Kita dalam 1 Lustrum

*Bacanya sambil denger ini yah https://www.youtube.com/watch?v=jP6eEKrghGI&index=72&list=PLGaZpL9vDpQ8Q3K8nKg64Y5kK80IUlAz8
*

Kata orang, 1 lustrum pernikahan itu adalah tapak pertama, step pertama. Ujian pernikahan yang paling berat. Penentu apakah kita akan tetap berjalan, bertahan dan maju ke depan atau berhenti, menyerah dan mundur secara teratur.

Aku setuju.

Continue reading

Menyikapi Fitnah

Fitnah adalah satu hal yang paling ingin saya ceritakan dalam sebuah tulisan. Mengapa? karena fitnah ini paling sering hadir di hidup saya. Buat saya Fitnah adalah hal paling keji. Hal paling menyakiti dan hal yang paling saya benci. Tapi dibalik itu semua, tentu ada hikmah yang bisa saya petik. Tentu ada berkah jika saya menjalaninya. Mengutip pernyataan adik perempuan saya “Lu di fitnah lagi? udah sabar aja, bentar lagi juga lu dapet rejeki. Semakin keji fitnahan yang lu dapat, semakin gede rejeki yang lu dapet.” Itu katanya.

Jangan dikira saya tidak menangis, tentu saya menangis. Jangan dikira saya tidak marah, tidak kesal dan tidak membenci. Sebagai manusia biasa, saya tidak sesempurna nabi. Saya tentu merasakannnya.

Continue reading

Bahagia Itu Sesederhana Itu

Sebelum kalian membaca tulisan berikut, saya harap kalian membacanya dengan pikiran positif. Apa yang saya tulis, murni hanya ingin membagi motivasi dan mudah-mudahan malah dapat membuat kita sama-sama belajar untuk mencari kebahagiaan dengan cara yang sederhana. InsyaAlloh tidak ada sedikitpun niat saya untuk riya atau berpamer ria. Saya hanya ingin membagi cerita yang mungkin bisa menyadarkan kita arti kebahagiaan. Selamat membaca.
***

Ketika memiliki Hilmi dan Fattah, dunia saya rasanya berubah. Mungkin sejak kehilangan Adira, hidup saya-pun mulai berubah. Mungkin tidak banyak yang tahu bagaimana mereka mengubah hidup saya menjadi lebih “Menerima takdir” dan lebih memahami kondisi. Kondisi yang bagaimana?

Continue reading

5 Kartun Populer Generasi Y

Hari terakhir memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Akhirnya tiba di hari terakhir menjawab tantangan menulis satu tulisan perhari selama tujuh hari. Sebenarnya, berat sekali rasanya…apalagi mencari ide plus riset-riset kecil yang mendukung tulisan. Saya harus menyediakan waktu di sela-sela pekerjaan bahkan ketika menyusui anak. Hehehe. Tapi, nggak masalah…tantangan ini justru membuat saya sangat semangat. Saya bisa menjamin, gara-gara tantangan ini saya harus memutar otak sedemikan rupa sehingga pusing mendera. Halah. Intinya, saya merasa sangat produktif dan saya suka sekali.

Tulisan kali ini masih berkisar generasi Y. Kenapa generasi Y? karena saya generasi Y. Sehingga tepat-lah rasanya jika saya menceritakan sesuatu yang dialami diri sendiri. Hehehe.

Continue reading

Tiga puluh tahun

Tiga puluh tahun mencari,

Tiga puluh tahun menanti,

Tiga puluh tahun berjuang menikmati hari.

Masih terlintas rasa ingin mencicipi,
selembar keju kenamaan dalam balutan selembar roti.

Keinginanku tak besar.

Hanya rasa asin hasil fermentasi.

Tiga puluh tahun hampir berlalu.

Jenis keju sudah tidak terfokus pada lembaran roti.

Ayam panggang dengan saus madu korea, kini disirami lelehan keju.

Bak lava yang turun menjilat tiap sisi.

Keju ini memabukkan.

Tapi tidak se-spesial dulu.

Ketika seorang remaja seumurku
mengigit tiap bagian roti berisi keju,
dan aku menelan ludah.

Oh hidup tak selamanya mudah.
Kita berani menghargai atau justru berani melupakan bahkan membuangnya.

Ah, tiga puluh tahun sudah…

Tiga puluh tahun aku menanti…

Tiga puluh tahun aku mencari…

Sebuah kenangan yang menghantarkan rasa tiga puluh tahun ini…

Sebuah rasa tuk mengakui…

Aku tetap mencintai makanan kuning ini…

Selamat tiga puluh tahun pecinta keju sejati…