Hilmi Abdala


Hilmi Lahir Ke Dunia

Sudah 2bulan 5hari sejak kelahiran anak saya yang kedua…dan baru sempat memposting berita kelahirannya pada blog ini.

Tepat ditanggal 7 Agustus 2015, seorang anak laki-laki telah lahir dari rahim saya dengan proses cesar. Prosesnya teramat singkat, teramat unik.

Bayangkan saja, saya harus menyaksikan bagaimana perut saya dirobek dengan pisau sayat,  lewat pantulan besi lampu besar yang tergantung tepat diatas saya. Setiap sayatan dan darah yang keluar dari kulit atas hingga kulit dalam perut ke rahim, saya lihat dengan mata kepala saya secara sadar. Ngeri? wahh…anehnya tidak…Padahal sebelum melahirkan saya sempat stress membayangkan kalau-kalau saya meninggal pada saat melakukan operasi. Secaranya, pada bulan-bulan tersebut, banyak sekali yang nge-share berita-berita tentang meninggal pada saat cesar dan prosesi cesar yang ngebuat saya mati gaya dan speechless.

One Day Old

One Day Old

Cuman, pada saat saya melihat plasenta anak saya dan diikuti dengan suara tangisannya. cuma kebahagiaan yang memenuhi dada saya. Padahal, kondisi saya saat itu, astma sempet kambuh, muntah, keringat dingin dan mengigau (bergumam tanpa saya bisa kendalikan).

Bayi saya menangis sangat nyaring, suster dan dokter anak membawa bayi saya dan memasukkan alat secam selang ke hidung dan mulutnya. Tangis saya tak bisa ditahan, saya terharu dan bahagia. Sedang dokter kandungan saya, sibuk menekan perut saya dan mengeluarkan plasenta. Dan kembali, saya menonton aksinya menjahit perut saya satu persatu. Dan saya tidak takut, malah menonton dengan khidmat.

Tak lama, bayi saya di telungkupkan kearah dada saya. Dokter membantu saya melakukan inisiasi dini. Saya menangis sekali lagi, karena itulah pertama kalinya saya melihat wajah bayi saya dengan jarak yang paling dekat.

ASI untuk Hilmi

Karena saya tidak merasakan sakitnya bekas cesar, Hilmi (bayi saya) saya beri ASI dalam pelukan saya. Hilmi Bisa menyedot ASI selama 4jam-6jam hingga saya lemas. Dan terpaksa harus didampingi dengan susu formula karena Hilmi memang butuh lebih banyak susu. Ditambah Hilmi sempat kuning karena Billirubinnya mencapai 12,5 pada saat keluar dari rumah sakit. Sementara, batas billirubin seharusnya tidak lebih dari 10. Sebenarnya dokter menawarkan untuk sinar ultraviolet di rumah sakit, namun saya dan suami menolak karena kami tidak ingin terpisah Hilmi. Kami putuskan untuk menjemur Hilmi dengan sinar matahari pagi saja dan mengganti dokter anak untuk Hilmi pada hari kelima.

Hilmi ketika Kuning

Hilmi ketika Kuning

Hari kelima, kami mengambil hasil test Billirubin Hilmi, dan ternyata Billirubin Hilmi menyentuh angka 15. Saya panik bukan main, tangis tak terbendung. Pikiran saya hanya dipenuhi rasa takut kehilangan Hilmi (karena saya ada riwayat kematian janin karena solusio plasenta). Namun, dokter anak Hilmi yang baru(kebetulan wanita), amat sangat baik. Beliau menenangkan saya. Beliau menyarankan memberi ASI dan susu formula dengan kapasitas yang banyak (beliau malah tidak menyarankan Hilmi disinar karena beliau tidak ingin memisahkan anak dan ibunya). Ini dimaksudkan agar Billirubin Hilmi dapat keluar lewat feses dan air seni.

Hari kedelapan (puncak dari Billirubin), Billirubin Hilmi malah turun. Saya bahagia sekali, rasanya tak ada hal yang saya pedulikan selain anak saya. Sejak itulah Hilmi tetap mengkonsumsi susu formula sebagai pendamping ASI.

Saya ingin bercerita sedikit, saya yakin banyak ibu yang membaca tulisan ini akan men-judge saya yang tidak memberikan ASI exclusive. Saya paham sekali, bahwa ASI sangatlah baik untuk kecerdasan, imun bahkan ikatan antar ibu dan bayi. Namun, saya tidak ingin terlalu idealis dan akhirnya merugikan anak saya. Saya rasa, semua ibu ingin memberikan yang terbaik buat anaknya, terutama dalam memberikan ASI exclusive. Tapi, cobalah juga pahami ibu-ibu yang memiliki kondisi seperti saya. Dimana saya harus mengambil keputusan apakah membiarkan anak saya kuning atau sehat kembali. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin yang saya bisa lakukan.

Terutama ketika kaki saya tidak bisa saya gerakkan selama seminggu. Rasanya sakit sekali, bahkan kekamar mandi saja saya harus merangkak saking sakitnya. Dan akhirnya ASI saya sempat terhenti. Saya masih berusaha memompa ASI saya, karena saya tidak kuat menggendong Hilmi. Dan parahnya, ketika saya memompa ASI saya, yang keluar jusru darah dengan derasnya.

Ketika kondisi saya pulih, ASI saya juga tidak sebanyak dulu. Bisa dibayangkan, bahwa saya harus lagi-lagi memberikan Hilmi sufor (susu formula) lebih banyak dibanding ASI. Akhirnya saya bertekad, saya harus banyak makan, meminum ASI booster, terus memompa dan menyusui. Saya bertekad, Hilmi harus tetap minum ASI setiap hari. Sehingga saya harus menabung ASI meski sufor masih menjadi pendamping ketika saya bekerja nanti. Semoga ibu-ibu beruntung___yang punya anugrah ASI exclusive dapat mengerti kondisi saya. Mungkin jika banyak ibu yang membaca tulisan ini dapat memberikan saran untuk memperbesar debit ASI saya, saya mat menampung saran tersebut.

Lagu yang Tercipta untuk Hilmi

Bagaimana dengan hari-hari saya bersama Hilmi?semua yang dirasakan semua ibu, mungkin juga saya alami. Bahagia, kelelahan, baby blue, stress, ahh semua jenis emosi sudah saya rasakan. Namun sebagai ibu, tentu saja emosi yang mendominasi adalah rasa bahagia. Terutama ketika menyaksikan tumbuh kembang Hilmi dan obrolan-obrolan kecil yang kami lakukan bersama.

Saya yakin, hampir semua ibu yang menidurkan anaknya…selalu menyanyikan lagu yang keluar sekenanya. Begitu juga saya…disela-sela shalawat yang dilantunkan ketika menimang-nimang Hilmi, ada lagu yang tiba-tiba tercetus keluar begitu saja. Entah karena perasaan bahagia yang luar biasa dari hati saya atau karena lagunya…Hilmi selalu tenang jika dinyanyikan lagu-lagu tersebut.

Dan lagu berikut ini adalah lagu favorit Hilmi…karena kami menciptakannya bersama-sama… ahhh bahagianya saya…semoga pembaca tulisan kali ini juga dalam keadaan bahagia bersama anak-anaknya. Sedangkan yang belum diberikan keturunan, semoga dipermudah ALLOH aamiin. Selamat menikmati, dan semoga postingan saya bermanfaat buat semua…aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s