Adira Naila Afifa


Akhirnya saya bisa memberanikan diri untuk menulis sebuah nama yang menjadi judul tulisan ini. Setelah apa yang terjadi pada hari Kamis tanggal 21 Agustus 2014 kemarin.

Nama tersebut adalah nama gadis kecil kami yang telah berpulang ke pangkuan Ilahi sebelum ia sempat melihat kami (orangtuanya), kakek neneknya, tante-omnya, bude-pakdenya, bahkan buyutnya.

Tulisan ini saya buat untuk sekedar share pengalaman untuk teman-teman pembaca sekaligus mengeluarkan apa yang menjadi luapan perasaan saya hingga saat ini.

***

Aku membaringkan badan ditempat sholat dirumah ibuku segera setelah mengganti kemeja kerjaku dengan daster belel.

“Kamu kenapa?” Ibu tiba-tiba memasangkan selimut kebadanku. Aku baru sadar badanku gemetaran.

“Gak tau ma..dingin banget. Badan Va panas.”

“Yaudah minum procold yah…”

Aku menuruti ibuku selama dua hari meminum obat yang sama. Namun, dihari ketiga akhirnya ibuku berhenti menyarankanku minum obat tersebut dan mengajak bicara suamiku.

“Eva gak biasanya demam begini. Dan demamnya aneh…cuma pas sore menjelang malam ajah. Biasanya uga kalo dah dikasih procold, dia sembuh. Ini malah gak ada perubahan. Kayaknya Eva hamil.”

Suamiku hanya mengangguk.

Sebulan kemudian, aku tak kunjung menstruasi. Aku sudah telat selama dua minggu. Namun, aku tak punya kekuatan untuk membeli alat test. Terutama karena suamiku sedang di Bali. Namun yang aneh..hampir 2 minggu sudah, aku hanya ingin makan capcay yang dijual didepan komplek. Dan ini membuat banyak kecurigaan diantara teman-temanku bahwa aku hamil. Dan mereka mendorongku untuk segera melakukan test. Aku belum berani. Karena sepertinya aku belum siap jika alat test tersebut hanya menampilkan 1 garis merah, bukan 2.

Namun, hari itu dibulan Februari akhir, aku beranikan melakukan test ketika aku tau suamiku sedang dalam perjalanan menuju rumah kami diBogor.

Positif. Dan saat itu juga aku mengabari ibuku.

“Assalamu’alaikum…” suara yang kukenal itu akhirnya dating..tak ada hal yang ingin kulakukan selain memeluknya dan berbisik:

“Aku hamil mas…”

Suamiku terdiam…masih mencoba menguraikan kembali 3 kata yag baru saja kuucapkan. hingga akhirnya dia membalas pelukanku dan berkata “aku cinta kamu sayang…kita segera check ke rumah sakit yah..”katanya sambil tersenyum

Inilah penantian 5 bulan kami yang paling indah…

***

Melewati bulan kebulan kehamilan, selera makanku bertambah. Berat badanku dapat terukur bertambah 2 kilo setiap bulannya. Hingga memasuki bulan ketiga menuju keempat, berat badanku turun drastis sebesar 4 kg. Mual-muntah mulai menyerang. Dan sang bayi mulai melakukan serangan ngidam. Mulai dari ngidam Steak, ngidam naik gunung, ngidam ke ujung genteng dan ngidam gulai ikan mas buatan neneknya.

Bahkan yang paling menggemaskan dari tingkah lakunya adalah keisengan yang mulai muncul pada bulan keempat.

Hari itu jadwal kami melakukan control. Seperti biasa, dokter akan melakukan USG. Biasanya, dedek (panggilan kami pada si bayi) akan diam teratur untuk diukur tinggi badannya. Tapi hari itu, dia mulai memperlihatkan goyangan jempolnya pada si dokter. Dokter tergelak memperlihatkan kedua tangan mungilnya yang digoyangkan seperti berjoget.

“Ini mah keliatan anaknya aktif banget…dalam perut ajah joget coba…heheheh” kata dokter sambil mesem-mesem.

Bulan kelima, dedek mulai bertingkah lebih menggemaskan lagi…Pada saat sang dokter mengukur tinggi badannya, dedek malah menunjukkan mukanya tepat pada saat dokter menekan tombol capture. 

“Eits, si dedek teh narsis pisan yah…nurun dari siapa ini hayo?” canda sang dokter sambil mengulang pengukuran badan.

“Itu si mamanya dok…dia mah jamur lensa. Hahahaha” Goda suamiku. Semua tertawa.

“Tuh kan… si dedeknya yang ke foto mukanya lagi coba ini pak..aihhh meni narsis ini….ih si dedek mau kerjain dokter yah..” keluh dokter.

“Nah itu tuh dok, sifat ayahnya…suka iseng..”balasku…

“hahahaha”

***

Dedek juga mulai memperlihatkan hal-hal apa saja yang menjadi kegemarannya. Mulai dari nonton film kartun Masya and Bear, nonton film bioskop (dia paling suka nonton film action dan maleficient), suka mendengarkan orang ngobrol (yang penting bukan gossip), suka travelling, suka naik motor besar ayahnya, marah dan menendang kalo mamanya bilang ayahnya jelek, suka gulai ayam kampung buatan neneknya, suka berkebun, suka berkreasi, suka lagu-lagu lawas, suka sekali mendengar surah yasin, suka sekali jika mendengar ibunya ngaji dan terutama suka dan semangat sekali kalo ibunya sedang belajar.

Setiap hari rasanya batin ini semakin dekat dengannya dan semakin mengerti kemauannya.

***

Memasuki bulan ketujuh, gerakan dedek mulai terasa lebih aktif. Bahkan, terakhir melakukan control, posisi kepala dedek sudah di bawah…sepertinya ia tak sabar untuk segera lahir. Kami sempat menanyakan apakah kondisi ini baik-baik saja, dokter mengatakan semua masih aman. Dedek juga akhirnya menunjukkan jenis kelaminnya setelah 6 bulan menutupinya dari kami dan dokter.

Sehingga, saya dan suami masih merasa aman untuk mengunjungi rumah orangtuaku di Bekasi pada 6 hari setelah control. Aku sudah punya rencana untuk bilang pada ibu bahwa aku sudah menyiapkan nama untuk bayiku.

“Namanya ma… Adira Naila Afifa…Sebuah anugrah yang kuat pendirian serta terhormat dan suci” ungkapku semangat.

“Aduh kepanjangan, nak. Ntar gurunya bingung lho nulis namanya di raport.” canda ibuku.

Malam itu kami berkumpul, semua anggota keluarga yang biasanya tidak lengkap, terlengkapi malam itu. Bapak, Ibu, ketiga adikku dan suami. Kami bercanda sepanjang malam.

***

Tepat ditengah malam aku terbangun. Pinggang terasa berat sekali dan perut terasa sakit…aku membangunkan suamiku untuk membantuku pindah kekasur yang lebih empuk. Namun, ternyata sakitnya tak kunjung hilang. Aku tak bias tidur semalaman. Dan aku tetap melanjutkan aktifitasku seperti biasanya kekantor.

***

“Cinta, pulang kantor mau ikut pulang sama aku naik taksi?kebetulan aku bawa banyak barang-barang nih sama si Bilal. Nanti aku jemput kekantor yah…” telpon suamiku siang itu.

“Asikkkk…iyah mas…aku tunggu di gedungku yah…”

***

“Mas, perutku sakit banget..” keluhku dalam perjalanan di taksi.

“Iyah cinta, kita langsung kerumah sakit dulu baru kerumah yah nanti. Sekarang kamu bobo ajah di paha aku.”

Aku menuruti suamiku.

“Deuh…romantis amat nih orang bedua…” Ledek Bilal.

“Ahh iri ajeh nih…”

***

“Mas, tolong ambilin baju yang ada di tas…aku ngompol hehehehehhee…”

“Ish kamu…” suamiku mengambil baju yang kuminta. Aku menempelkannya tepat pada bagian yang basah. Tanganku terkena sedikit. Legket sekali, seperti bukan air seni. Dan benar saja, yang kulihat malah cairan berwarna merah. Darah.

“Mas…” Aku memperlihatkan tanganku panic.

“Tenang sayang…kita ke dokter sebentar lagi yah…jangan piker yang macem-macem.”

Tangisku pecah…baru saja darah dengan jumla lebih banyak keluar beserta gumpalan darah. Dan darah tersebut terus mengalir tanpa henti. Aku tau pada saat itu, dedek sudah tidak tertolong dengan jark rumah sakit yang masih harus ditempuh sekitar 20menit lagi.

***

Aku sudah lemas tak bertenaga ketika kulihat suamiku berlari keluar dari taksi sebelum gerbang parker rumah sakit terbuka. Ia bergerak mengambil kursi roda yang diikuti oleh satpam. Aku hanya mengikuti kemana kursi roda yang kududuki ini didorong sampai diruang UGD.

“Ini pak, maaf…detak jantungnya sudah tidak ada.” kata dokter yang sayup-sayup kudengar sambil menunjukkan layar USG. Airmataku sudah tak terbendung. Tubuhku melemas, seperti tak ada lagi daya upayaku untuk terus melanjutkan hidup tanpanya.

“Kita harus selamatkan ibunya segera. Pendarahannya terlalu hebat, saat ini juga kita harus operasi untuk mengangkat bayinya.”

Dokter, tolong cek lagi bayi saya….

***

Tidak ada hal yang lebih sakit bagi seorang ibu selain kehilangan anaknya…dan hal itu yang saat ini terjadi padaku. Tak ada yang bisa disesali dan diulang kembali. Seperti kata suamiku sebelum aku masuk keruang operasi “Kamu gak perlu berpikir macam-macam, kamu hanya perlu menjalaninya”

Tangis suamiku pecah ketika mengecupku sebelum masuk ruang operasi. Aku sempat melihat pandangan suamiku yang berkata “Kita bisa melewati ini semua sayang…”

***

Ibuku datang bersama ayah dan adik laki-lakiku. Mereka memelukku bergantian. Tapi ayahku tak bisa menahan airmatanya sambil mencium keningku.

“Kamu yang kuat yah inang…bapak sayang sama Eva…” Dan tangisku-pun pecah kembali.

Barulah disana aku melihat suamiku berdiri, ia terlihat kelelahan. Aku yakin semua sudah terurus dengan rapi ketika aku melihat banyaknya tetangga yang datang ketika aku keluar dari ruang operasi.

“Hi, cinta.” sapanya menelan airmata. Ia mengecup dahiku seperti biasa. “Kemaren, kamu kasih nama anak kita siapa?”

“Adira Naila Afifa, mas.”

Ia segera mencatatnya. Aku langsung membayangkan sebuah papan nisan yang sedang dipersiapkan untuk anak kami.

Suamiku menggamit tanganku, mengecupnya sebentar, dan menuangkan kesedihannya disana. Aku yakin kami memiliki kesedihan yang sama…kehilangan anak kami tepat 3 hari sebelum kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama.

“Sebentar lagi dedek mau dibawa kesini…janji buat gak nangis yah cinta…kalo kamu nangis…dedek gak dibawa kesini lho…” candanya.

“Aku kuat, cinta”

Dan tidak lama, kakak iparku menggendong bayiku kearahku. Oh TUHAN, dia cantik sekali…alis mata dan rambutnya begitu tebal, dia mirip ayahnya…dan tangis itu tetap saja jatuh…

aku menangis…

mengenangmu…

sgala tentangmu…

ku memanggilmu…dalam hati…lirih…..

***

Adira Naila Afifa, nama yang kau pilih sendiri. Nama yang tak pernah ingin kau ganti pada saat aku merumuskan tiga nama untukmu.

Anakku…aku yakin kau telah menjadi bidadari surga…sesuai dengan namamu Afifa…Kesucian…maka mama sudah yakin bahwa saat ini kau telah kembali ke kesucian yang hakiki. Aku yakin kau sudah bahagia sekarang…

Adira cintaku…aku ikhlaskan kau pergi…meski terkadang aku merasa tak sanggup menahan airmata rindu ini padamu…Tapi aku yakin ALLOH lebih mencintai dan merindukanmu melebihi aku…karena sesungguhnya kamu hanyalah titipan padaku yang sewaktu-waktu bisa diambil kapan saja dariku. Sayang kamu, nak…sayang kamu, pagiku…

***

Pada tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pada keluarga dan teman-teman yang sudah memberikan dukungan moril pada saya dan suami…Adira dipanggil oleh ALLOH dengan jalan-NYA yang tak bisa kita mengerti…Dokter mengatakan Adira terkena Solusio Plasenta (terlepasnya plasenta dari janin) yang terjadi akibat ibu yang suka merokok, mengonsumsi alcohol, terkena diabetes atau hipertensi. Dan Keempat itu tidak ada pada diri saya. Dokter tidak mengatakan bahwa kecapean atau menaiki motor besar menjadi alasan terjadinya keguguran. Karena seminggu sebelum terjadinya hal ini, saya banyak istirahat bahkan saya sempat tidak masuk kantor untuk menjaga kondisi tubuh. Jadi saya juga memohon pada teman-teman untuk tidak berspekulasi…agar Adira juga tenang di Surga. Terima Kasih🙂

***

 

4 thoughts on “Adira Naila Afifa

  1. Innalillahi wainailaihi rojiun……sabar ya maen…..bou juga kaget dapat berita ini dari papa eva pada saat eva kritis….kami semua mendoakan keselamatan va….Alhamdulillah doa kita semua terkabul va bisa lewati masa kritis.Adira naila afifa…nama yang sangat indah ya maen….bou yakin cucu bou itu pasti cantik sama dengan namanya….walaupun kita sayang sama adira ternyata Allah lebih sayang padanya…kita harus rela dan ikhlas….bou sayang va….

  2. Innalillahi wainailaihi rojiun. eva turut berduka cita ya. semoga allah swt menempatkan Adira Naila Afifa di tempat yang terbaik di sisinya. dan semga eva dan suami di beri ketabahan dan keiklasan.amin (maaf ya eva aku br lihat kabar di fb kamu tadi).kalo ada waktu main ke tim lg donk eva.ajak suami kamu jg ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s