Papandayan Sekali Lagi


Thanks GOD

Beberapa pencerahan saya dapatkan kembali lewat petunjuk-petunjuk yang tak terkira hingga aku dapat merasakan kembali dinginnya Papandayan dan sudut kedamaian.

***

Perlahan, perjalanan dari awal sumarecon serpong-citraland sampai tiba dikampus memang sedikit banyak membuat saya tegang. Kematian memang terasa dekat, ketika shuttle yang saya naiki harus tabrakan dua kali. Untungnya gak ada korban jiwa. he5.

Hingga tiba dikampus, saya dan teman-teman harus segera packing dan belanja keperluan selama 3 hari di papandayan. Sarden, mie, agar-agar, beras, coklat, snack coklat, tisu basah dan kopi berhasil kami himpit di dalam careel.

Dengan membawa 1 careel dan 2 tas ransel, kami berangkat menuju Stasiun Kota dan menyambung angkot di Pasar Minggu  menuju Pasar Rebo. Dengan uang pas-pasan kita cuma bisa “nego” sikernet untuk tiba di Garut dengan segera.

Whats a lucky trip…Thanx GOD

Tapi sungguh saya sebal dengan tukang jeruk yang benar-bena berjualan dengan tidak tahu diri selama di bis. Saya tidak ingin menceritakannya disini🙂

Papandayan Masih Seperti Yang ku kenal

Tiba di Garut sekitar pukul 3 subuh, kita terpaksa harus menghabiskan waktu di terminal sambil menunggu angkot menuju Cisurupan. Kami cuma bisa tidur-tiduran dan bersenda gurau sambil menahan gemerutuk gigi yang tidak kuat dingin.

nge punk

Begitu adzan subuh selesai dikumandangkan, kami bersiap menuju angkutan pertama menuju Cisurupan. Menyabung tidur yang tertunda, kita berusaha senyaman mungkin didalam mobil besar berbentuk mobil travel yang lumayan sempit. Berusaha menarik alam bawah sadar agar senyaman mungkin selama perjalanan.

Tapi entah kenapa ada seorang banci yang dengan lincah duduk didepan melakukan “…” kepada supir angkutan ini. Untung saya tidak lihat secara langsung, Tapi mendengar cerita dari teman saya yang berhasil dengan lancar melihat aksi tersebut, saya hanya tergelitik dan tertawa iba. Bagaimana bisa teman saya menikmati setiap adegan tanpa rasa bersalah terhadap “B…” si supir LOL.

Tiba di Cisurupan, kami ketemu “monyet” lainnya. Dalam keadaan mabuk, dia banyak bercerita tentang kerasnya pendakian dan betapa banyak masalah pribadinya. Hingga begitu dia mulai sadar, kami berangkat bersama menaiki mobil truck dengan ke 7 teman-temannya.

Pagi di Papandayan memang indah seperti biasa. Sambutan langit jingga beserta mentari yang merah menggelitik kalbu, mulai tersenyum di ufuk timur menyajikan suasana yang hangat ditengah-tengah himpitan tas dan tubuh kawan-kawanku ini. Dingin mulai menyerang. Saya dan kawan-kawan cuma bisa bercanda sambil berkenalan. Suasana meriah sepanjang jalan. Hingga kita berpisah ketika “monyet2(pendaki)” ini lebih dulu naik sebelum kita. Dan kita tetap berjanji bertemu di Salada.

Pendakian

Waktu menunjukkan pukul 8.30, kami telah bersiap menuju Papandayan. Semangat kami tak luruh karena dingin yang menusuk tulang.

Suasana hening yang damai menyeruak ditengah panas mentari ditambah angin yang dinginnya bukan main. Kami tetap berjalan dijalanan yang terjal kering dan beberapa lumpur. Hingga tiba di Salada.

Pendaki

Namun, Ada yang berubah di papandayan. Gepulan asap belerang yang dulu mendidih dan mengeluarkan asap yang besar-besar tidak lagi seperti dulu.

Sungai susu yang dulu membaggakan sudah berubah…

sungai susu

sungai susu yang hilang

Juga penghijauan yang menyenangkan.

penghijauan

Wangi Edelweis manusuk hidung dan menghadirkan suasana yang damai. Badan terasa agak gontai dan kelelahan kurang tidur. Tenda pun kami dirikan tepat dibawah rimbunan pohon. Sejenak kami rebahkan tubuh menyusul teman kami Benk-benk yang sudah lebih dulu berselimut dan lelap.

@ tenda

Gambar tersebut diambil ketika kami baru bangun tidur. Perut sudah lapar, dingin terus menusuk. Untunglah salah satu teman kami akhirnya sadar bahwa perut kami perlu dihangatkan sebelum “kentut” membahana di udara…

Masak

Berbekal sedikit pengetahuan memasak nasi di alam bebas, kita cuma punya mie rebus sebagai referensi utama dalam dunia perlaukan. So, kalian bisa bayangin betapa mirisnya nasib kita.

Malam di Papandayan

Sebelum matahari berganti bulan, kami serombongan berkeliling memantau dimana edelweis yang masih berkembang mesra. Satu-satunya hal yang ingin kami lakukan hanya menyesap bau edelweis yang mengaroma. Dan tak lupa memanjakan diri kami untuk berfoto ria..

menyesapi edelweis

no exploitation

 kawan,,, foto diatas bukan diambil hanya untuk narsis2an… ini adalah pesan,,, “Tolong biarkan Edelweisku hidup selamanya…” STOP exploitation terhadap edelweis pleaseee teman-teman yang mengaku penikmat dan pecinta alam🙂

Waktu masih terasa panjang, saatnya mencari kayu bakar. Kalian mungkin tau, walaupun Papandaya tidak setinggi gunung lainnya. Tapi dinginnya hingga 13 derajat Celcius. Its mean…kami harus segara mencari kayu bakar sebelum gelap menyerang.

mencari sejumput kayu bakar

Malam mulai menjelang, dingin menyeruak diantar bau teh panas, sarden dan nasi kurang matang. Kami tak punya jalan lain selain tetap berdiri kokoh makan hingga menghidupkan kayu bakar.

Menghangat

Api menjulang membakar tumpukan-tumpukan daun kering, kayu kecil hingga kayu besar hingga rasa hangat itu hadir disela-sela baju yang mulai berbau asap.

Api unggun

Hingga api pun melahap kayu hingga habis dan tak meninggalkan sisa hangat kecuali arang yang hampir mati baranya diterpa angin bercampur embun gunung.

Kami terpaksa masuk tenda dan tertidur dalam keadaan kedinginan. As you know…slepping beg kami tembus dingin pada saat itu.

Insiden berdarah

Jam 1 pagi, saya terbangun karena rasanya kandung kemih ingin pecah mengeluarkan cairan berbau pesing. Saya sudah tidak kuat malam itu, dan terpaksa membangunkan teman saya yang terlelap dan kedinginan.

“Ridho, do…” saya menggoyang-goyangkan tubuh Ridho teman saya, Benk-benk yang tidur disebelahnya terbangun. Dan ikut membangunkan teman saya itu.

“Gue mau pipis.” Ucap saya ketika dia terbangun.

“Kenapa gak ma benk-benk ajah mpok? yaudeh pipis disebelah tenda aje ye…” kami tau bahwa diantara kami cuma dia dan bogel yang paling berani menangkap malam di gunung seperti ini. Namun, bogel sedari maghrib sudah turun ke bawah untuk memastikan gelang yang sudah di pesannya untuk sepang kekasih yang menunggu di Jakarta. Dan Bogel tidak kembali. Kita tahu alasannya setelah pagi hari. Dan kalian bisa menebak disini, siapa yang paling berani diantara kami.

Saya dan Ridho tidak ada yang berani membuka tenda lebih dulu, karena kami tau diluar pasti dingin sekali dan kami juga sadar malam telah benar-benar pekat.

Akhirnya saya memberanikan diri membuka paling pertama dan meminta ridho menyenteri saya selama “kegiatan” itu berlangsung. Ridho mebalikkan badannya sambil menyenteri saya. dan tiba-tiba…

“Srakkk…srakk srakkk….” terdengar langkah kaki mendekat dari belakang saya, yang notabenenya hutan lebat dan jurang.

Ridho membalikkan badan kearah saya.. “Woi…gue belum kelar! ” Ridho membalikkan badannya kembali.

“Drap drap drap…” langkah tersebut mendekat dan berhenti…

“Mpok, ade yang dateng….” suara Ridho payau dan agak sedikit ketakutan. ikiran kami seketika mungkin sama. Papandayan hanya terkenal dengan dua hal “Babi, dan untilanak”. Kami terdiam dan saya tidak menyelesaikan “kegiatan” saya. saya cepat-cepat membersihkan dan segera masuk ke tenda.

Sampai ditenda tidak ada yang berani berkutik, kami yakin itu bukan babi atau pun pendaki. Karena babi berjalan dengan menyuruk-nyuruk dan jika itu pendaki, apa yang dia lakukan jam 1 pagi tanpa membawa senter dan di hutan lebat yang lengkap dengan jurang seperti itu???

Pagi di Papandayan

Pagi di Papandayan memang indah, semilir anginnya yang dingin, tenang dan damai memang gak akan kita temui di Jakarta.

Papandayan pagi hari

Rasa lelah dan beban yang berat seketika lenyap. Rasanya tak ingin pulang dan diam menekuri seluruh ciptaan-NYA yang indah ini.

Bogel juga akhirnya telah kembali, kami sedikit sumringah dan menceritakan kejadian malam hari. Kami rebahkan diri ditengah panas mentari mengapus embun-embun yang sempat lengket dikulit.

Saatnya pulang dengan berjuta Misteri

Banyak misteri yang tak bisa saya publish disini demi kebutuhan privasi. Namun, Papandayan memang meninggalkan sejuta misteri terutama sisi mistisnya. Tak peduli dengan itu semua, kita hanya ingin menikmati ke eksotisan papandayan. Mulai dari air terjun hingga air panasnya. Dan rutenya yang licin dan terjal dengan tepian jurang.

Tapi yang pasti kami memang beruntung karena kami bertemu saudara baru di papandayan. Thanks untuk para ranger yang sudah mengantarkan kami pulang kembali. Kami mungkin segelintir orang yang beruntung mendapatkan pelayanan seperti disana.

note : maap temans, saya kehilangan feelin nulisnya…sebenarnya tadinya panjang banget ceritanya tapi tiba-tiba internet gajebo dan semua hilang😦 mood jadi terbang😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s