimulainya. Yang biasa mereka ingat adalah Bulan Qomariyahnya dan tanggalnya, karena bisa dilihat dari perkembangan bulan di langit)

    570 Masehi – Tahun Gajah, ketika Abraha Asyram – Raja Muda Yaman, wakil Negus, Raja Kristen

    Abbessinia datang ke Mekkah dengan pasukannya yang berjumlah 20.000 orang dengan membawa beberapa ekor Gajah, berniat hendak menghancurkan Ka’bah, yang tidak berhasil, karena lasykarnya diserang wabah bisul cacar yang mematikan ketika mereka sudah tiba di pinggiran Kota Mekkah dan memanggil Abdul Muththalib untuk berunding (Tafsir Surah Al Fiil).

    ~569 M Abdul Muththalib (kakek Muhammad, lahir tahun 497 M) ) waktu itu sudah hampir 70 tahun;

    Usia anaknya, Abdullah bin Abdul Muththalib 24 tahun (lahir tahun 545 M) dan dikawinkan dengan Aminah bt Wahab bin abdul Manaf bin Zuhra – Pemimpin Suku Zuhra.

    Tidak lama kemudian, Abdullah berangkat berdagang ke Suria meninggalkan istrinya (Aminah) yang sedang hamil.

    570 M (20 April?)– Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Qamariyah, yang tahunnya tidak ada catatan persisnya, karena saat itu belum ada dasar referensinya mulai dari mana/kapan (Inilah yang menjadi persoalannya).

    595 M Muhammad (usia 25 tahun) menikah dengan Khadijah (janda, 40 tahun).

    Pra-610 M: Masa Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu.

    610 M: Nubuwwah – Turun wahyu pertama di Gua Hira (Senin 21 Ramadhan, 10 Agustus 610 M).

    Umur Nabi Muhammad saw. waktu itu 40 tahun, 6 bulan 12 hari (Th. Qomariah), atau 39 tahun, 3 bulan dan 20 hari berdasarkan Tahun Syamsiyah (Masehi).

    610 M AbuBakr bin Abi Quhafa masuk Islam; setelah Khadijah, Ali bin Abu Talib dan Zaid bin Haritha.

    Diriwayatkan istri-istri Sayyidina Abu Bakar r.a., ada yang dinikahi ketika di zaman jahiliyah dan ada yang di masa Islam. Keempat anaknya, yaitu Abdullah, Asma`, Abdurrahman dan Aisyah r.a., dilahirkan oleh dua istrinya yang dia nikahi pada masa jahiliyah, yaitu Qatilah bintu Abdul Uzza dan Ummu Rumman (sebelum 610 M). Dan setelah Islam, Sayyidina Abu Bakar r.a. menikah dengan Asma` binti Umais.

    Menurut Ibn Hajar, “Fatimah dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun. Umur Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

    610 M: Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika usia Nabi saw. 40 tahun.

    Jika Aisyah dipinang Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika itu adalah 12 tahun.

    613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat

    615 M: Hijrah ke Abyssinia I.

    615 M: Turun Surah Al-Qamar, 5 tahun setelahnya Nubuwwah, yang menubuatkan kekalahan kaum

    Quraisy Mekah dalam Perang Badar tahun 2 H = 624 M (54:46).

    616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.

    620 M Tahun ke -10 Nubuwwah; wafat Abu Talib (bulan Rajab)

    yaitu 6 bulan setelahnya penghapusan Piagam Pemboikotan thd. orang Muslim.

    Khadijah r.a. wafat 3 bulan kemudian.

    621 M: Nabi meminang/ bertunangan dengan Aisyah, atas usul dari Khaulah yang menawarkan 2 pilihan:

    Seorang gadis (bikr) atau seorang janda (tsayyib). Gadis itu adalah Aisyah (12 tahun) putri Abu Bakr, yang teman Nabi s.a.w. (Riwayat dari Ahmad ibn Hanbal). (1 tahun Sebelum Hijriah)

    622 M: 16 Juli, Hijrah ke Yathrib, Medinah – Dimulainya Tahun 1 Hijriyah (Qomariyah).

    622 M: Karena Aisyah masih di bawah umur (belum baligh), Nabi s.a.w disarankan untuk menikah dengan Saudah bt. Zam’a (yang “thayyib” itu). (Tahun 1 Hijriah)

    624 M: Nabi saw mulai berumah tangga dengan Aisyah pada umur Aisyah 14 tahun.

    8 Juni 632 M, 11 H Nabi saw. wafat dalam usia 62-63 tahun; umur Aisyah saat itu 22 tahun dan telah 8 tahun berumah tangga dengan Nabi s.a.w.

    624 M: Ke-ikutsertaan dalam Perang Badar (Ramadhan, 2 H)

    Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah [pada hari itu]. Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

    Ini menunjukkan bahwa Aisyah sudah ikut berada dalam perang Badar (2 H) dan kemudian Uhud (3 H).

    Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpartisipasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi pada perang Khandaq, ketika sudah berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

    Berdasarkan riwayat diatas, anak laki-laki berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, tetapi Aisyah sudah ikut dalam perang Badar (dan Uhud), yang berarti sudah dianggap dewasa.

    Maka, jika Aisyah sudah ikut dalam perang Badar (dan Uhud) mengindikasikan bahwa Aisyah itu usianya minimal 14 tahun (nampaknya persyaratan ke-dewasaan perempuan itu lebih muda tahunnya daripada untuk anak laki-laki, yang 15 tahun).

    Surah al-Qamar (Bulan)

    Menurut sumber dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa Arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

    Surat 54 dari Alqur-aan diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), atau tahun ke-5 setelah Nubuwwah, yang menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 615 M. ketika Aisyah sudah menjadi seorang gadis muda (jariyah), yang bukan bayi yang baru lahir saat diwahyukannya Al-Qamar itu. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, saat itu (615 M) Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi) lagi.

    CATATAN:

    Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia di bawah 9 tahun saat itu. Dengan tidak adanya orang-orang Arab yang merasa ber-keberatan dengan pernikahan Nabi Muhammad s.a.w. dengan Aisyah tersebut, berarti memang Aisyah sudah menjadi seorang perempuan remaja yang dewasa.. Jika ada yang membuat riwayat bahwa umur Aisyah itu 7 atau 9 tahun, ini rupanya bukan didasarkan atas data (kelahiran) otentik, tetapi hanyalah dilihat dari penampakannya saja, karena Aisyah itu selalu ceria dan masih senang bermain-main, balapan lari, masih minta dipunggu oleh suaminya, Nabi saw., ia memiliki badan yang kecil, ramping, light-weight, sehingga jika Aisyah naik di dalam tandu itu, orang-orang yang memikulnya tidak merasakan ada perbedaannya. Inilah yang membuat bagaimana sampai Aisyah tertinggal dalam satu gerakan militer Nabi s.a.w. terhadap Bani Mushthaliq (Tahun ke-5 Hijriah), seperti termaktub dalam Surah An-Nuur (24:12), yang ceriteranya panjang dan menghebohkan serta ada dalam Hadits Bukhari juga.

    KESIMPULAN:

    Selama ini, kita semua sudah menerima begitu saja sebagai hal benar – take it for granted – apa yang diriwayatkan oleh Hisham ibn `Urwah, satu-satunya perawi yang meriwayatkan perihal pertunangan / pernikahan Nabi Muhammad s.a.w. dengan Aisyah, tatkala Aisyah berumur 7 / 9 tahun.

    Orang sudah menganggapnya benar begitu saja, karena memang sudah tertulis di dalam hadits; padahal yang benar itu hanyalah kejadian – peristiwanya saja, sedangkan taksiran mengenai umur Aisyah itu bukanlah atas dasar otentik dengan dihitung mulai sejak lahirnya pada tahun berapa, karena di zaman itu belum ada hitungan tahun ke berapa, mulai dari mana. Biasanya orang Arab hanya ingat bulan Qomariah apa, dan mungkin tanggal berapanya saja; tahunnya sih Wallahu Alam.

    Yang jelas, Aisyah dilahirkan dari seorang ibu, yang dikawini oleh Hdr. Abu Bakar, di zaman Jahiliyah, yaitu sebelum Islam, sebelum Nubuwwah. Kemungkinan besar, Aisyah dan juga saudara-saudarinya lainnya sudah lahir sebelumnya Nubuwwah (610 M); ini yang paling masuk akal.

    Maka, jika Aisyah dipinang oleh Nabi Muhammad s.a.w. pada tahun 622 M di Mekkah, pas sebelumnya hijrah, umur Aisyah saat itu paling sedikitnya 12 tahun, dan mulai berumah tangga dengan Nabi s.a.w. ketika berumur 14 tahun (minimal) pada tahun 624 M di Medinah.

    Tidak lama kemudian, pada bulan Ramadhan tahun 2 H atau 624 M terjadilah Perang Badar dekat Medinah, dan diriwayatkan bahwa Aisyah pun sudah ikut serta dalam gerakan militer Nabi s.a.w. tersebut. Jadi pada saat itu sudah dapat dipastikan bahwa Aisyah yang ikut dalam peperangan itu memang sudah bukan anak kecil lagi tetapi sudah mencapai kedewasaannya, say untuk wanita paling tidak sudah berumur 14 tahun, atau kalau lahirkannya memang sebelum Nubuwwah (sebelum tahun 610 H), maka bisa saja umurnya sudah 15 tahun; apalagi bilamana dihitung dengan Tahun Qomariyyah, yang lebih singkat daripada Tahun Syamsiyah (Masehi).

    Jadi penampakan umur yang dilihat oleh perawi hadits itu sebagai 7 atau 9 tahun, hanyalah karena Hdr. Aisyah itu badannya ramping, light weight, sifatnya manja, ke-kanak-kanakan. Tidak ada orang yang berkeberatan atas pernikahan tersebut, baik di zaman itu mau pun sesudahnya, dan sekarang juga.

    PPSi / Mersela, 10 Juli 2009.

    Bismillahirrahmanirrahiim

    Takutlah kepada (Firman) Allah dan Taatilah sabda Rasul s.a.w.; Nabi s.a.w. bersabda:

    Taraktu fiikum amrain maa in tamassaktum bihimaa lan tadhilluu’ abadan Kitaaballaahi wa sunnata rasuulihi = Aku tinggalkan kepada kamu dua hal (pegangan); jika kamu berpegang kepada keduanya, kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Pegangan itu adalah 1. Kitabullah (Alqur-aan) dan 2. Sunnah Rasul.

    (Khutbah Nabi Muhammad, Rasulullah s.a.w. pada Hijjatul Wada’)

    Buku ‘Riwayat Hidup Rasulullah saw’ karya H.M. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Khalifaful Masih II r.a. YWD (192) hal. 3:

    Betapa pentingnya dan berharganya soal menghubungkan sebuah Kitab Suci dengan Guru yang membawanya, sudah disadari sejak dini dalam Islam. Salah seorang dari isteri-isteri Rasululullah s.a.w. ialah Aisyah, yang masih muda sekali. Usia beliau kira-kira 13 – 14 tahun ketika dinikahkan kepada Rasulullah s.a.w. Kira-kira delapan tahun beliau hidup dalam ikatan nikah dengan Rasulullah s.a.w. Ketika Rasulullah s.a.w. wafat, usia istri beliau itu baru 22 tahun. Beliau masih muda dan buta huruf. Walaupun demikian, beliau tahu benar bahwa suatu ajaran tidak dapat dipisahkan dari guru yang membawanya. Ketika beliau ditanya tentang ahlak dan kepribadian Rasulullah s.a.w. beliau segera menjawab bahwa ahlak Rasulullah s.a.w. adalah Alqur-aan (Abu Dawud).. Apa yang diamalkan Rasulullah s.a.w adalah apa yang diajarkan oleh Alqur-aan. Pula apa yang diajarkan oleh Alqur-aan adalah tak lain selain yang diamalkan oleh Rasulullah s..a.w.

    PPSi / Mersela, 11 Juli 2009.
    http://dildaar80.wordpress.com/2009/11/05/usia-siti-aisyah-ketika-dinikahi-nabi-muhammad-s-a-w/

  2. Hadhrat Ayeshara was the third wife of the Holy Prophet Muhammadsaw and the daughter of Hadhrat Abu Bakrra and Hadhrat Zaynabra (Um Rumaan). She was young when she married the Holy Prophet, but her age was never an issue until it has recently become an issue for Islamophobicwriters. It is important to note that any Hadith which does not conform to
    the teachings of the Qur’an should be rejected for the obvious reasons that the Qur’an is the
    word of God and has been precisely preserved, whereas the Ahadith are collections of sayings of the Holy Prophetsaw recorded long after the Prophet’s death.

    Looking at truly authentic sources, the Holy Qur’an states: ‘And assess the orphans until they attain the age of marriage; then, if you find sound judgment in them, release their property to them.’ (Al Qur’an 4:7)
    Thus the Qur’an gives a clear definition of adulthood and marriageable age— when one has attained a good measure of mental maturity. As such, the property of the orphans must be handed over to them when they have
    mature intellect to properly manage it. So the Qur’an rejects the marriage of immature girls and boys as well as entrusting them with serious responsibilities.

    Hadhrat Ayeshara, when asked to describe the Prophet’s character, answered that his character was the Qur’an (Abu Dawud). What he did was what the Qur’an taught; what the Qur’an taught was nothing else than what he did. Thus, the Holy Prophetsaw could not have married a little immature child as it is against the teachings of the Holy Qur’an. Most historians agree with the following
    dates in the history of Islam:

    610 AD: Islam was founded when the
    Prophet received his first revelation
    615 AD: Muslims migrated to Abyssinia.
    621 AD: Hadhrat Ayeshara was engaged
    to the Prophet Muhammadsaw.
    625 AD: Hadhrat Ayeshara was married to
    the Prophet.

    The time before Islam is known as the time of ignorance. Tabari in his treatise on Islamic history, reports, “In the time of ignorance he [Abu Bakr] married Um Rumaan. … She bore him Abdul Rahman and Ayesha. All of his four children which are mentioned here were born during the time of ignorance.”1 There is a fifteen year period from the beginning of Islam to the marriage of the Prophet with Ayesha. If Ayesha was born before Islam, thus in the time of ignorance, then she was at least 15 years old at the time of her marriage.

    One hadith states that Ayesha said: “This revelation: ‘Nay, but the Hour is their appointed time (for their full recompense), and the Hour will be more grievous and more bitter’ (54:47) was revealed to Muhammad at Makkah while I was a playful girl.’”2 3 The general consensus is that Chapter 54 was revealed eight years before migration to Medina, indicating that it was revealed in 615 AD. If Ayesha was a young girl of even 4 or 5 in 615 AD when this chapter was revealed, she would have been 14 or 15 at the time of marriage. Similarly, Ibn Hajar, a famous historian, writes, “Fatima daughter of the Holy Prophetsaw was born at the time the Ka’bah was rebuilt, when the Prophet was 35 years old. … She was five years older than Ayeshara.”4 If this statement is factual, Ayeshara was born when the Prophet was 40. Thus, Ayesha would have been 15 when she married the Prophet.

    According to most historians, Asma, Ayesha’s elder sister was 10 years older than Ayeshara. It is narrated that Asma died at the ripe old age of 100 years, 73 years after the migration to Medina. Thus, Amsa would have been 27 at the time of the migration, and Ayeshara would have been 17. Under this explanation, Ayeshara would have been married at 19, two years after migration.5
    Interestingly, Ayeshara was engaged to Jubayr Ibn Mutim before the HolyProphet saw.

    According to Tabari, Ayesha’s father, before migrating to Abyssinia in 615 AD, tried to spare her the dangers and discomfort of the journey by solemnizing her marriage to her fiancé. However, the engagement was broken by the bridegroom’s father in fear of persecution because Abu Bakrra had accepted Islam. It is, therefore, reasonable to assume that if Ayeshara was
    ready to take the responsibility of a wife in 615 AD, she was definitely not a little child ten years later when she married theProphet.

    After the death of the Prophet’s first wife, Khaula came to the Prophet advising him to marry again. The Prophet asked her regarding the choices. She said, “You can marry a bikr or a thayyib.” When the Prophet asked the identity of the bikr shementioned Ayesha’s name. Bikr is used for a fully grown and mature virgin lady, not a child. Thayyib is used for a woman who has been divorced or widowed. This also illustrates that Hadhrat Ayeshara was not a little child at the time of her marriage. Thus, according to various accounts, Ayesha’s age at the time of her marriage to the Prophet was between 15 and 19. Fifteen hundred years ago there was no system of formal education for children spanning a period of a decade or two. As soon as children were able they would learn the trade of their father or household work from their mother, they were married.

    Ayesha’s marriage at a young and impressionable age and the mutual love and harmony of her marriage helped her idealize her husband and his teachings to such a degree that she became a perfect student and an ideal teacher for generations to come. She enjoyed a status in the society far greater than any first lady or queen. She was the mother of all the believers and was renowned for her intelligence, wisdom, learning and knowledge. Her unique status enabled her to narrate more than 2200 sayings of the Holy Prophet about all aspects of the religion.
    The accounts which describe Ayesha to be 9 at the time of her marriage can be
    traced to one person, Hisham Ibn Urwah. Hisham lived in Medina for the first 71 years of his life. His students included people like Malik Ibn Anas. Not a single person from Medina has corroborated this account. Hisham then migrated to Iraq. It is from there that we find these accounts in some books. Tehzeeb al-Tehzeeb, one of the most well known books on the life and reliability of the narrators of the traditions ascribed to the Holy Prophetsaw, reports that, “narratives reported by Hisham are reliable except those that are reported through the people of Iraq.” It further states that Malik Ibn Anas also objected on those narratives of Hisham which were reported through people of Iraq.6 Meezaan al-Aitidaal, another book on the narrators of the traditions of the Prophet reports that when he was old, Hisham’s memory suffered quite badly.7 Thus, it seems that Hisham’s memory had failed at that advanced age and he could not remember details.

    The people who take pity on Hadhrat Ayeshara should not forget that she took pride in being his wife. In fact, all the Prophet’s wives tried to surpass one another when it came to showing their love to him. It is related that before his demise, the Prophet told his wives that whoever has longer hands amongst them will meet him first in paradise. His wives took it literally and began to measure the length of their hands. The Prophet smiled and said that by long hands he meant the one who was more generous. Such was the standard of love, care and respect the Prophet’s wives had for him. At another time, after the demise of the Prophet, plain bread of finely ground wheat flour was presented to Hadhrat Ayeshara. Instead of eating the bread and enjoying its softness, she tearfully recalled that the Prophet all his life ate very hard bread made out of handmilled crushed wheat, and that, too, was often not enough to satiate his hunger. Hence she could not eat it out of grief. This is not the face of a forced marriage, but the memory and love of an affectionate and exemplary relationship.

    Endnotes
    1 Tareekh-e-Tabari Vol 1 Part-II, P-250.
    2 Sahih Bukhari. Vol.6 , book 60, hadith 399.
    3 http://www.usc.edu/schools/colleg
    e/crcc/engagement/resources/texts/muslim/
    hadith/bukhari/
    4 Ibn Hajar al-Asqalani, Vol 4, Pg 377.
    5 Ibn Kathir, Vol 8, Pg 371, Taqribu’l-tehzib,
    Ibn Hajar Al-Asqalani, Pg 654.
    6 Tehzeeb al-Tehzeeb Vol. 11, pg. 48 – 51.
    7 Meezaan al-Aitidaal. Vol. 4, pg. 301 – 302.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s