Teruntuk kalian


Sekali lagi…saya terjebak pada hal yang berhubungan dengan “perasaan” ketika hal itu harus dituntut dari saya. Untuk memiliki saya.

Saya ingin tertawa ketika saya ingat suatu kesempatan ketika membahas kematian dengan seseorang. Ketika saya sempat bilang “Kalo ntr gue mati gimana?” dia cuma menyahut “Ya udah tinggal gue yasinin” dan akhirnya saya menimpali “Satu gak dapet, semua gak dapet yah?” ntah serius atau tidak dia menjawab ” gitu deh”.

Suatu ketika teman saya tersebut mengirimkan sms lagi kepada saya, yang isinya kurang lebih menuntut “siapakah yang akan saya pilih diantara sekian banyak hati yang menunggu” dia akhirnya menuntut kembali, menuntut rasa sakit itu, maka saya akhirnya berfikir ulang. Berfikir lebih keras, apa yang sebenarnya saya inginkan. Karena saya tau ini semua akan berujung kepada pertanyaan yang gak jauh dari “pernikahan” saya gak mampu menjawab lebih clear dan jelas apa yang saya inginkan (karena saya juga gak tahu apa sebenarnya yang ingin saya raih dari semua yang saya jalani ini).

Saya sudah memimpikan rahasia ini sebelumnya. Kemanakah ujung semua ini. Tapi saya masih kurang yakin, saya masih bingung apakah itu benar-benar petunjuk ataukah hanya keinginan alam bawah sadar saya (yang saya gak pernah ingin keluarkan atau akui). Dia beberapa kali muncul dan tak berbatas pada apapun, yang terpisah namun tak pernah berpisah, dan yang selalu ada tapi tak pernah ada.

Entahlah…saat ini tidak ada jawaban yang jelas. Saya cuma ingin perjelas bahwa saat ini saya tidak terikat pada hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan maupun pertunangan. Jadi, Saya juga gak berhak menolak kalian dengan alasan terikat sesuatu.

Tapi tolonglah, biarlah hati ini bergerak sendiri kearah yang dia mau. Jika pertemanan dengan saya membuat kalian sakit maka ingatkan saya untuk tidak pernah berbaik hati pada kalian, kita selesaikan pertemanan ini hingga semua normal kembali ke arah titik dimana tidak ada lagi perasaan itu untuk saya.

Seperti salah seorang teman berinisial “I” yang sekarang akhirnya telah menemukan calon istri yang baik untuknya setelah diskusi panjang dengan saya mengenai umur, anak dan masa depan. Meskipun jalan yang sekarang dia ambil berisiko, tapi saya yakin bahwa jalannya akan segera lurus. Maaf juga untuk teman berinisial “A” yang saya patahkan hatinya sedemikian kejam dan singkat disaat kamu justru memberikan sesuatu kepada saya____sebelum waktunya. Maaf sekali, cepatlah pulih dan yakinlah saya hanya ingin kamu baik-baik saja.

2 thoughts on “Teruntuk kalian

  1. Baru sempat baca blog eva & tertarik utk comment beberapa hal.
    Mengenai pembahasan ttg kematian, gue sama sekali ga berniat utk satu ga dpt semua ga dpt. Eva lebih berhak dpt yg lebih baik dari hal itu🙂
    Mengenai masalah sms, itu cuma cerminan dari kegalauan hati yg selalu berusaha ditekan, namun apa daya akhirnya muncul ke permukaan jg. Sama sekali tdk berniat utk menuntut, krn bagaimanapun keadaannya, pintu hati eva tdk akan terbuka utk gue. Gue hanya bisa berusaha mendapatkan secuil kebahagiaan dari semua interaksi kita. Dan alhamdulillah gue masih bisa mendapatkan itu. Itu udah merupakan anugerah
    terindah buat gue.
    Mengenai mimpi eva, jika emang itu udah sunatullah, gue cuma berharap gue diberikan ketabahan & keikhlasan hati jika saatnya terjadi. Dan itu bukan berarti gue ga bahagia. Insya Allah gue akan selalu bahagia selama eva bahagia.
    Gue selalu berusaha agar eva bisa menikmati proses saat ini & bergerak dgn sendirinya. Tapi kegalauan hati gue yg biasa eva bilang lebay memang lebih sering muncul akhir2 ini.
    Menurut gue pertemanan kita tdk akan pernah normal, krn gue yakin perasaan gue ke eva ga akan pernah menuju ke angka nol. Jd mau ga mau gue harus terima rasa “sakit” itu. Gue cuma bisa berusaha agar rasa “sakit” itu ga terlihat di mata eva. Gue berharap eva ga bosen2 utk nyadarin gue atau kalo perlu tampar gue biar gue bisa balik ke realita yg ada. Gue mohon jgn pernah utk nyuruh gue menjauh atau menghilang. Tolong ijinin gue agar gue bisa meraih secuil kebahagiaan dari “kebersamaan” kita.

    We can control the power of mind, but the power of love flows without our control till it meet the sea of life; either it will be happy ending or sad ending

  2. gue justru takut semakin banyak interaksi justru semakin banyak yang sakit…itulah kenapa selama ini, gue benar-benar membatasi komunikasi antara kita. Tapi baik lu ataupun gue pasti akan mengerti suatu saat apa yang akan terjadi didepannya,,,dan ada makna apa dibalik ini semua…sabar yah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s