Kemarau(a*B***)


Tat tit tut tat tut…tuts telepon saya pencet selembut-lembutnya. 24434.  Berharap dengan begitu, DIA akan mengerti aku sedang mengambil hati. Tut tut tut tut…aku menutup telepon. Aku malu.

Akhirnya aku berbaring, sepertinya bantal gulingku memang nyaman untuk kupeluk dan menangis disana. Tak ada yang lebih hangat selain dia pada saat ini. Aku diam, sendiri dan menangis. Dia tak perlu dengar kata-kata visual yang keluar dari mulutku, dia hanya dengar kata hatiku dan berusaha tetap diam dan mendengar isakku yang tertahan.

***

Tat tit tut tat tut…tuts telepon saya pencet kembali. Aku tetap tak berani bicara. Kusentuh Kitab, kubaca sekuat-kuat hati, tangisku mengalir dan kuselesaikan tiga lembar. Malam itu larut sekali. Dan aku tahu DIA mendengar tangis itu dan mencoba mengerti aku.

***

Pagi ini aku terbangun. Kutulis secarik surat kilat lewat embun pagi___yang kau tahu, tak lama bertahan diranting-ranting kecil tanaman karena teriknya sinar mentari.

Kemarau.

Aku menangis lagi dalam hati, akalku tak berhenti, ku ingat janjiku setiap sore. Takkan kubiarkan kemarau menghantam kehidupan mereka. Ku aliri air pagi pada mereka sebanyak-banyaknya. Karena aku tau mereka menangis disetiap siang yang terik.

Kemarau.

Aku bernyanyi, seperti biasa setiap pagi. Aku berteriak, kubangkitkan semangat mereka untuk hidup. Merekalah hartaku, takkan kubiarkan terik mentari mematikan semangat mereka untuk hidup, untuk terus berbuah, untuk terus tumbuh. Walau kutahu tak perlu mengangkat telepon untuk mengundang DIA membantuku. Aku yakin DIA juga telah dihubungi mereka dengan nomor telepon yang lebih spesial.

Tiba-tiba Guntur berbunyi 3 kali. Aku berharap hujan. Tapi langit tak jua mendung. Dan aku tetap tau bahwa itu jawaban teleponku. DIA menjawabnya. Dan aku tetap percaya DIA ada, dan mengingatkanku untuk terus belajar dari kemarau.

***

Aku menggumam, melamun, dan tetap kembali pada rutinitas. Kutinggalkan semangatku pada mereka, dan aku mengumpulkan semangat baru.

Walau kemarau.

Hampir semua hal sedang berjalan tak semestinya. Walau begitu, tak perlulah aku meluapkan sisa-sisa kemarau ini. Biar saja angin sore membawanya ke musim hujan yang akan datang. Karena aku telah yakin, teleponku diangkat. Aku didengar dan aku dijawab.

***

2 thoughts on “Kemarau(a*B***)

  1. amin.
    orang yang slalu teguh dan sabar pasti dijawab doanya,
    apalagi kalo mintanya yang baik2, haha🙂

    matahari dan hujan keduanya sangat diperlukan. dan harus seimbang,
    alam tau apa yang mereka inginkan lebih dari yang kita ketahui.

    smoga lu berhasil dalam bercocok tanam ini,
    banyak mendapatkan hasil,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s