Untuk si pecinta senja


Kita duduk dalam dua sudut berbeda,

aku duduk dihadapanmu dan kau duduk dihadapanku.

Kita saling menyesapi freeze green tea yang kita pesan bersama.

Kita duduk disebuah sudut, mencari pemahaman lain mengenai hidup.

Kau begitu bersemangat setelah berlarian mengejar jam tutup toko buku,

mencoba bernegosiasi dengan penjaga toko buku agar dapat membelikanku sebuah karya “Dee” terbaru

Kau tidak berhasil namun kau berhasil membelikanku kue tart yang kusuka.

Kau mencoba menghela setiap tetes airmata yang sempat menetes dengan senyuman,

Kau ingin aku berjanji tidak lagi menangis, karena kau bilang aku begitu kuat untuk menghadapi kejamnya sisi dunia.

Lalu kau bercerita mengenai anak-anak, mengenai tatanan kota Jakarta, mengenai rasa lapar dijalanan dan mengenai anak asuhmu.

Aku terpana tak menyangka.

Kau demikian nyata dihadapan.

Kau sesekali mengusap-usap kepalaku, berkata bahwa aku demikian baik untuk disakiti. Aku demikian baik untuk dimiliki.

lalu kau berkata…“kamulah yang saat ini bisa mengisi relung-relung hatimu yang kosong, aku sayang kamu”

tak ada makna yang berlebih, persahabatan ini telah dimulai.

Tak peduli kau bekerja sebagai apa, tak peduli orang menganggapmu apa, tak peduli kau se”bajingan” apa, tapi kau ada malam ini menemani aku ditengah hiruk pikuk hari raya yang mungkin biasa kau habiskan dan resapi sendiri. Hari ini ada aku…melengkapimu dengan kesendirianku pula.

Tapi kita merasa damai.

Kau membawaku kembali menikmati malam, di sebuah sudut yang tak akan dipedulikan orang lain. melihat bulan separuh bersama dinginnya malam. Akhirnya kau tahu mengapa aku mencintai malam.

Aku mengantarmu pada bis yang akan memisahkan kita. Kau diam, kau sedikit marah ditengah keanehan…”mengapa akhirnya kita dipertemukan” dalam waktu yang aneh dan lucu (kau sebut itu unik seperti diriku). Kau bertanya kapan kita bertemu lagi disela kesibukanku…aku diam dan akhirnya menjawab “one day” kau cemberut memaksa tersenyum lalu mengusap kepalaku sekali lagi. “Aku gak tau kenapa aku begitu sayang sama kamu” . Aku mengangguk. Kau mengelus kepalaku sekali lagi sambil berdiri menghampiri bismu yang akan berangkat “aku sayang kamu“.

Aku tersenyum.

9 thoughts on “Untuk si pecinta senja

  1. bulan sabit merah,irama gesekan daun bambu,senja,green tea frezze,sudut yang tak di di pedulikan orang serta “persahabatan”.. terima kasih untuk semua keajaiban..

  2. ketinggian y.. ga ah,biasa ja,, tp jujur semuanya terlalu ajaib buat aku.. yah,mungkin karena semuanya terjadi karena faktor “kebetulan”.. hahaha… deal..??!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s