Sahabat Pena (Maya)


Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Pertemanan itu memang tidak selalu kita ketahui darimana asalnya dan bagaimana bisa terjadi, terutama zaman yang segala rupa sudah terhubung dengan seutas kabel bernama “internet”. Siapapun bisa menjadi teman, siapapun bisa menjadi musuh dan siapapun bisa menjadi tokoh dan idola.

Saya mungkin bukan tipe yang menjadi idola, mungkin bisa dikatakan “haus teman bicara”, alias butuh teman. Jadi, mungkin kalau dihitung-hitung 20% dari teman saya adalah teman yang saya temukan di dunia maya. Jika ditanya pernah ketemu, tidak sama sekali. Kami hanya dipertemukan oleh tekanan “jempol” bernama “poke” dan “like” di facebook yang di lanjutkan “love” di instagram. Kalau sisa jari yang lain sedang rajin, kami tidak pernah absen untuk mengirimkan komentar pada foto-foto yang menarik. Sesimpel itu.

Mari saya ceritakan sebuah kisah menarik. Seorang teman bernama Iid. Saya sering memanggilnya dengan sebutan “kakak” saja. Kakak ini berteman dengan saya sejak zaman di mana friendster sedang merajalela. Saat di mana aliran “Emo” dan “pop punk” sedang merajai penampilan remaja pada zaman itu. Zaman anak-anak generasi Y sedang mencari jati diri. Hehehe. Sehingga wallpaper friendster pada saat itu dipenuhi dengan warna hitam dengan seorang gadis terduduk di pojokan sambil menunduk. Kalian generasi Y yang ada di moment ini harus mengaku kalau kalian pasti suka pasang quotes-quotes sejenis  “That awkward moment when you think you’re important to someone, and you’re not“, “i just want to make beautiful things, even if nobody cares”, dengan warna stabilo merah, hijau dan kuning di wallpaper friendster kalian. Kalian juga harus mengakui kalau Avril Lavigne adalah artis terkeren semasa sejarah kalian suka emo. hehehe.

Balik lagi ke kakak, saya nggak tahu kapan persisnya kita bisa berteman di friendster. Kenapa kita bisa saling add di facebook sampai akhirnya kita masih menjalin pertemanan di dunia instagram. Ibarat Sahabat pena yang cuma bisa kirim-kiriman surat tanpa mengenal satu sama lain bahkan belum pernah ketemu, kita adalah sahabat pena versi dunia maya. Kita sering saling “like” dan saling “love” tanpa alasan apa-apa, sekedar bertegur sapa dan memastikan bahwa kami ada untuk saling men-support dan saling care satu sama lainnya.

Tiga hari yang lalu, akhirnya tiba-lah masa-masa “kopi darat”. Kakak menyempatkan berkunjung ke rumah saya di Bogor____yang jaraknya bisa ber-ratus-ratus kilometer dari  rumahnya di Kota Baru, Kalimantan Selatan. Khas-nya kopi darat pertama kali, kita masih sedikit kaku, mencari-cari topik dan berusaha mencairkan suasana. Ibarat batang surat, perbincangan kami baru sekedar menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing. Inilah rasanya bergaul terlalu jauh dengan dunia maya, ketika bersua…lidah terasa tak bermakna. Hehehe. Tapi tak mengapa, sedikit demi sedikit kami bisa mengontrol diri dan mencair layaknya es batu tersengat terik matahari. Satu persatu cerita mengalir spontan saja, budaya daerah, suasana kerja, akses jalan, pendidikan, menjadi alur cerita yang tak ber-format. Bahkan sesekali kami bisa berkelakar. Rasa-rasanya satu setengah jam akhirnya terasa cepat untuk diakhiri.

Kain khas kalimantan, ia serahkan sebagai kenang-kenangan di kala ojol (ojek online) sudah nangkring di depan rumah. Saya panik, bagaimana bisa saya melupakan budaya yang satu ini. Budaya “bertukar kenang-kenangan”. Ibarat hadiah kecil yang di selipkan ketika kita mengirimkan surat kepada sahabat pena yang berbeda budaya bahkan negara. Sebuah kenang-kenangan yang tidak mungkin ia dapatkan di daerah atau di negaranya. Ah, saya gagal. Sudah terlalu lama rasanya zaman berganti. Sudah terlalu lama kita menyepelekan moment, menyepelekan pertemuan dan sahabat pena itu sendiri. Saya cuma bisa menarik salah satu buku yang saya karang untuknya, saya selipkan sebuah tanda tangan dan harapan untuknya, berharap ia akan mengingat saya selama kita berdua masih bisa menyambung tali yang tidak bisa digantikan dengan kabel yang bernama internet. Semoga kita tetap bisa menjalin pertemanan “sahabat pena” ini hingga apapun media sosial yang akhirnya menggantikan facebook bahkan instagram, saat ini.

P_20180101_185050[1].jpg

One thought on “Sahabat Pena (Maya)

  1. Pingback: 5 Bacaan Fenomenal Remaja Gen X ke Gen Y | Spirito!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s