Komitmen dengan si Invisible


“Kita itu aneh…” katamu.

“Kenapa?”aku bingung setengah mati.

“Selama hampir lima tahun aku nunggu kamu, kita gak pernah jadian.” jelasmu tanpa ragu.

“Lha…itu mah kamunya ngarep.”

“Iyah sih…” nada suaramu berubah. “Kita itu aneh lho…” kamu memecahkan keheningan yang tiba-tiba tercipta.

“Kenapa lagi sih?”aku merajuk.

“Hampir lima tahun aku menunggu kamu, kita gak pernah jadian…tapi kita sudah putus 3 kali.”

“Hahahahahahaha…”aku tergelak malu. “Iyah, yah…aku baru ngeh kalo ternyata kita aneh…”

Tapi nada suara kamu parau, seperti menyimpan sesuatu…

“Kamu selalu punya komitmen…terhadap temanmu, pacarmu, mantan calon suamimu bahkan kepada keluargamu pun…kamu membuat sebuah komitmen. Tapi aku, aku si invisible ini…tidak pernah menikmati komitmen sedikitpun denganmu…”

Aku tau ada nada kecewa disana…aku cuma diam semenit.

“Kita jadian yuk…”

“Bisa diulang?aku nggak denger?”

Aku percaya bahwa kamu memang tidak mendengarnya, suaraku memendam tanpa aku atur. Seakan malu dia terdengar dan aku tau itu hanya jadi bisikan yang mengalir ke telepon genggam yang kamu pegang.

“I Love you…” suaraku parau dan bertahan dalam kondisi berbisik.

“Aku gak mimpi, kan?”

“Kenapa harus aku yang nembak sih?aku kan cewek…dan gak pernah ada di kamusku buat nembak cowok! ahhh dunia kebalik…aku kena karma.” teriakku tak percaya.

“Kamu kemana saja hampir 5 tahun ini…aku sudah berapa kali minta kamu membuka hati untukku. Tapi gak pernah ada kata ‘diterima’. ” suaramu terdengar lebih riang. “Kamu mau jadi pacar aku?”

“Gak mau…masa’ nembak aku, kayak nembak anak SMA?!”

“Ok, kamu mau gak jadi istri-ku?” nadamu lebih jantan.

“Itu mah terlalu dewasa!” aku masih tidak terima. “Kita jadian ajah yah…”

Hari itu kita resmi berpacaran layak anak ABG. Bedanya, kau dan aku tidak pernah berhenti untuk bilang ‘I Love You, Aku Sayang Kamu, Kangen Kamu, Aku sayaaaaang banget sama kamu, i wanna be your woman, i wanna be your man, i wanna be your wife, i wanna be your husband.’ hampir disetiap 5 menit percakapan kita. Sepertinya kita mengurangi sifat dewasa yang seharusnya kita punya melebihi sifat anak ABG.

Mulai hari itu, kita punya Komitmen. Komitmen untuk berjuang bersama, menabung bersama, selalu berdiskusi bersama, selalu mengutarakan isi hati, dan selalu menyeimbangkan emosi serta perasaan masing-masing.

“Aku tau kalau kamu dominan dan butuh lelaki yang lebih dominan serta dapat menimpali kamu. Tapi aku gak mau begitu…mulai hari ini, aku ingin kita saling melengkapi…kita berdua berhak dominan dalam perbedaan kita masing-masing. Karena aku ingin hubungan ini seperti magnet, yang saling tarik menarik karena perbedaan kutub-kutubnya.” terang kamu tanpa jeda.

Mulai hari itu jugalah tanpa kita sadar, terjadi komitmen baru. Bahwa setiap kamu menelponku atau aku yang menelponmu, kita tidak akan berhenti untuk saling berkata betapa kita saling menyayangi satu sama lainnya. Aku suka komitmen kita ini, Invisible 

-Grayrose’s Cerpen-

5 thoughts on “Komitmen dengan si Invisible

  1. Pingback: Sebuah Pernikahan ala Batak | Spirito!!!

  2. Huwaaaa.. lama tak baca2.. kata2 invisible luar biasaaa….. smo dikopas utk di path. 14maret its my birthday,, haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s