A Gift


A Gift

Minggu, 1 April 2012, wujud dari gambar disamping mulai hadir di kehidupan gue. Sebuah kalung yang sebenarnya sempat gue idam-idamkan akan dibelikan oleh bapak gue pada saat nantinya gue akan menikah.

Tapi hari itu, minggu itu juga, bapak gue nyuruh gue milih dari salah satu kalung emas 23 karat sebagai kenang-kenangan dirinya terhadap seluruh anak perempuannya yang notabenenya 3 orang.

Gue(anak pertama), anak ketiga dan anak keempat bokap gue, resmi memiliki kalung emas masing-masing satu. Kita bertiga terharu, dan berfikir yang macam-macam mengenai kalung itu.

Karena bapak gue orang yang sangat intovert sehingga terlalu banyak rahasia yang kami tidak tau (itu membuat kami takut beliau menyembunyikan sesuatu). Beliau tidak pernah banyak mengeluh dan seorang pekerja keras. Gue tau banget bagaimana kehidupannya dulu sebagai abang tertua dari  banyak saudara. Beliau berperawakan kecil namun selalu menghasilkan sesuatu yang besar. Dan beliau selalu terkesan galak dan menyeramkan, namun beliau penuh kasih. Satu hal yang gue tahu dari Bapak gue ini adalah beliau menyanyangi kami lebih dari yang kami tau. Jika ada seseorang yang paling aku banggakan didunia ini adalah beliau.

Kalian tidak perlu tau alasan mengapa demikian, tapi yang pasti satu-satunya lelaki yang pernah ada dikehidupan gue dengan kepribadian dan cita-cita, pengorbanan serta dukungan, kecerdasan dan ketidakberuntungan, Perjuangan dan kesusksesan ITU BAPAK gue.

Terpikirlah satu hal, jika suatu saat beliau tidak ada disamping kami, apa jadinya kami yang selama ini dilindunginya, dikasihinya, dibanggakannya dan selalu disanjungnya (tanpa suara). Entahlah…gue gak mau membayangkan hal itu. Tapi hari itu gue bertiga merasa sedih, haru bercampur dengan rasa takut kehilangan dan bahagia.

***

8 thoughts on “A Gift

    • makasie bi…orangnya juga bagus hehhehehe..gue doain deh muidah2an bonus lu banyak jd bisa beli kalung deh…atau gak cepet ketemu calon “…” jd dibeliin deh aamiin

    • semua ada jalannya masing-masing lah.
      ga usah merasa kecil hati dan sibuk mengasihani diri sendiri. syukurin aja apa yang kita punya.
      kalo kita sibuk fokus sama yang ga kita milikin, kapan hidupnya?
      btw, saya juga ga punya bapak. trus kenapa? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s