Curhat buat Adira


Hai, Adira…

Ibu ingin mengobrol denganmu.

Ibu ingin kamu tahu bagaimana keadaan keluarga kita kini.

Ibu ingin kamu tahu mengenai Hilmi dan insya ALLOH calon adikmu kelak.

Adira…

Hilmi sangat sensitif sekarang, dia selalu tahu bagaimana ibu menjalani hari dan apa yang terjadi pada ibu.

Kamu tahu, sekitar 3 bulan yang lalu…Hilmi ngambek tidak mau digendong sama ayah dan ibu.

Hilmi selalu nangis dan ngambek dan berujung tidur diperut ibu sambil memeluk perut ibu.

Kami baru tau kalau Hilmi mengetahui sesuatu yang kami tidak ketahui, sayang.

Hilmi akan menjadi abang dan kamu akan memiliki adik yang kedua.

Ibu tau kamu sedang senyum-senyum dan mau bilang kalau kamu sudah tahu lebih dulu, bukan?

Kamu juga pasti tahu, bahwa mual dan muntahnya ibu digantikan oleh Hilmi?

Yah, kamu pasti sudah tahu.

Kamu juga pasti tahu, ayah berebutan dengan Hilmi untuk menggantikan rasa mual dan muntah ini.

Ah, ini sudah pasti tidak membuatmu terkejut.

Tapi tenang sayang, sekarang mual dan muntah ini sudah ibu tanggung kembali.

Serangan malas makan dan benci sekali nasi padang dan olahan daging ini persis sama ketika ibu sedang mengandungmu.

Adira…

Kamu sudah bisa apa sekarang, nak?

Ibu tebak, kamu sudah suka mengoceh.

Ibu tebak, kamu sekarang sudah suka bersolek dan memakai baju-baju princess, kan?

Kamu pasti suka dengan baju yang ibu belikan untukmu.

Kamu pasti senang bermain-main boneka dan memetik-metik bunga atau sekarang kamu sudah bisa naik sepeda dan berenang di sungai?

Kamu pasti semakin cantik, yah sayang…

Adira…

Adikmu Hilmi sudah bisa berlari-lari,

ia suka sekali mengejar dan menakut-nakuti ibu.

Adikmu belum bisa memanggil ibu. Ia memanggilku “ma” dan memanggil ayah dengan “abah”.

Hilmi suka sekali susu dan makan. Badannya gempal sekali, sayang…

Adikmu sudah bisa menyebut angka “tiga”, “halo”, “opung”, “enggak”, “makaci”, “dada”, “Hilmi”, “dingin”, “mbak” dan “abang”.

Adikmu juga suka sekali meminta ibu untuk mengurut kaki dan tangannya.

Hilmi juga suka sekali jika ibu membantunya salto.

Adikmu ini sudah tidak mau dipeluk dan sudah jarang mencium ayah dan ibu…sepertinya dia sudah merasa dewasa, sayang.

Ia sudah merasa akan menjadi seorang abang.

Hilmi lebih senang mencium perut ibu.

Adira…

Kemarin ibu kontrol yang ketiga kalinya ke dokter kandungan.

Adikmu sedang menggoyang-goyangkan tangan dan kakinya.

Dokter memperlihatkan jumlah jari tangan dan kaki calon adikmu.

Ibu terharu sayang…Ibu tetap merasakan perasaan yang sama ketika ibu mengandung kamu dan Hilmi.

Adira…

Ibu kangen sekali…

Ayah juga kangen sekali padamu…

Semoga ALLOH selalu memberikan kedamaian dan kebahagiaan padamu, nak.

Semoga kita sekeluarga akan dipertemukan dan disatukan di surganya ALLOH.

Semoga ibu dan calon adikmu sehat dan kuat hingga kelahiran kelak.

aamiin.

2 thoughts on “Curhat buat Adira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s