Sebuah Pernikahan ala Batak


Alhamdulillah sudah ada sejarah baru lagi dalam hidup saya. Dimana cita-cita menikah diumur 25 Tahun bisa terkabul di tahun ini. Mudah-mudahan Dia yang saya pilih adalah jodoh saya sehidup semati dan dapat menjadi imam seumur hidup saya. aamiin.

Inilah runutan sejarah kami berdua dalam menjalani pernikahan ala Batak.

-Komitmen dengan Invisible 14 Maret 2013-

14 Maret adalah tanggal yang tidak sengaja terjadi sebagai hari komitmen pertama kami. Kalian dapat membaca kisahnya disini . Sejak saat itulah puisi-puisi kerap hadir di blog ini dalam menggambarkan sosok Invisible ini. Sosok yang benar-benar invisible dalam cerita-cerita saya di blog.

Sosok inilah yang selama ini tidak pernah saya ceritakan di blog secara gamblang (untuk sebuah alasan). Tetapi benar-benar saru. Tak pernah ada yang tau mengenai kapan saya menceritakannya, kecuali sosok ini sendiri. Itu saya sadari setelah dia menunjukkan hasil printscreen story postingan pada saya.

5 tahun, sosok ini menunggu saya untuk berkomitmen bersama. Dan inilah hari yang dia tunggu-tunggu. Hari dimana akhirnnya saya luluh dan ingin berkomitmen dengan sosok invisible ini.

-Lamaran 28 Juli 2013-

Lamaran

Lamaran

Tanggal 28 Juli 2013 adalah tanggal yang dipilih untuk melamar bersama keluarganya setelah sebelumnya dia melamar saya seorang diri.

Keluarga saya, keluarganya, para sahabat dan para tetangga berkumpul untuk menyaksikan dimana dia meminta ijin kepada ayah untuk segera menikahi saya. Sedang saya harus menunggu di balik Tirai untuk diberikan pertanyaan “apakah saya ingin menikah dengannya’.

28

Setelah saya mengiyakan. Dia akhirnya menentukan kapan tanggal pernikahan itu pada ayah saya. Dan ketika ayah saya telah mengiyakan, Mahar pun diserahkan kepada saya lewat kakak perempuannya beserta hantaran…prosesi ini mengikuti adat batak.

Sedangkan untuk mengikuti adat calon suami saya yang bersuku jawa. Hantaran suami saya yang berupa Kue tart, haruslah dibagikan kepada tetangga sebagai “kue ngomong” atau sebagai pemberitahuan pada tetangga bahwa saya telah di khitbah seorang lelaki pilihan saya.

Mahar

Mahar

-Ijin menikah ala Batak-

Tepat seminggu setelah lamaran, saya harus mengikuti adat sebagai seorang batak untuk meminta ijin kepada saudara-saudara dikampung untuk menikah. Saat itu, saya harus meminta ijin kepada seluruh keluarga dari ayah (bou, mangboru, uda, naguda) maupun ibu saya (opung, tulang dan nantulang), bahkan kepada pariban. Dan disanalah ayah saya menyerahkan uang perijinan kepada tulang-tulang. Uang inilah yang nantinya akan diganti sebagai seserahan atau pemberian dari tulang-tulang saya sebagai hadiah pernikahan.

Ijin menikah

Ijin menikah pada Tulang

Semua saudara bahkan tetangga memberikan hadiah pada saya (sebagai mempelai) baik berupa kain adat, kain sarung maupun kain gendongan, setelah saya meminta ijin. Mereka semua baik sekali.

Bahkan Opung yang notabenenya adalah ibu dari ibu saya (satu-satunya nenek yang saat ini saya punya) pun memberikan hadiah terindah  sebagai ungkapan rasa sayangnya pada cucunya yang akan menikah. Sebuah anting berbatukan intan dan sebuah cincin emas.

Semua hadiah ini memiliki arti filosofi pada adat batak. Kain melambangkan ulos dalam adat (mamulakan tondi). Mengingat pelajaran antropologi dulu, seingat saya adat ini fungsinya adalah memulangkan nyawa seorang anak agar tetap berada di raganya. Yang tujuannya agar si anak tidak lagi merasa sedih dan kacau, tapi akan bahagia dan dewasa.

Sedangkan Emas melambangkan kejayaan dan rasa kasih sayang sekaligus sebagai bekal awal mempelai dalam mengarungi rumah tangga.

Pemberian Opung

Pemberian Opung

Sebelumnya saya juga telah mengenakan sebuah cincin yang diberikan oleh ayah pada semua anak perempuannya. Cincin ini melambangkan bahwa masih ada ayah dan adik laki-laki yang melindungi saya dalam kehidupan sebagai gadis.

Cincin inilah yang nantinya akan digantikan oleh cincin dari suami. Sebagai penjaga dan pelindung baru saya, dalam kehidupan. Dan begitu pula harapan saya, bahwa mudah-mudahan suami sayalah yang kelak menjadi penjaga kehidupan saya sampai maut memisahkan. aamiin.

Betapa berharganya perempuan di suku saya yang notabenenya Patrilineal. Ini terlihat pada perlakuan yang baik dari keluarga kepada saya. Berbeda dengan apa yang ada dipikiran masyarakat pada umumnya. Saya pernah mendengar bahwa jika perempuan batak meikah dengan selain sukunya, maka dia akan diusir, itu tidak benar sama sekali. Karena saya menikah dengan lelaki bersuku jawa, dan dia diperlakukan sangat terhormat dikeluarga saya.

Cincin dari Ayah

Cincin dari Ayah

-Malam Pengajian dan adat ‘Diparmangonkon’-

Malam hari sebelum pernikahan, keluarga saya menggelar pengajian yang dihadiri tetangga dan sanak saudara. Dan malam itu pula dilakukan adat “mangkobari” atau diceramahi dan “diparmangonkon” atau diberikan suapan makan terakhir oleh orangtua saya.

Malam ini adalah rutunan yang paling haru dalam semua sesi. Karena inilah saatnya saya di “patobang” atau di dewasakan. Bahwa saya tidak lagi keluarga dari orangtua saya, saya akan menjadi seorang istri dan ibu di keluarga baru saya nantinya.

-Menikah 24 Agustus 2013-

Akhirnya, hari yang saya dan pasangan tunggu itupun datang. Dimana ada dua hati, dua jiwa, dua keluarga, dua suku dan dua kepribadian yang akan dijadikan satu.

Acara hari itu dimulai dengan datangnya mempelai pria beserta rombongan yang disambut dengan keluarga mempelai wanita dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan tersebut berisikan pertanyaan yang berhubungan dengan kemamtapan hati mempelai pria dalam mempersunting mempelai wanita.

Pertanyaan Awal Pernikahan

Pertanyaan Awal Pernikahan

Setelah pertanyaan terjawab, mempelai pria beserta rombongan sudah dapat bertemu dengan penghulu, orangtua mempelai wanita dan tamu yang hadir. Dan ketika itu, saya kembali menunggu dibalik tirai. Saya akan diberikan kesempatan dalam meminta ijin kepada orangtua saya untuk mau menikah dengan orang yang saya pilih. Berikut adalah permintaan ijin saya.

“Assalamu’alaikum wr wb. Mama… bapak… hari ini, va duduk dihadapan mama dan bapak memohon ijin serta meminta restu dan ridho untuk melangkahkan kaki dari rumah ini dalam meniti dan mengarungi hidup bersama orang yang va pilih. Insya ALLOh langkah ini va lakukan sebagai pengabdian kepada ALLOH untuk mengharapkan keberkahan dan kemuliaan sebagai seorang wanita.

Mama dan bapak, hari ini pula… va memohon maaf atas segala khilaf yang pernah diperbuat selama menjadi bagian dari rumah ini. Mungkin selama menjadi anak, anakmu ini kurang melayani mama dan bapak seperti sempurnanya pelayanan dan cinta dari Fatimah Azzahra sebagai puteri Rasulullah.

Namun, va yakin bahwa mama dan bapak telah mengetahui seberapa besar cinta dan sayang eva terhadap mama dan bapak. Karena bagaimanapun, darah yang mengaliri hidup va selama ini adalah bagian dari mama dan bapak. Nafas yang melewati tenggorokan ini adalah atas kasih dan cinta seorang ibu dan ayah yang telah membesarkannya. Sehingga seluruh badaniah ini adalah bagian yang takkan pernah terlepas dari orangtuanya.  Maafkan eva, bapak dan mama. Ridhoi langkah eva, karena tanpa ridhomu ALLOH juga enggan ridho padaku.

Mama, bapak… ridhoi pulalah langkah kami, ikhlaskan dan restui kami dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang akan kami lalui. Entah nanti bahtera ini akan menemukan riakan yang tenang, arus kuat maupun badai… doakan kami agar selalu dapat bergandengan tangan dalam menjalani dan menghadapinya dengan atas petunjuk dan bimbingan ALLOH. Doakan kami selalu berada dalam keimanan dan ikrar taqwa kami pada ALLOH hingga maut memisahkan kami.

Doakan pula eva sebagai anak dari mama dan bapak, dapat berbakti kepada suami dan keluarga baru eva nantinya seperti kesetiaan dan kecintaan Siti Khadijah terhadap Rasulullah. InsyaALLOH bakti va nantinya akan sampai dan menghantarkan ketenangan dan keberkahan pada bapak dan mama pula. InsyaALLOH.

Terimakasih mama dan bapak atas semua kasih sayang, cinta kasih yang kalian telah berikan hingga tak ada satu kurangpun aku rasakan. Terimakasih telah menjagaku selama 25 tahun dengan banyak nilai luhur dan keringat yang bercucuran demi membesarkan mimpi dan cita-citaku. InsyaALLOH, ALLOH akan memberikan kebaikan dan keberkahan terhadap orangtua yang sempurna bagiku. Aamiin.

Begitu saja yang ingin eva sampaikan…semoga ALLOH senantiasa memberikan keberkahan, kebaikan dan kemuliaan terhadap kita semua yang hadir pada hari bahagia ini. Aamiin ya Rabbal alamin. Assalamu’alaikum wr wb”

Dan setelah itulah, akad akhirnya dilakukan. Dan saya dan suami dipertemukan untuk menandatangani surat nikah. Alhamdulillah, kami berdua akhirnya melewati kata-kata ‘Sah’ dan ‘Halal’ dengan baik, khidmat dan lancar. Suami saya akhirnya menyematkan sebuah cincin di jari manis kanan saya.

Akad

Akad

-Proses Adat Pernikahan Batak & Jawa-

Akad telah selesai dilaksanakan. Saya dan suami harus mengganti pakaian adat batak. Kami harus mengikuti sebuah adat lagi. Kami akan mengikuti adat “mangkobari” lagi. Disanalah barang-barang pemberian/seserahan dari keluarga saya. Barang-barang ini berisikan kasur dan semua perlengkapan rumah tangga. Ini adalah bukti besarnya kasih sayang mereka kepada saya. Lalu prosesi dilanjutkan dengan pemberian sarung kepada para tetua mempelai laki-laki beserta sebuah tikar adat yang diberikan kepada orangtua (diwakilkan oleh kakak tertua suami saya, karena kedua orangtua suami saya telah tiada) mempelai pria.

Dan setelah adat tersebut selesai. Didepan kami berdua telah disuguhkan satu nampan yang berisikan nasi, ayam, ikan mas, telur, garam, dll. Kami harus mengambil nasi dan lauk pauk tersebut untuk dimakan diatas piring yang tersedia,

Semua adat telah lengkap, saya dan suami dikalungkan sebuah ulos yang bertuliskan nama saya (sebagai anak tertua dikeluarga). Dan akhirnya prosesi diakhiri dengan perjalanan kami ke arah pelaminan dengan menggendong seekor ayam hidup beserta priuk, centong kayu, bambu. dll yang terbuat dari manik-manik. Yang melambangkan agar segera mendapatkan momongan dan selalu mendapatkan rejeki yang melimpah. aamiin.

Menggendong Ayam

Menggendong Ayam

Sedangkan pada adat jawa, seserahan yang dihantarkan menyimbolkan beberapa hal pula. Seperti beberapa buah telur, yang dipercaya untuk mendoakan pasangan agar cepat mendapat momongan.

Setelah itu prosesi yang terjadi adalah ketika saya dan suami tiba dipelaminan resepsi, maka akan ada bou dan mengboru saya yang melemparkan saweran berupa koin, uang kertas dan beras kuning ke arah tamu yang hadir. Ini menyimbolkan agar para tamu undangan mendapatkan berkah dari pernikahan ini. aamiin.

Berikut beberapa foto pernikahan saya yang saya ambil dari semua sahabat yang hadir.

Saya dan Opung

Saya dan Opung

Mempelai dan seserahan batak

Mempelai dan seserahan batak

Kami dan Sahabat

Kami dan Sahabat

With Teater Atom

With Teater Atom

Adat Batak

Adat Batak

Adat Jawa

Adat Jawa

Keluarga Baru Aritonang

Keluarga Baru Aritonang

4 thoughts on “Sebuah Pernikahan ala Batak

  1. waaahh..eva cantik banget.. maahf aku nggak bisa dateng ke hari bahagiamu.
    tapi doaq menyertaimu va.. semoga kamu dan suamimu bisa membangun keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah..

    salam untuk semua ya.. ^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s