Live in Pangrango


-Persiapan-

Jangan kaget teman, judul cerita kali ini gak sekejam judul diatas. Just want to share how excited i am at Panggrango 1 week ago. Postingnya rada lama yah gue…? maklumlah foto2nya baru di copas kemaren dan diupload lewat FB juga kemaren…hehehehe (maklumlah diriku penganut mahzab narsisme) hahahaha😀.

Okey kita lanjut ceritanya. Sebenarnya rada males juga posting karena perasaan senengnya masih menggebu-gebu jadi rasanya kalo mosting tuh, gimana gituh rasanya…hehehehe. Tapi karena tadi pagi sempat baca cerita anak pecinta alam yang naik ke Rinjani. Jadi, pengen posting juga hehehehe🙂

Ceritanya 27 Mei kemaren kita ngadain pendakian Gunung Panggrango yang diketuain AKi / ACCU / Bintang kesiangan.

Nah, ituh pendakian___memakan korban eh? >>:’p[8926@#%&* eh peserta dengan jumlah 26 orang (kebayang banyaknya dah kayak anak semut). Nah anak semut ini memutuskan untuk memulai perjalanan dengan kereta AC ekonomi ke arah Bogor yang melanjutkan perjalanan dengan mencarter 2 mobil angkutan sampe Cibodas. Kebayang kan berapa banyak orang dan carel yang dipaksa masuk kedalam nih angkot??? hahahahaha..lowong bannya ajah hampir terbakar kok… (saking beratnya)

di KRL AC Ekonomi Bogor

lihatlah pemaksaan pada angkot yang lemah inih🙂

Okey selesai nostalgia dengan angkutannya..next…

Kita bermalam disebuah warung diCibodas untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya dengan pembagian 2 Tim. Yang pertama, tim tenda(tim yang harus nyampe paling awal dan ngebangun tenda dikandang badak) tim ini harus berbadan tangguh dan benar2 kuat. Tim kedua (tim peserta lain yang fisiknya biasa ajah + yang lemah) yang begitu nyampe tinggal nyiapin makanan dan istirahat. Dan untuk sweaping terdiri atas bang Nur dan Fajri

Ternyata pembagian tim tersebut tidak seperti yang kita bayangkan. Ternyata tim tenda yang berhasil masuk kandang badak hanya 1 orang dan disusul seorang jugak. Justru mereka semua kekejar sama tim 2. Ini dikarenakan carel2 yang dibawa tim 1 lumayan (bukan lumayan lagi) luar biasa besar, karena mengangkut banyak tenda dan logistik (yang utama).

-Panggrango here we come!-

Pagi kedua, kita bersiap2 menuju panggrango dengan beberapa keluh kesah. Pertama, nesting Fajri yang dipinjem bule (belum dibalikin) dan tuh bule dari subuh dah jalan ke panggrango sambil ninggalin tenda (faktanya, digunung tetap ada sopan santun, dilarang menjarah tenda sesama pendaki (walaupun barang lu ada didalam tendanya)). Kedua, packingan yang berjalan alot, ketiga banyak peserta yang nahan buang hajat  dari malamnya, gak tahan untuk ngeluarinnya sepenuh tenaga, so tau ndiri kalo panggilan alam dah dateng dipagi hari. Keempat, bebenah bekas makanan (sarapan pagi) dan banyak lagi deh (namanya juga 26 anak semut)

Akhirnya kita jalan juga menuju puncak harapan ituhhh (halah), dengan ngebagi semua menjadi beberapa tim (kalo gak salah ada 3/4 tim). Ini karena kita terlalu banyak dan akhirnya bikin peserta numpuk kalo lagi jalan, yang kemungkinan besar menyebabkan perjalanan menjadi 2x lebih lama dibandingkan seharusnya.

Cumannnn, teman2…seperti biasa…karena kita juga banyak yang gak sabar menuju mandalawangi, ada juga yang capek, ada yang sakit…akhirnya pembagian tim tersebut nggak sama sekali ngaruh. Kita semua terpencar menurut kondisi fisik masing2. Yang masih kuat yah udah nyampe paling depan…yang lemah yahh paling belakang.

Yang seru disini adalah kekuatan tim, kita sadar betul bahwa semangat tim akan mengalahkan rasa capek.

Makanya kita sering banget selingin becandaan supaya kita gak boring dan semangat lagi {disini gue mau bilang thx buat Agus (AGS-Anak gunung sejati)

yang walaupun selalu bikin gue jatuh dengan banyolannya tapi gue tetep semangat (tapi sampe saat ini gue pengen nombak tuh lesung pipit lu gus. wkwkwkwkwk), thx untuk Ari dan pasangannya si Ario Taen (lu pasangan homo terklasik sekaligus terlucu boiii)}___Fidzah (pacar ari)..sorry to say that…kidding zahhh🙂

Dan yang paling seru adalah berkenalan dengan pecinta alam2 yang lainnya. Yang mengalami penderitaan sama berat dengan kita. Disinilah kita tau arti sebuah ketulusan dan kebersamaan…

-Triangulasi & Mandalawangi-

HOREEEEEEEEEEE! kita teriak seseruan dipundak Panggrango sambil cengar-cengir dan foto2 narsis again-again disana. Rasanya puas banget setelah mendaki dan ngalamin banyak rintangan (baik jalan yang curam, licin dan bebatuan) jugak kelaperan… wahahahahahahahaha… (JANGAN MAIN-MAIN DENGAN ORANG KELAPERAN) karena itu menyebabkan orang malas menyahut bahkan menoleh (kayak segap waktu mendaki). Dan lihatlah cara makan para anak semut inih :

Thx to Mang Jana (Andi anak malam) yang sudah mau disuruh2 nanak nasi dan berhasil membuat api unggun yang dah dipanasin dari siang pas kita nyampe).

Rasanya puas dah bisa ngontrol diri sendiri sampe berada dipuncak(foto diatas)

Salah satu pengontrolannya adalah ketika mendaki dan melihat banyak pendaki yang sedang jalan turun..pertanyaan yang sering kita lontarkan adalah “Masih jauh yah mas?”. Dan dengan polosnya mereka akan menjawab “Nggak kok, 15 menit lagih…”

Tapi realitanya..ketika kita sudah jalan 20 menit, dan bertanya kembali sama pendaki yang turun, mereka akan menjawab “Dikit lagi mbak, gak nyampe 25 menit..”

sekitar 25 menitan lagi kita nanya lagi. Dan sipendaki ketiga bilang ” Yahh gak jauhlah, sekitar 30 menitan lagi..”

HAH???JADI SEBENARNYA BERAPA LAMA SIH MENUJU PANGGRANGO???

Dari sana, gue mengerti bahwa para pendaki ternyata bisa saja mengalami “TIDAK DAPAT MEMBACA WAKTU, ATAU HOBI MENGECOH ATAU HOBI MENJADI TUKANG HIBUR SEKALIGUS PEMBOHONG YANG ARIFhahahaha…just kidding. Tapi teman, hal2 seperti tadi bisa membuat orang/teman kita menjadi sinting.

Ini terbukti dengan seorang temen gue bernama Ridho yang ketika turun dari panggrango selalu menjawab “5 jam lagi baru lu nyampe panggrango!”  kepada pendaki2 yang akan naik pada saat si Ridho turun. Padahal, panggrango cuma tinggal 1 belokan lagi dari jarak sipendaki yang nanya ke dia. Gilee kan sintingnya temen gue. hahahaha :)). LOL.

Okey cerita berlanjut sampe diMandalawangi…Benar kata GIE, kabut tipis sering turun bersama harumnya bunga Edelweis yang menghampiri hidung saat kita sudah mendekati lembah yang satu ini.

Sejauh mata memadang..kita cuma bisa liat kabut. Tapi begitu kita dah buka tenda dan segala persiapan baik itu makanan dan tempat kita istirahat. Langit membukakan awan dan BEEEHHHH… Mandalawangi memperlihatkan kecantikannnya… gileeeeeeeeee… rasanya semuanya terbayarkan, apalagi kita berhasil membuat camp di lembah ini.

inilah salah satu keindahan yang terjadi dilembah mandalawangi

Gue ikutan nimbrung deh

Tambahan foto..foto berikut inih hanya gue dan benk-benk doank yang punya, dikarenakan kenarsisan kami berada di level maksimal, sehingga kami(tanpa peserta lainnya) nekat meninggalkan rombongan untuk mengabadikan moment berikut ini.

Gue : "Welcome my Freedom!"

Benk-benk : "This is 4 my HURA"

-Turun dengan sumringah-

Disini gue mau Bilang, Segaf dah gak emosi, karena percaya atau tidak percaya, Emosi segaf mengalir tergantung dengan jalan yang dilewatinya, semakin mendaki, semakin naik emosinya, dan semakin menurun, emosinya pun ikut menurun…wkwkwkwkwk :))

Dan Agus sianak gunung sejati, lesung pipitnya semakin nancep dengan  cantik dipipinya, itu tandanya dia sering senyum selama penurunan. hohoho.

Dan si Ario taen (salah satu teman gue jugak) dengan asiknya berani memalak pendaki lain. Dia malak rokok, teman…..gilee kan? dan bodohnya si pendaki (yang dipalak) ampe nyariin rokok buat temen gue inihhh haduhhh…Gak tau emang sipendaki punya kesetiakawanan sosial yang baik atau mang takut matemen gue…

Dan seruuunya adalah ketika semua orang membayangkan nasi padang, bakso, siomay bahkan Pizza Hut setelah turun dari panggrango…Nafsu mereka menggebu2 sampe2 turun dari gunung mereka dengan semangat 45 lari2 sambil terseok-seok kayak dikejar ma hantu blau….haduhhh

Yang pasti kita semua turun dengan sumringah…sambil makan nasi goreng diwarung tempat kita singgah waktu pertama naik sambil diiringi hujan rintik-rintik rimantis gimanaaaaaaaaaa getooohhh…hohohohohoho🙂

So, i miss that moment…dan tentu ajah orang-orangnya…next time kita naik lagihh yah kawan. Sekarang kalian dah bisa pasang gelar AGS (Anak Gunung Sejati) didepan nama kalian dibatu nisan hahahahahahah…kidding brot🙂

Ini foto kita bersama…

Dan terakhir adalah ketika kita tiba dikampus tercinta potret cantik dan apik tersebut berubah menjadi :

11 thoughts on “Live in Pangrango

  1. bete gw…
    kata na “SAHABAT” pas naek gunung gw gak d ajak…
    tp pas nyuci tenda gw d ajak…

    sahabat macam pa tuh…
    huff….

  2. Pingback: The trully challenge is The ATTITUDE « Spirito!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s