Hutan

Aku tampak berani melawan. Kamu juga tetap memegangi tanganku. Kita saling menguatkan. Kejaran mereka terhenti. Lemparan panah-panah kecil yang mereka layangkan ke tubuh kita, sudah terhenti.

Nafas kita masih memburu. Satu-satu, kita coba mengatur irama nafas kita.

Tanpa sadar, kita berdua tiba ditengah hutan yang sangat lebat. Tanahnya berbau daun-daun yang sudah berubah menjadi kompos, bercampur dengan sebuah bau harum yang sangat mistis.

Bau bunga yang dengan menciumnya saja, kita dapat membayangkan warnanya yang putih gading.

Kita saling memandang dan melayangkan pandangan keatas.

Bunga-bunga Wijaya Kusuma jatuh satu persatu ke tanah. Kepak-kepak mahkota bunganya menirukan tarian ubur-ubur.

Kita berdua terpaku, tak sanggup merumuskan sebuah kata yang dapat merangkum rasa damai yang muncul tiba-tiba.

Aku menggapai kameraku, mencari sudut yang pas untuk mengabadikan moment yang belum pernah kita rasakan sebalumnya.

Kamu cuma memandang takjub atas gerakan cepatku. Kamu tahu bagaimana aku mencintai setiap moment dalam hidupku.

Kita meneruskan perjalanan hingga ujung dari hutan___yang sudah beberapa jam kita masuki. Perkumpulan bunga Chamomile menyambut kita. Bunga yang juga berwarna putih.

Kita sama-sama tahu, aku tidak terlalu menyukai bunga. Tapi entah mengapa, dua bunga putih ini tiba-tiba menghadirkan kebahagiaan lain yang masuk ke hatiku.

Aku melemparkan sebuah senyuman, kamu menangkapnya sebagai sebuah kode cinta padamu. Seperti biasa.

Kamu memelukku setelah aku meminta untuk mengabadikan moment ini.

“Aku tak ingin ini berakhir.” Kataku sambil memelukmu erat. Kusandarkan daguku pada bahumu yang bidang.

“Aku mencintai setiap moment kita.” Bisikku di kupingmu.

“Aku mencintaimu.” Balasmu sambil mencubit manja pinggangku dan menggodaku seharian.


-20160906-

Saya masih suka berdiskusi

Setiap hari adalah sebuah kesempatan yang luar biasa buat saya. Saya selalu percaya bahwa selalu ada hal-hal baik yang datang kedalam hidup kita disetiap harinya. Salah satunya adalah adalah “sharing knowledge” atau berdiskusi.

Diskusi adalah hal utama yang paling saya senangi. Mengapa? karena didalam sebuah diskusi, saya selalu mempelajari bagaimana seseorang dapat menanggapi sebuah masalah dan selipan ilmu yang terkadang tanpa sadar dibagikan oleh lawan bicara saya.

Tadi pagi contohnya, ketika saya menumpang mobil seorang tetangga untuk menghadiri training System Analyst di daerah Sudirman. Continue reading

Hi pagiku…

Hai pagiku, mama kangen sekali…

Mama kangen tendangan kecilmu…

Mama kangen rangkulanmu lewat rahim mama…

Sudah lama rasanya kita tidak saling menyentuh dinding perut mama…

Menyatukan jari-jari kita, merasakan perasaan yang luar biasa.

Tak kan ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi “kita”, nak.

Mama tak ingin memaksamu merasakan kenangan yang sama.

Kenangan yang membuat mama bahagia ketika mengandungmu.

Kamu pasti lebih bahagia di syurga.

Mama hanya ingin mengalirkan perasaan rindu ini padamu…

Perasaan yang ingin mama titipkan pada ALLOH untuk kamu rasakan.

Mama hanya berharap cinta dan rindu yang teramat besar ini sampai pada penyalurannya, yaitu kamu.

Semoga kamu selalu damai dan bahagia, sayang.

.

Malaikat kecilku, Adira…

Mama akan selalu mendoakanmu, meskipun mungkin do’a ini takkan mengantarkan apa-apa padamu

Mama yakin ALLOH akan menyampaikan semua perasaan mama padamu…

Adira…mintalah pada ALLOH untuk mengumpulkan keluarga kecil kita di syurga…

Mintalah pada ALLOH agar kita dipertemukan dan bersatu sebagai keluarga yang utuh di syurga-NYA.

Adira, mama betul-betul rindu…

Maafkan mama kembali meneteskan airmata untukmu…mama pastikan ini adalah airmata rindu.

Mama selalu ikhlas melepaskanmu sebagai malaikat kecil di syurga-NYA ALLOH…

Berbahagialah, nak.

Mama akan selalu merasakanmu didalam diam dan do’a ibu.

I❤ u

Kisah Cinta

Sentuhan tangan itu masih kurasa mendekapku,

dini hari yang indah, dimana cuma bau jalanan yang masih menempel dibajumu.

Aku tahu, kamu baru selesai memenuhi tugasmu. Sedang aku terlelap disebelah “bagian dari kita”.

Malu-malu, aku tak sanggup mengangkat wajahku.

Aku tau, kamu tersenyum dan mendekat.

Sesaat isyarat yang dulu sering kita lakukan, hinggap kembali.

Continue reading