Tulislah dan kau akan membuka jendela!


Asma Nadia

Asma Nadia

Hari ini saya berkesempatan untuk ikut dalam workshop penulisan pada instansi tempat saya bekerja. Senang sekali rasanya bisa ikut andil dalam workshop tersebut. Selain menjadi anggota CLiF (Customs Literasi Forum), bertemu dan mendapat ilmu dari Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) dan Asma Nadia, tulisan saya juga terbit dalam buku bertajuk “Derap Pengabdian”.

Buku ini berisi beberapa cerpen dari beberapa pegawai DJBC (Dirjen Bea dan Cukai) yang berisi bagaimana perjuangan pegawai DJBC dalam mengabdikan hidupnya untuk Indonesia. Kebetulan cerpen saya berjudul “Tapal Batas Profesionalisme”. Cerpen ini murni kisah nyata. Cerita mengenai seorang pegawai DJBC bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Beliau adalah seorang ibu yang jika melihat perawakannya, anda sudah pasti bisa menebak berapa usianya. Bahkan beliau berujar hanya tinggal beberapa tahun lagi, beliau akan pensiun. Namun, jika anda melihatnya mengangkat koper-koper milik penumpang yang harus diperiksa manual karena suspect pada mesin x-ray. Anda akan terkesima melihat betapa kuatnya beliau mengangkat, memeriksa dan mearpihkan koper penumpang pesawat dengan cekatan.

Saya juga menceritakan bagaimana beliau berjuang sendiri dalam menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anaknya. Ini karena, suami beliau yang sudah pensiun lebih dulu.

Cerita beliau memang sederhana, mungkin banyak dari teman-teman penulis yang menuliskan kejadian dengan tema yang sama. Namun, yang membedakannya adalah kalimat yang pernah saya dengar ketika saya mendapatkan pengarahan bersama rekan CCPNS lainnya pada tahun 2014. Kalimat tersebut berbunyi “Kita semua berdiri di Tapal Batas, di garda terdepan lalu lintas ekspor dan impor! kita memiliki tugas dan fungsi yang vital! nyawa taruhannya! Don’t ever think that you’ll be safe in here! kita bukan PNS kebanyakan! kita bea cukai”. Mungkin kalimat itulah yang mengantarkan saya menjadi juara ketiga Karya Tulis Inspiratif pada Hari Pabean Internasional.

Senang rasanya tulisan kecil saya ini masih bisa dijadikan karya yang dapat dinikmati banyak orang (bahkan sampai nasional). Terutama ketika tulisan tersebut masuk sebagai opini pada Warta Bea Cukai (Majalah Intern Bea dan Cukai) yang seluruh pegawai DJBC di Indonesia dapat membacanya. Saya berharap tulisan tersebut dapat menginspirasi banyak pegawai untuk tidak mengeluh dan bekerja dengan integritas, profesionalisme  yang tinggi tanpa tapal batas. hehehe.

Lalu apa inti tulisan ini? Dari sinilah saya ingin anda menangkap bahwa ketika menulis, saya melakukan riset dahulu…membaca banyak bacaan dan mengembangkan ide saya menjadi jejaring informasi untuk pembaca. Bagi saya menulis adalah kebutuhan, mengapa?. Karena didalam menulis sebuah karya, harus didukung dengan minimal 5 karya bacaan. Artinya, anda sudah membuka jendela pengetahuan anda dengan menulis. Masih ingat kalimat “Buku adalah jendela dunia“? mari simpulkan sendiri. Seandainya anda ingin membuat 10 halaman paper. Satu halaman paper membutuhkan 5 literatur. Sehingga 10 lembar paper, maka anda butuh 50 literatur untuk anda baca meskipun bacaan tersebut ternyata tidak ada kaitannya dengan tulisan anda. Bayangkan berapa banyak ilmu yang terserap diotak anda, menunggu untuk dituliskan kedalam paper lainnya.

Tulisan saya ini tidak ada maksud untuk pamer apalagi membanggakan diri untuk pembaca. Murni hanya sebagai dokumentasi pribadi dan berbagi pengalaman pada pembaca. Mudah-mudahan teman-teman pembaca dapat merasakan semangat yang sama untuk menulis dan menulis…Tulislah dan kau akan membuka jendela!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s