Senyum Filemon


Sekali lagi saya kagum dengan salah seorang anak Papua di tempat saya mengajar. Sebelum saya bercerita ijinkan saya menyanyikan sebuah lagu untuk kalian para pembaca (walaupun kalian tidak mendengar suara saya__nantilah suatu saat saya akan merekamnya di youtube___hehe)

 “Hitam kulit, keriting rambut…aku Papua…Biar nanti langit terbelah aku papua…”

Hoho, biasanya saya selalu sangat bangga menyanyikan lagu ini diakhir-akhir perkuliahan, atau jika sedang meledek mereka (anak-anak Papua) untuk rajin belajar. Dan mereka biasanya juga akan larut menyanyikan lagu itu bersama saya, bahkan saking larutnya mereka sampai-sampai menghampiri saya dan memegang tangan saya erat (baik laki-laki atau perempuan), memejamkan mata dan mereka sangat bangga dengan lagu tersebut.

FilemonCerita berikut ini tentang Filemon, salah satu anak didik saya yang berasal dari Yalimo, Papua. Sepanjang ini, dia anak yang baik, sopan dan begitu bersahabat. Dia tidak pernah membuat keributan kecuali sering membuat saya kebingungan. hehe.

Setiap kali saya mengajar, dia selalu bertanya dan pertanyaannya tersebut, selalu berulang kali dan sama. Terkadang saya berfikir, sepertinya anak ini memang tidak paham “BAHASA” secara oral maupun tulisan, namun anak ini masih bisa berkomunikasi dengan saya. Dan yang saya paling kagumi dari semua tingkah lakunya adalah semangatnya untuk datang kuliah lebih awal daripada teman-temannya.

Jika diurutkan hal yang akan dia lakukan jika telah sampai di Labkom adalah:

Tersenyum, mengucap “Selamat siang…ibu cantikk…boleh saya belajarkah?”,  duduk, membuka laptop, membuka internet dan tersenyum dengan khas lalu berkata “ibu, bisa tolong ajar sayakah?”

Lalu saya akan mengajar dan tiba-tiba…dia akan terus bertanya banyak hal…hehehe. Saya akan menjawab meskipun pertanyaannya selalu sama “Ibu saya belum paham ini, ibu bisa ulang kembali-kah?” hohoho…saya terkadang akan merengut, akan sedikit emosi namun tetap sayang terhadap beliau ini. Berbeda dengan ketika saya bertanya terhadapnya, dia akan tersenyum, geleng-geleng dan tersenyum lagi. hoho.

Suatu ketika saya pernah bertanya di kelas Filemon “Su mengerti??” dia tersenyum “Ada yang tidak mengerti?” Dia tersenyum. Kelaspun hening…sepertinya semua mengerti, tapi tiba-tiba…. “Bu, saya bisa bertanya-kah?” gubraaakkk…saya akan tersenyum dan ingin ngejedutin kepala ditembok. hoho.

***

Beberapa hari lalu, ada pertemuan TIK, saya terpana tidak percaya kalau ternyata Filemon adalah salah satu anak yang memilih jurusan TIK. Saya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kearahnya. Dia dengan tulus berkata “Siang ibu guru cantik” saya tersenyum kembali.

Sepanjang pertemuan itu, Filemon sangat antusias terutama ketika pak Onno W. Purbo sedang berbicara didepan. Dia banyak menulis dibukunya. Saya tidak paham apa yang dia tulis hingga saya meminjam buku tulisnya. Tidak ada tulisan disana kecuali tulisan

Yally Wally   Amerika   USA   DREAM    ORPHAN

Saya sontak kaget melihat kata terakhir, dan langsung bertanya “Kamu tau artinya Orpan?” dia mengangguk dan tersenyum, “Tau ibu..yatim piatu” saya berkaca-kaca “Kamu yatim piatu?” dia menjawab “Iya ibu, saya tinggal di Papua dengan saudara” saya tidak berkata-kata “Oh…” saya melanjutkan membaca semua catatannya.

Ada PR matematika dan Ujian matematika disana dengan angka yang mencengangkan

85    90   100

Waw…tapi saya juga kaget dengan tulisannya berikut ini

 

Saya terharu, tak bisa berkata…dia cuma tersenyum dan bilang bahwa dia akan belajar lebih giat. Dan hari itu senyum saya merekah sama seperti senyum Filemon setiap melihat saya. Dia memegang tang saya, dan tersenyum lalu berkata

Ibu, saya mau belajar!

Dari sana, saya menemukan Filemon yang tidak biasanya…Senyum Filemon selama ini ternyata berarti banyak buat mimpi-mimpinya…Mudah-mudahan dia akan menjadi orang sukses dimasa depan. Aamiin

28 thoughts on “Senyum Filemon

  1. jadi ingat sama salah satu sahabat saya, semangatnya tak kalah dengan salah satu sahabat saya, dia seorang penjual kopi atau tepatnya tukang kopi di bilangan fatahillah..

  2. ouhhh luar biasaa Hun…
    tulisan pertama yang buat aji tersenyum sambil membayangkan tingkah lugu..
    dan berkaca2 meresapi kepolosan semangat luar biasa…

    greatt..

  3. What a great spirit…!!!
    Biar kata orang mengajar mereka seperti menulis di atas pasir, bahkan menulis di atas air; anak-anak seperti ini tetap berhak mendapatkan jalan menuju mimpinya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s