Menyikapi Fitnah

Fitnah adalah satu hal yang paling ingin saya ceritakan dalam sebuah tulisan. Mengapa? karena fitnah ini paling sering hadir di hidup saya. Buat saya Fitnah adalah hal paling keji. Hal paling menyakiti dan hal yang paling saya benci. Tapi dibalik itu semua, tentu ada hikmah yang bisa saya petik. Tentu ada berkah jika saya menjalaninya. Mengutip pernyataan adik perempuan saya “Lu di fitnah lagi? udah sabar aja, bentar lagi juga lu dapet rejeki. Semakin keji fitnahan yang lu dapat, semakin gede rejeki yang lu dapet.” Itu katanya.

Jangan dikira saya tidak menangis, tentu saya menangis. Jangan dikira saya tidak marah, tidak kesal dan tidak membenci. Sebagai manusia biasa, saya tidak sesempurna nabi. Saya tentu merasakannnya.

Continue reading

Advertisements

Bahagia Itu Sesederhana Itu

Sebelum kalian membaca tulisan berikut, saya harap kalian membacanya dengan pikiran positif. Apa yang saya tulis, murni hanya ingin membagi motivasi dan mudah-mudahan malah dapat membuat kita sama-sama belajar untuk mencari kebahagiaan dengan cara yang sederhana. InsyaAlloh tidak ada sedikitpun niat saya untuk riya atau berpamer ria. Saya hanya ingin membagi cerita yang mungkin bisa menyadarkan kita arti kebahagiaan. Selamat membaca.
***

Ketika memiliki Hilmi dan Fattah, dunia saya rasanya berubah. Mungkin sejak kehilangan Adira, hidup saya-pun mulai berubah. Mungkin tidak banyak yang tahu bagaimana mereka mengubah hidup saya menjadi lebih “Menerima takdir” dan lebih memahami kondisi. Kondisi yang bagaimana?

Continue reading

5 Kejadian Terseram Sepanjang Hidup

Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Setelah menulis cerita mengenai pengalaman supranatural beberapa hari yang lalu, ternyata ada beberapa permintaan untuk menulis cerita seram kembali. Berhubung cerita seperti ini tidak memerlukan banyak analisa dan research, jadi sepertinya akan saya kabulkan. hehehe. Jadi, sebelum kalian membaca kisah ini…pastikan kalau kalian tidak sedang sendirian. Hehehe.

Sepanjang hidup, saya lumayan sering mengalami gangguan dan terkadang semacam firasat mengenai suatu tempat berhantu atau tidak. Firasat untuk membedakan mana orang yang cocok dan tidak cocok dengan saya. Firasat mengenai seseorang jahat atau tidak. Firasat mengenai seseorang berbohong atau tidak. Firasat apakah seseorang tersebut memiliki “kelebihan” atau tidak. Firasat mengenai apa yang akan terjadi pada hidup seseorang. Saya tidak tahu kelebihan macam apa yang ada di diri saya. Tapi, saya bisa menyimpulkan bahwa kelebihan ini tidak terlalu kuat karena muncul sesekali dan tidak pernah saya asah. Rasanya ingin sekali membagi hal-hal ini ke beberapa orang yang juga mengalami hal yang sama. Tapi, sulit sekali menemukan prinsip dan pemikiran yang sama terutama masalah untuk menemukan setitik logika pada semua kejadian. Cerita-cerita berikut ini-pun tidak bisa saya logika-kan. Jadi, mari kita anggap saja cerita-cerita ini adalah sekedar cerita saja. Silahkan menikmati.

Kursi makan yang bergerak

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2010, kebetulan saya sedang berada di rumah sendirian. Semua anggota rumah sedang mudik lebaran.

Saya sedang online, bertelponan dengan teman saya (sekarang jadi suami). Kebetulan pada saat itu, saya berada di ruang tamu yang letaknya berdempetan dengan ruang makan dan ruang TV . Jadi, bisa dipastikan bahwa ruangan ini sangat besar. Kalian para penakut, tentu tahu bahwa ruangan besar tidak akan menghasilkan rasa aman. Kita lebih merasa aman dengan ruangan sempit seperti kamar, bukan? yess, saya cukup penakut.

Saya dan teman saya tersebut sedang membahas hal-hal lucu, sehingga saya mengeluarkan tawa yang lumayan besar untuk waktu yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Jadi mungkin pada saat itu ada beberapa pihak tak kasat mata, yang terganggu dengan tawa saya. Awalnya saya hanya mendengar beberapa peralatan dapur yang berbunyi. Itu adalah peringatan pertama. Namun, saya masih acuh dan menganggap bunyi-bunyian itu hasil ilmu fisika bernama “pemuaian” pada benda-benda yang “mungkin” menghasilkan bunyi.

Peringatan kedua. Kursi makan saya mengeluarkan suara gesekan dan teman saya (yang notabenenya sedang menelpon saya) pun mendengar suara ini. Saya mulai merinding. Rasa-rasanya badan saya mematung. Saya sudah tidak bisa menemukan alasan yang logis)__ yang dapat menjelaskan gesekan itu, saya juga tak mampu membuka buku fisika yang mungkin bisa menjelaskan gaya gesek macam apa yang terjadi. Saya diam, teman di seberang saya mencoba menenangkan dengan cerita-cerita lucu lainnya. Tapi, mereka semakin menjadi-jadi. Bagaikan menyaksikan acara “Dunia Lain”, kursi-kursi makan bergerak dengan sendirinya. Lutut saya terasa lemas, badan terasa berat dan mematung. Saya bahkan lupa bagaimana bacaan ayat kursi, saking gugupnya. Saya cuma bisa berjalan kecil-kecil menuju kamar dan berusaha menenangkan diri.

Ketukan di jendela hotel

Saya dan kelima teman saya kebetulan memutuskan untuk berlibur di Bandung dengan menginap di salah satu hotel milik saudara salah satu teman rombongan. Hotelnya sangat murah, kami hanya cukup membayar Rp80.000 untuk satu kamar. Sehingga, kami yang masih bergaji di bawah 5 juta (pada saat itu) tentu saja tidak berpikir panjang untuk mencari hotel lain.

Hotelnya berada di tikungan jalan dengan pohon-pohon besar di sisi kiri dan kanan. Hal yang paling menonjol adalah lukisan harimau yang berada di koridor tangga menuju kamar. Saya merasa, harimau ini begitu terlihat hidup. Saya tidak mampu menjelaskannya, tapi saya jamin bahwa harimau itu benar-benar tidak seperti lukisan.

Saya bisa mendeskripkan bahwa kamar-kamar hotel ini-pun di penuhi pihak-pihak tak kasat mata. I can prove it, karena semua rombongan juga membuktikan semua hal yang saya rasakan selama di hotel. Kejadian pertama adalah ketika saya dan kedua teman saya membawakan kue tart ke kamar teman-teman pria kami. Rencananya, kami akan memberikan sureprise kecil untuk salah satu dari mereka. Saya menyanyikan lagu kesukaannya “Only Hope” Mandy Moore, kalian bisa menyaksikan videonya pada Link ini.

Jadi…ketika saya menyanyikan lagu tersebut, saya merasa ada beberapa makhluk yang masuk kekamar.  Pada saat kami semua menyanyikan lagu ulang tahun, barulah keanehan terjadi. Jendela kamar tiba-tiba dipukul berkali-kali (suara ini anehnya tidak terekam pada video sama sekali). Awalnya, kami hanya menganggap suara angin. Namun, ketika pintu jendela terbuka dan mengeluarkan suara ketukan yang lebih kuat. Kami menghentikan semua kegiatan dan kembali ke kamar masing-masing. Untunglah masing-masing kami tidak tidur sendirian.

Keanehan tidak terjadi sampai di situ saja. Saya ingat sekali bahwa saya menghidupkan alarm handphone pada pukul 04.30 pagi, anehnya…alarm tersebut tidak berbunyi. Handphone salah satu teman sekamar saya-lah yang tiba-tiba berbunyi. Padahal menurut pengakuannya, handphone itu tidak pernah ter-setting untuk menyalakan alarm pagi. Anehnya lagi, handphone saya tiba-tiba menghilang dan berhasil kami temukan di bawah bantal. Padahal malam sebelumnya, saya menaruhnya di meja. That was creepy.

Salah satu teman pria kami juga bercerita bahwa handphone-nya sempat menyalakan pemutar musik, sendiri. Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya dua hari di hotel ini, bukan?

Berdebat dengan diri sendiri

Pada cerita sebelumnya, saya sempat menceritakan bahwa saya sering mengalami igauan di malam hari ketika mengandung almh. anak perempuan saya. Saya nggak bisa memaksa kalian percaya atau tidak, namun hal ini benar-benar terjadi.

Suami saya selalu membangunkan dan menceritakan mengenai suara-suara yang keluar dari mulut saya ketika tidur. Awalnya ia berpikir, bahwa itu adalah igauan biasa. Dia bahkan mencari tahu mengenai “apakah normal seorang ibu hamil mengingau” dan jawaban dari Google adalah “iya”, ini disebabkan karena tekanan bayi pada pernafasan ibu sehingga memunculkan hal-hal di luar kondisi. Sehingga kami berdua mengangapnya logis. Namun, semakin hari…igauan ini semakin parah. Igauan ini akan berakhir sebuah tangisan yang sangat menyayat dan ini menyebabkan suami saya khawatir. Ia mencoba merekam semua igauan saya. Ia berani bersumpah bahwa ia mendengar seolah-olah saya sedang mendebatkan sesuatu dan saya selalu kalah dan menangis.

Suatu malam, suami saya terpaksa harus pulang larut, saya terpaksa harus tidur sendiri. Saya memutuskan untuk tidak tidur, tapi hanya berbaring menunggu suami saya pulang. Anehnya saya tiba-tiba menangis dan tidak dapat mengontrol amarah saya. Saya ternyata tertidur dan mengigau lagi. Saya cuma bisa menelpon suami saya dan berkata “Kamu pulang sekarang! saya berdebat dengan diri saya sendiri. Saya berkomunikasi dengan diri saya sendiri! PULANG!”. Please jangan tanya kenapa bisa seperti itu. Saya tidak pernah bisa menyimpulkan atau bahkan menemukan jawabannya. Namun yang saya ingat bahwa saya mendebatkan mengenai bayi yang saya kandung. Kejadian ini berlangsung beberapa bulan sebelum anak saya meninggal.

Dia yang tidur di tengah-tengah kami

Kehamilan saya bertambah besar. Saya mulai sering muntah ketika kekenyangan. Namun, saya juga akan muntah jika ada sesuatu yang tidak beres di sekitar saya.

Malam itu saya dan suami tidur di kamar depan seperti biasa. Namun yang tidak biasa adalah ketika saya terbangun dari tidur dan hendak muntah. Saya buru-buru bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Anehnya, perhatian saya terpusat pada sesuatu yang ganjil. “Siapa orang yang tidur di tengah-tengah kami”. Saya tetap menuju ke kamar mandi dan mengeluarkan semua rasa mual saya. Saya menceritakan hal itu pada suami saya. Dia menyarankan untuk pindah kamar.

Saran itu, saya terima. Namun sang pria dengan rambut klimis, tubuh lumayan tinggi dengan setelan jas dan dasi kupu-kupu ini, tidak mau menyerah. Ia tetap menampakkan wujud dengan seringainya di sebelah kipas yang kami pasang di kamar. Kejadi ini berlangsung hingga beberapa minggu sebelum kematian anak saya. Ia selalu berdiri di dekat kipas dan memerhatikan saya ketika tidur. Anyway, saya masih ingat dengan wajah sosok ini.

“Tante” yang muncul diatas perut

Cerita terakhir ini mengenai “erep-erep”, “kedidipan”, “sleep paralysis” atau “ketindihan” atau semacamnya.

Suatu ketika, saya sangat amat kelelahan. Kejadian itu terjadi pada pukul 11.34, saya mengingatnya karena baru saja mengecek handphone saya. Saya tiba-tiba tidak bisa menggerakkan tangan saya yang sedang memegang telepon genggam. Kaki-pun tidak bisa saya gerakkan. Semua terasa amat berat. Saya mengingat sesuatu, kata orang ini dinamakan ketindihan. Sesuatu sedang menindih badan saya. Saya mencoba membaca banyak ayat, namun tubuh saya tidak juga bisa digerakkan.

Pada pertengahan pembacaan ayat tersebut, saya melihat sosok berbaju putih sedang menduduki perut saya. Saya tidak bisa melihat wajahnya yang tertutupi rambut sepanjang bahu. Saya berkali-kali membaca ayat-ayat Alqur-an kembali, ia tetap tidak bergeming. Ia masih senang duduk di sana.  Saya berteriak minta tolong. Saya memanggil mama, bapak dan adik-adik… tapi tidak ada yang mendengar. Namun, dengan usaha yang demikian keras, saya berhasil menggerakkan tubuh saya yang sebelumnya lumpuh sementara. Saya baru menyadari bahwa saya telah tertidur cukup lama dan anehnya… saat itu masih pukul 11.34. Terlepas dari apakah ini halusinasi hasil sleep paralysis atau bukan. Saya masih merasakan kejadian tersebut terasa real.

 

5 Bacaan Fenomenal Remaja Gen X ke Gen Y

Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Setelah menulis mengenai Sahabat Pena beberapa hari yang lalu, ternyata ada beberapa teman pembaca yang senang dengan hal-hal berbau jadul. Pembaca-pembaca ini adalah si generasi transisi alias generasi X yang mepet lahirnya dengan generasi Y.

Topik “Sahabat Pena” ini, mengingatkan mereka mengenai sebuah kolom di sebuah majalah bertajuk “Sahabat Mop” milik majalah Mop. Kolom yang berisikan beberapa nama, wajah, dan alamat yang dapat dijadikan teman berkirim-kirim surat. Zaman di mana pertemanan masih dikuasai pena, zaman di mana facebook masih belum menjadi sebuah ide besar.

Continue reading

“Ayah, itu apa?” dan kami terdiam

Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Tulisan berikut ini saya buat karena terinspirasi oleh nessie judge. Ketika saya menonton salah satu videonya yang membahas “video TERSERAM anak kecil DIHANTUI! #NERROR”. Jadi, buat para penggemar konten #nerror, silahkan menyimak kisah berikut.

###

Kata orang, anak yang masih balita itu…masih terbuka mata batinnya. Tapi, kalau sudah lumayan gede, gak ilang-ilang jugak… itu artinya BAKAT

Kalimat seperti ini bikin kita merinding gak sih? kalau saya, IYA.

Continue reading

Sahabat Pena (Maya)

Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Pertemanan itu memang tidak selalu kita ketahui darimana asalnya dan bagaimana bisa terjadi, terutama zaman yang segala rupa sudah terhubung dengan seutas kabel bernama “internet”. Siapapun bisa menjadi teman, siapapun bisa menjadi musuh dan siapapun bisa menjadi tokoh dan idola.

Saya mungkin bukan tipe yang menjadi idola, mungkin bisa dikatakan “haus teman bicara”, alias butuh teman. Jadi, mungkin kalau dihitung-hitung 20% dari teman saya adalah teman yang saya temukan di dunia maya. Jika ditanya pernah ketemu, tidak sama sekali. Kami hanya dipertemukan oleh tekanan “jempol” bernama “poke” dan “like” di facebook yang di lanjutkan “love” di instagram. Kalau sisa jari yang lain sedang rajin, kami tidak pernah absen untuk mengirimkan komentar pada foto-foto yang menarik. Sesimpel itu.

Continue reading

Critical Eleven

Setelah hampir setahun yang lalu menulis di blog ini…dan akhirnya saya menulis di sini lagi.

Kenapa mutusin nulis lagi? ngapain ajah selama ini?

Yah, ternyata balik lagi…terkadang menulis menjadi teman pelampiasan curhat yang “paling asik” tinggal ketak-ketik di keyboard…dan gak sadar ternyata hasil tulisannya awur-awuran gak tertata tapi melegakan karena dia ngalir gitu aja.

Beda dengan ketika saya nulis cerpen, nulis tesis dan nulis buku. Semua ada rule-nya.

Yah beberapa tahun ke belakang, saya lagi sibuk banget sama tesis dan nulis 2 buku. Sibuk kerjaan jugak, tapi saya pikir gak usah di jadikan itungan karena emang itu rutinitas wajib. sama halnya dengan mengurus krucils…semua rutinitas…

Akhirnya hobi nulis cerpen dan baca novel saya tinggalkan. Entah berapa banyak novel yang saya beli, tapi belum disampul dan dibaca…ah ya sudahlah yah…everything has changed…saya nggak bisa juga memaksakan sesuatu yang bukan prioritas…

Sampai akhirnya saya merasa lost…ada hal kecil yang saya tahan, hal kecil itu berhari-hari bersarang dan akhirnya menjadi masalah yang besar…

Bukan berarti im not ready for this… tapi ternyata saya butuh pelampiasan..yah bagi sebagian orang pasti akan bilang “sholat” atau “ngaji” sebagai solusi…yah saya tahu itu solusi terbaik…tapi to be honest, terkadang ada masa dimana kadar keimanan kita sedang menurun bersamaan pada saat kita juga menghadapi masalah…jadi, ternyata saya masih butuh sesuatu yang mengeluarkan emosi-emosi yang tak terdefinisi ini.

So, kebetulan kemarin saya coba download film “critical eleven” di Hooq. Sudah lama saya tertarik untuk nonton. Tapi, baru kemarin kesampaian.

Ternyata hati saya kacau sekali setelah menonton film tersebut. Film tersebut menyadarkan banyak hal kepada saya…

Menit-menit awal hingga pertengahan, sudah pasti mengingatkan saya dengan kejadian ketika saya kehilangan anak saya (Adira)  hampir mirip sekali ceritanya…yah memang begitulah seorang penonton…pasti mencari-cari kemiripan cerita hidupnya dengan film yang ditontonnya.

Namun menit-menit pertengahan sampai akhir… saya linglung…saya berusaha mencari-cari pegangan. Tangis saya pecah. Sepertinya emosi ini ingin cepat-cepat keluar.

Lalu saya coba nikmati setiap detik-detik film…saya reka-reka bagaimana saya sempat melalui semua hal yang diceritakan pada film.

Tentu saja berbeda.

Tapi, ada hal lain yang saya sadari dan terjadi pada saat itu. Ada yang tidak beres dengan hati saya. Ada yang tidak beres dengan perasaan saya. Ada yang belum tuntas.

Saya berusaha mencari tahu, saya tak punya satu alasan-pun untuk saya sebutkan.

Sampai saya sadar, sebenarnya saya tahu tapi saya diam. Terpaksa diam lebih tepatnya.

Saya sadar betul ada trauma yang begitu sulit saya maafkan…

Ada trauma yang menyebabkan saya demikian benci dan tak bisa mengikhlaskan….

Ada trauma yang membuat saya ingin berkata-kata kasar…

Intinya saya butuh melampiaskannya…

Dan semua itu terpanggil pada saat saya merasa lelah, sakit atau mood yang tidak jelas. Yah, tentu kalian bisa membayangkan akan seperti apa jadinya terutama ketika hal-hal tersebut tak bisa dilampiaskan…

Lalu apa hubungannya dengan film ini?

Film ini menyadarkan saya bahwa selama ini sebagai seseorang yang extrovert, saya sangat-sangat introvert mengenai apa yang terjadi di diri saya. I can’t tell anyone meskipun itu dengan suami saya. Mengapa? karena saya berharap semua orang terdekat saya “mengerti dengan sendirinya”. Saya tau itu salah… tapi saya selalu merasa tidak adil rasanya kalau saya membagi ini…

so, biarkan saja tulisan ini menjadi tulisan yang gak jelas…biarkan saja saya melampiaskan sesuatu yang mungkin tak pernah bisa saya jelaskan.

Mungkin dengan begini…saya lebih sedikit lega 🙂