Nia


###

Nia berjalan gontai pagi itu, dimana langit berawan cerah, matahari bersinar damai. Tapi pagi itu adalah pagi yang menakutka baginya, seperti akan menghadapi malam pekat yang gelap dan tak aman baginya. Nia memeluk Gisha beberapa kali, ia memejamkan mata dipelukan terakhir seakan-akan begitu ia membuka mata, maka hari ini takkan dialaminya. Tapi tak ada perubahan. Ia tetap berdiri didepan apartemen Gisha di Kalibata dan sedang pamit untuk pulang kembali ke rutinitas kantor dan semua kehidupannnya.

Rasanya baru kemaren dia meninggalkan rumahnya selama 2 hari dengan alasan yang dibuat-buat. Yang hanya terpikir olehnya cuma ingin meninggalkan semua hal yang membuatnya penat, semua hal yang membuatnya merasa sakit. Tapi hari ini semua harus dihadapinya kembali. Walau ia takut akan pagi hari.

Nia berjalan tanpa menghadap ke belakang, ia tau ketika ia sekali saja menghadap belakang maka tangisnya akan membuncah dan lahar lukanya itu akan meledak tanpa tertahankan.

Nia tak tau jalan mana yang harus dijalaninya menuju kekantor, ia hanya ingat satu hal, anak-anak itu___murid-muridnya___manusia-manusia yang membutuhkannya____sedang menunggunya dikantor untuk menerima ilmu darinya.

Nia akhirnya memutuskan menaiki bis 3/4 jurusan rambutan.

###

Tatapan itu tersirat rasa kasihan dan pedih. Nia tak mengerti mengapa ia ditatap jutaan mata seperti itu. Dia hanya bisa menunduk malu dan sesegukan. Tangis itu akhirnya pecah di dalam bis 3/4 jurusan rambutan ini. Nia tak tahan lagi. Begitu seorang kernet berteriak

“PGC!!!PGC!!!PGC!!!”

Nia tak berpikir panjang untuk turun dari bis. Berlari kearah shelter busway. Tak ada yang ia tahu kecuali mencari tempat yang terasa aman baginya kecuali busway.

Ia berdiri lemas, serasa seluruh persendian kakinya sudah tak berfungsi.Dia takkan peduli jika akhirnya ia harus pingsan dihalte ini. Karena terakhir yang ia ingat, sudah 3 hari ini hidungnya tak juga menunjukkan tanda-tanda tidak akan mengaluarkan darah lagi. Mimisan.

Akhirnya dia kirimkan pesan singkat itu pada dua orang yang ia yakin mungkin akan membuatnya sedikit menguatkan diri.

Gue nangis di bis, gue malu semua orang menatap ke arah gue. Dan gue nggak ngerti harus ngapain karena gue nggak bisa ngentiin airmata nya. Dia ngalir gitu ajah.

Akhirnya salah satu dari penerima sms menelponnya. Mencoba menenangkan, memberikan semangat lagi.

“Pulang ajah yah,,,lu masih sakit dan nggak tenang. Tapi gue bingung juga, sumber senyum lu adalah murid-murid lu. Gak ada saran lain, berangkatlah kekantor. Berikan senyum pagi lo seperti biasa pada mereka. Ingatlah mimpi-mimpi itu sudah ada didepan mata, lo tinggal meraihnya. Senyumlah nia.”

“Gak bisa, bang. gue gak bisa. Gue takut pagi hari. Gue takut menghadapi semua.gue benci harus merasa bodoh kayak gini. ” hentak Nia.

Dengan lembut Ridwan berkata “Lu liburan yah?”

“Abang! gue dah berlibur, 2 hari ini gue berusaha ke bogor, gue gak kuat tapi gue paksain diri gue untuk tetap pergi sejauh-jauhnya, tapi??!!!gak ngaruh kan!!!gue tetep nangis.”

Sunyi sesaat.

“Gue benci untuk ngeliat kenyataan bahwa semua orang seneng nyakitin gue termasuk isi sms tadi pagi.” jelas Nia

“Sms apa?”

“Iya, ada cowok yang sms…’begitu lu positif buka pendaftaran tolong kabari gue!’ gue ngerasa jadi perempuan yang gak punya harga diri bang! kenapa mereka yang diluar sana semuanya egois, cuma mikirin perasaan mereka sendiri! gue cuma pengen sendiri saat ini bang. Tolong biarin gue nikmatin rasa sakitnya, rasa sakit atas semua kesalahan yang gue perbuat dengan menyayangi orang lain.” Nia kembali sesegukan

“Apa mereka gak mikir gimana perasaan gue!”  Suara Nia memudar menyiratkan rasa sakit itu. “Gue cuma gak mau nyakitin siapa-siapa. Biarlah takdir yang menentukan bagaimana akhir kisah gue. Gue lagi banyak masalah bang, lagi banyak hal yang harus gue pikirin. Gue cuma ingin menata kembali mimpi-mimpi gue yang setengahnya sudah hancur.” tegas Nia.

“Gue gak ngerti rahasia jodoh, tapi yang mesti semua orang tau. Rasa yang gue punya sejak 4 tahun ini masih sama. Gak ada yang berubah. Gue masih yakin, setiap orang akan mendapat ganjaran atas apa yang dilakukannya selama ini. Mungkin perasaan inilah yang salah. Gue terlalu yakin, dialah ujung dari semua pencarian. Dan gue sudah menyalib takdir yang ada. Mungkin TUHAN berkehendak lain.”
“Nia, Nia lu masih seperti dulu.”

Tangis itu sudah reda dan berganti senyuman. Guyonan Ridwan yang polos terdengar menenangkan Nia sepanjang 1 jam. Hingga ia tiba di Terminal Rambutan.

“Abang, hapenya lowbath. Gue nggak ngerti mesti gimana. Gue takut kalo telponnya mati dan gue harus nerima kalo sekarang gue sendiri.”

“Iyah, tenang yah…mudah-mudahan teleponnya gak mati.”

Nia mondar-mandir mencari bis yang akan mengantarnya ke Tanggerang pagi itu juga. Tapi bis itu tak juga ada yang membukakan pintu untuknya, seakan-akan berkata bahwa tak ada pintu yang akan membuka kepadanya pagi ini tak terkecuali bis. Nia meledak-ledak lagi ditengah handphonenya yang lowbath. Dia berlari mencari bis yang lain kearah belakang terminal. Tapi semua menutup.  Dunia takkan membuka pintu padanya.

Nia mengedor-ngedor pintu agra (bis merah tujuan cikarang-BSD) dan berteriak. Seorang kernet berteriak dari dalam

“Sudah penuh neng..! naik belakang ajah”

“Abang, tolong buka pintunya, saya mau masuk bang!” tangis itu meledak lagi. Apa tak adakah yang ingin menerimanya, bahkan bis merah ini. Satu bis itu melihat ke arahnya dengan tatapan yang ta biasa. Ada rasa kasihan dari tatapan mereka.

Nia mengikuti bis itu dari belakang sambil mengedor-ngedor.

“Bang, saya mau naik” tangis itu membuncah lagi.  Airmata itu kembali mengalir. Nia berjalan mengikuti bis sampai depan terminal. Dan dia diam. Dan handphone itu akhirnya mati. Nia sendiri.

Bahkan disaat-saat seperti ini, handphonenya pun tak bersahabat dengannya. Nia diam, menunduk dan kesepian. Dia mengutuk-ngutuk nasibnya. Separah inikah dunia padanya. Apa tak ada lagi yang ingin menerimanya.

###

Nia menatap satu-satu makhluk yang menunggu bis. Lamunan itu demikian panjang hingga ia tidak sadar, ia sudah berada didalam bis yang ditunggunya. Dia sudah duduk dikursi belakang dan menangis kembali. Drama tangis ini belum terhenti. Dan darah itu mengalir kembali dari hidungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s