Si Buta yang membantu melihat


Alhamdulillah…sampai di detik ini ALLOH selalu membukakan petunjukNYA lewat hal-hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Seperti pertemuan yang terjadi antara saya dan mbak Wati kemarin di bis 117. Subhanallah, mbak Wati telah membawa saya larut dengan hal-hal yang beliau ceritakan pada saya.

***

Mbak Wati adalah seorang Tuna Netra, teman. Dia meraba-raba untuk duduk disebelah saya…awalnya saya tidak mau memberikan tempat duduk disebelah saya, karena terlalu nyaman. Tapi begitu melihat kedua matanya tertutup, saya akhirnya memberikannya jalan untuk duduk disebelah saya.

Kami memulai pembicaraan kami saat bis terdengar agak gaduh oleh kernet dan supir bis yang berbicara keras-keras dengan logat sunda yang kental. Saya menengok kebalik kursi dihadapan saya (berharap mereka akan mengecilkan suaranya). Tapi nihil, usaha saya tak berhasil.

“Berisik kayak pasar yah…” sapa mbak Wati dengan lembut. Seketika penilaian saya bahwa beliau ‘tidak bisa melihat’, berubah. Dia pasti melihat reaksi saya tadi, pikir saya.

“Iyah, yah mbak. Oh ya, mbak mau turun dimana?” Saya masih ingin mengkroscek penglihatannya.

“Jatinegara, mbak. Mbak turun dimana?”tanyanya lebih ramah.

“Aku mau turun di Veteran, mbak”

Lalu terjadilah dialog yang lainnya, karena saya masih penasaran mengenai beliau. Saya bertanya mengenai pekerjaannya, apa saja yang dia kerjakan, kerja dimana, sudah berapa tahun bekerja, apakah dia bosan dengan pekerjaannya dan sederet pertanyaan ‘penasaran’ lainnya. Tapi, satu hal yang tidak berani saya tanyakan adalah mengenai “matanya”.

***

Telpon mbak Wati beberapa kali berdering, tapi dia mematikannya karena keasikan ngobrol dengan saya. Hingga selularnya yang lain berdering, sepertinya seluler itu sangat privat sehingga dia mengangkatnya.

“Halo, iyah…kamu udah?aku belum….yaudah aku sekarang yah…assalamu’alaikum”

mbak Wati meraba-raba kantong tasnya dan mengambil kacang atom yang tinggal 1/4 bagiannya.

“Maaf aku gak nawarin yah mbak…tinggal sedikit, aku malu nawarinnya”

“Mbak puasa?”tanyaku masih penasaran. Sesuai dugaan, telpon diseberang sana mengingatkannya untuk berbuka puasa…dan saya salut.

“Saya mengganti puasa, mbak. Banyak yang batal…hehehehhe.”

Saya hampir menitikkan airmata entah karena alasan apa. Yang pasti, saya masih menahan untuk tidak bertanya mengenai matanya. Hingga akhirnya event yang saya tunggu-tunggu datang juga.

Suara gemerincing uang logam sudah menandakan kami harus menyiapkan ongkos kami. Dan mbak Wati mengeluarkan satu lembar uang Rp10.000 dan satu koin Rp1000. Dan dia bertanya.

“Mbak, ini sepuluh ribu kan yah?”tanyanya sambil menyodorkan uang kertas tersebut.

“Iyah, mbak. Mmmbak,….gak bisa….”suara saya terpatah disana.

“Iyah mbak sedari kecil karena panas badan terlalu tinggi, jadi begini deh.” jawabnya ramah.

Perbincangan kami teruskan. Hingga akhirnya saya sudah mendapatkan jawaban atas pertannyaan-pertanyaan saya selanjutnya. Bahwa mbak Wati bersekolah SLB dari SD-SMP, sedangkan SMA dan kuliahnya dilanjutkan pada sekolah umum, dia berjurusan Psikologi, pernah menjadi guru BP, dan sekarang menjabat sebagai HRD pada perusahaan yang bergerak pada bidang Kimia.

Dan satu hal lagi adalah bahwa selama dia bekerja, dia menggunakan 2 program yang membantunya dalam berkomunikasi dan menggunakan komputer. Yang pertama yaitu JAWS  dan TALKS . Bahkan dia mencontohkan bagaimana aplikasi tersebut bekerja, kepada saya.

“Mbak keren banget. saya saja yang bisa melihat, tidak tahu mengenai dua aplikasi ini. tapi mbak malah membukakan pengetahuan kepada saya.”

Dia hanya tersenyum dan berkata “Saya biasa saja mbak.”

***

“Mbak pernah merasa putus asa?”

“Karena kuliah pernah..tapi kalo karena ‘mata’ gak pernah.”jawabnya sambil tertawa kecil.

“Waktu SMA dan kuliah, sistem belajar mbak gimana?gimana cara mbak memperhatikan guru dan dosen?”

“Saya menulis catatan sama seperti teman-teman, saya coba cari buku yang ada tulisan Braille nya. Saya berdiskusi sama teman. Semua normal kok. Cuma kalo ujian, saya difasilitasi dengan teman yang ditunjuk guru atau dosen untuk mengerjakannya secara lisan. Jadi, teman saya baca soal, saya jawab secara lisan dan teman menuliskan jawabannya dikertas jawaban. Mereka baik-baik yah.” jawabnya rinci.

“Trus tadi, pas mbak naik bis gimana?trus nanti turunnya gimana”

“Saya sudah punya tukang ojek langganan mbak…dia yang stoppin bisnya. Kalo turun, nanti saya tinggal tanya orang disamping saya.”

“Mbak Wati, saya sebenarnya tadi ragu…karena sepertinya mbak Wati bisa melihat…karena pas saya respon sama supir dan kernet yang berisik tadi, mbak Wati ikut komen. Makanya tadi saya gak berani nanya-nanya…hehehehe”jelas saya.

“Gak papa mbak…”jawabnya sambil menyunggingkan senyum jenaka.

“Seriusan, mbak keren banget. Mungkin kalau saya jadi mbak, saya sering menangis dan putus asa.”mata saya sudah berkaca-kaca. Saya ingat bagaimana saya yang bisa melihat, terkadang tidak bisa melihat solusi untuk semua masalah saya. Bahkan saya sering ketakutan dan tidak percaya diri untuk beberapa hal.

“Saya harus turun mbak wati, makasie yah…mudah-mudahan kita akan ketemu lagi.”

“Sama-sama mbak Eva.”

***

Saya belajar banyak dari beliau…semoga pembaca juga dapat menangkap pelajaran yang saya tangkap yah…

-Eva-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s