Isyarat


Kau adalah sebuah isyarat,

layaknya rangkulan tangan yang hebat,

dimana aku kalah untuk tidak melukis satupun kecuali sebuah isyarat.

 

Dulu, kau pernah bilang ‘Kita memang tidak pernah tau, bagaimana ini berjalan.’

Tapi kau akan selalu mengendarai angin yang membawa kita,

kemanapun, kapanpun dan dimanapun.

Sedang aku sibuk mengukir isyarat.
Di Bahumu.

Kadang tepat ditengah, kadang di lengan kananmu.

Meski kau terkadang sibuk, lengah atas isyaratku.

Tapi terkadang kau mengerti, kau menepuk kakiku.

Aku tau kau sedang membalas,

hingga sayup aku mendengar kata-kata maut itu.

Dan kau selalu tau bagaimana membuat wajahku bersemu.

Akhirnya, aku mengerti apa makna kata-katamu dulu.

Ketika pada saatnya aku berhenti melukis isyarat.

Kau diam, dan aku juga diam.

Kita berpikir, ada emosi yang tak teredam disana.

Hingga, untuk pertama kalinya,

kau melukiskan sebuah isyarat  yang ku tapih tanpa kusadari.

Kau menepuk kakiku berkali-kali,

aku tak membalas.

Kau diam, tapi terus mencoba.

Akhirnya aku sadar isyaratmu.

1 simbol dan satu huruf.

Yang biasa ku isyaratkan dibahumu.

Seketika aku ingat,

kamu pernah bilang

“Kamulah isyarat yang sudah dikirimkan TUHAN padaku,

dan aku tak mau yang lainnya, kecuali kamu.”

 Aku menepuk bahumu, memelukmu

dan emosi redam disana.

Aku lupa, dan tak ada hal lain kecuali isyarat dari jemariku dibahumu.

7 thoughts on “Isyarat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s