Pura Jagatkarta-Jadilah Matahari untuk hidupmu sebelum ingin menyinari orang lain


Sebelumnya mau bilang makasie buat yang nulis diblog ini yang udah ngasih inspirasi buat pergi di Sabtu ini. Makasie juga buat info-info dari blog ini (profil si anak angin) yang akhirnya membawa saya bertemu seorang pendeta di Pura Jagatkarta. Dan have fun buat sebagian teman-teman galuers saya (Randy dan Tria) yang sedang berlibur ke pulau seribu. Maaf benar-benar tidak bisa ikut kali ini ^_^ guys…

Pura Jagatkarta yang berdiri megah di kaki gunung salak, adalah sebuah Pura yang manyajikan keindahan layaknya yang sering kita liat di Bali. Bahkan kebanyakan dari umat yang berdoa disini juga menggunakan bahasa Bali lho, jadi makin berasa di Bali.

Pada saat masuk ke Pura ini, kita akan diminta memakai Sebuah tali atau selendang, yang akhirnya saya tahu filosofi atau sastranya ketika bertemu pendeta pada saat saya pulang. Bahwa ketika kita masuk ke tempat ibadah, maka seluruh hal-hal buruk sebaiknya kita ikat agar tidak memenodai tujuan kita ketmpat ibadah (kurang lebih).

Perhatikan selendang yang saya gunakan

Pure ini bisa dimasukin UMUM termasuk saya yang menggunakan jilbab, asalkan tidak masuk ke dalam pelataran dibalik bangunan dibelakang saya. Tapi kita bisa kok melihat-lihat dari balik pintu bangunan. Kurang lebih tampilannnya seperti beirkut ini :

Pelataran untuk berdo’a

Yang pasti, pada saat kesana jagalah suara agar tidak berisik, jangan lupa buka sandal pada tangga yang sudah ditandai agar tidak dilewati sandal kita. Jika kita sedang berhalangan (bagi perempuan) sebaiknya tdak masuk ke wilayah pura. Dengan begini kita akan dapat menikmati pemandangan seperti berikut ini (dari awal sampai akhir).

Pertama adalah cawan yang berisi air. Air ini biasa dicipratkan kearah muka oleh umat yang beribadah.

Cawan air

Inilah isi cawan air tersebut

Isi cawan

Lalu di sebelah kiri dari cawan ini ada sebuah patung Ganesha (yang beruntungnya saya, saya sempat melihat ada yang berdo’a disana)

Berdo’a

Dari sana kita akan melihat pemandangan sepert berikut ini :

Kayak Prambanan

Bangunan Untuk berdoa lainnya

Dan yang paling sering akan kita lihat adalah “sesajen”

Sesajen

Mungkin beberapa teman berfikir sama seperti saya yang pertama kali melihat sesajen ini dan langsung akan berkata “Kenapa batu saja diberi sesajen?itu kan artinya kita nyembah batu?”

Tapi, pada saat saya bertemu pendeta disana. Dia menceritakan banyak hal yang mungkin akan meruntuhkan semua pikiran itu. Sebelum saya menerangkan obrolan saya dengan beliau. Sebelumnya saya minta kedewasaan teman-teman untuk melihat sisi positif dari semua atas keberagaman agama kita semua di Indonesia. Pada dasarnya Kita semua bersatu padu dalam Kebhinekaan Indonesia. Jadi saya mohon tinggalkan dulu atribut kita semua untuk melihat semua sisi dari cerita saya berikut ini.

Pertama mengenai “Sesajen”, pendeta dari Pura tersebut menjelaskan kepada saya bahwa sebenarnya “Sesajen” tersebut bukanlah untuk menyembah Batu, pohon atau lainnya. Tapi menurut pendeta. Alam ini telah memberikan segala sesuatu buat kita, TAPI PERNAHKAH KITA BERTERIMAKASIH KEPADA MEREKA? bahkan pernahkan kita berterimakasih pada hidung kita yang merupakan tonggak hidup kita? Itulah “Sesajen”, itulah “Ungkapan terimakasih” kita kepada mereka. Jadi mereka bukanlah menyembah segala sesuatu dengan “sesajen”.

Banyak hal menarik yang saya dengar dari pendeta Pura ini. Nasehatnya mungkin berdasarkan apa yang beliau baca pada pikiran kita, tapi bagi saya apapun bentuknya semua hal yang beliau katakan merupakan hal baik yang juga diajarkan disemua agama. Seperti :

“Berpikirlah positif dalam setiap tindakan. Buat apa kita berfikir negatif. Karena berpikir negatif itu membuat kita merasa hidup ditepian jurang. TIDAK TENANG

“Jadilah Matahari untuk diri sendiri sebelum kita akan menyinari dan menjadi Matahari untuk hidup orang lain”

“Apa yang perlu kita takutkan dalam hidup?Rejeki?Jodoh?Kekayaan? untuk apa semua itu kita takutkan? TUHAN telah memberikan garis baik pada kehidupan kita semua.”

“Iri, dengki hanya akan membuat hidup kita tidak tenang. TUHAN telah menuliskan takdir baiknya pada kita semua. Lalu untuk apa kita iri pada orang lain?Padahal kita telah diberikan anugrah yang tak terhitung tapi kita tidak pernah bersyukur atas anugrah tersebut.”

“Jalani hidup dengan lakoni karena hidup kita ini memang hanya untuk dijalani bukan dikeluhkan tapi disyukuri. Maka hidup kita akan terasa nikmat.”

“Apa sih tujuan kita dalam hidup? tentu saja KEMATIAN bukan? sama seperti kita kuliah…tentu tujuan kita adalah WISUDA. Maka nikmatilah kehidupanmu, lakukan kebaikan.”

“Mengapa seluruh kehidupan kita di orientasikan pada Surga dan Neraka? apakah kita pernah melihat tempat tersebut? Surga dan neraka itu adalah… Surga yaitu mati tanpa menyusahkan orang lain, sedangkan neraka adalah mati dengan menyusahkan orang lain. Sisanya berkehidupanlah dengan jalan yang baik, lakukan kebaikan pada diri, saudara bahkan seluruh umat. Itulah yang terbaik.”

dan banyak hal lain yang beliau bagikan kepada saya… namun saya suka sekali dengan quote beliau Jadilah Matahari untuk diri sendiri sebelum kita akan menyinari dan menjadi Matahari untuk hidup orang lain”

Yang pasti, saya merasa semuanya nyaman dan tenang selama disana. Kami yang berbeda agama, begitu banyak berbagi tanpa menyinggung agama kami masing-masing. Itulah kebahagiaan, KETIKA KITA YANG BERBEDA DAPAT SALING MENGHARGAI SATU SAMA LAIN. Saya senang bertemu beliau. ^_^Begitu juga yang saya inginkan dari pembaca… lihat dari positifnya dan lepaskan dulu atribut kita dalam menanggapi tulisan saya kali ini. Terima Kasih

SELAMAT BERLIBUR, KEEP IT CLEAN!

14 thoughts on “Pura Jagatkarta-Jadilah Matahari untuk hidupmu sebelum ingin menyinari orang lain

  1. wah.. saya sekali saja kesana waktu pentas budaya.
    pengen lagi sembahyang disana.
    makasi mbak uwda upload fotonya. mau tak sive yak.
    salam sahabat mbak…

    • sive?save yah maksudnya? yang mana yang mau disave?fotoku? #lho wkwkkwkw hehehhe km ibadah disana yah? wahh keren banget…🙂 sayang pas aku kesana bukan km yang ibadah…klao gk objek kameraku pasti km tuh arie🙂

    • belum mas putu…soalnya pas kesana itu hujan gede..akhirnya saya ngbrol2 deh sama pendeta..pas hujan berhenti, eh warungnya tutup hehehe… btw mas putu sering sembahyang disana yah?

  2. Keren banget tempatnya. Di kaki gunung Salak sebelah mana tuh? Kasih tau jalurnya dong. Thx

  3. Saya suka bacanya…tempatnya juga bagus dan terlihat damai. Jadi inget temen saya seorang Hindu juga yang selalu mengingatkan saya tuk berpikiran positif dalam setiap tindakan. btw, salam kenal mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s