Terlalu Cepat Berlari

Hai blog, hari ini nggak usah pake konsep lah yah… aku cuma mau curhat.

Ternyata ada kalanya perjuangan itu mentok. Mentok karena partner yang mungkin tidak memiliki misi yang sama, mentok karna partner ternyata masih kurang komitmennya. Yah, mentok.

Dari sana terkadang aku belajar, untuk tidak pernah memaksa orang-orang sekitar untuk fight terlalu kencang. Mungkin mereka butuh waktu. Butuh istirahat. Tapi aku telah salah mengartikan. Aku malah ikut layu karena semangat mereka yang memudar.

Terkadang aku bertanya, mengapa aku tidak mengerjakannya sendiri saja? tapi aku ingin juga berguna untuk mereka. Agar mereka juga merasakan penghargaan buat bakat-bakat mereka. Tidaklah bersembunyi. Dan aku terlalu mencintai sebuah karya dengan kolaborasi. BUatku itu sangat “Kaya” karena ada dua sisi yang ingin dipadukan,

Tapi, mungkin aku yang terlalu kencang berlari. Aku tidak pernah longggar untuk semua yang ku kerjakan. Mungkin aku yang terlalu berambisi.

Akhirnya, ada masa di mana aku menjadi frustasi, menjadi kecewa terhadap sekitar. Padahal Aku yang teralu cepat berlari. Kurang waktu untuk bernafas.

Ah, sebentar… aku merasa penat. Mungkin ini saatnya aku mulai berpikir untuk “benar-benar” hidup.

Aku rehat dulu saja kalau begitu. Hehehe. Ah, tapi dia memanggilku…memanggilku untuk terus berkarya…seolah aku akan mati esok hari… aaaaahhhh aku harus apa? banyak hal yang ingin aku gapai… karena aku sangat mencintai sebuah proses. Baiklah blog, aku tidak jadi rehat. Aku mau pasang musik dengan dentuman keras… mungkin aku jadi semangat lagi!

Ketika Akhirnya Saya Berbicara, Mereka Anggap Saya Berlebihan

Saya lagi-lagi sangat tertarik dengan berbagai issue tentang mental illness, Kebencian dan mengenai self healing. Dulu sewaktu saya masih Kuliah semester awal, saya sampai minta akses perpustakaan jurusan psikologi-nya teman untuk akses buku-buku di sana. Saya bisa betah seharian disana.

Salah satu tempat yang juga membuat saya nyaman mencari tahu mengenai topik ini adalah Toko Buku. Saya senang bisa mencuri-curi sedikit ilmu dari novel-novel yang menceritakan mengenai psikopat, pembunuhan dan latar belakang alias akar terjadinya hal tersebut dan hubungannya dengan masa kecil mereka.

Continue reading Ketika Akhirnya Saya Berbicara, Mereka Anggap Saya Berlebihan

Kita dalam 1 Lustrum

*Bacanya sambil denger ini yah https://www.youtube.com/watch?v=jP6eEKrghGI&index=72&list=PLGaZpL9vDpQ8Q3K8nKg64Y5kK80IUlAz8
*

Kata orang, 1 lustrum pernikahan itu adalah tapak pertama, step pertama. Ujian pernikahan yang paling berat. Penentu apakah kita akan tetap berjalan, bertahan dan maju ke depan atau berhenti, menyerah dan mundur secara teratur.

Aku setuju.

Continue reading Kita dalam 1 Lustrum

Menyikapi Fitnah

Fitnah adalah satu hal yang paling ingin saya ceritakan dalam sebuah tulisan. Mengapa? karena fitnah ini paling sering hadir di hidup saya. Buat saya Fitnah adalah hal paling keji. Hal paling menyakiti dan hal yang paling saya benci. Tapi dibalik itu semua, tentu ada hikmah yang bisa saya petik. Tentu ada berkah jika saya menjalaninya. Mengutip pernyataan adik perempuan saya “Lu di fitnah lagi? udah sabar aja, bentar lagi juga lu dapet rejeki. Semakin keji fitnahan yang lu dapat, semakin gede rejeki yang lu dapet.” Itu katanya.

Jangan dikira saya tidak menangis, tentu saya menangis. Jangan dikira saya tidak marah, tidak kesal dan tidak membenci. Sebagai manusia biasa, saya tidak sesempurna nabi. Saya tentu merasakannnya.

Continue reading Menyikapi Fitnah

Bahagia Itu Sesederhana Itu

Sebelum kalian membaca tulisan berikut, saya harap kalian membacanya dengan pikiran positif. Apa yang saya tulis, murni hanya ingin membagi motivasi dan mudah-mudahan malah dapat membuat kita sama-sama belajar untuk mencari kebahagiaan dengan cara yang sederhana. InsyaAlloh tidak ada sedikitpun niat saya untuk riya atau berpamer ria. Saya hanya ingin membagi cerita yang mungkin bisa menyadarkan kita arti kebahagiaan. Selamat membaca.
***

Ketika memiliki Hilmi dan Fattah, dunia saya rasanya berubah. Mungkin sejak kehilangan Adira, hidup saya-pun mulai berubah. Mungkin tidak banyak yang tahu bagaimana mereka mengubah hidup saya menjadi lebih “Menerima takdir” dan lebih memahami kondisi. Kondisi yang bagaimana?

Continue reading Bahagia Itu Sesederhana Itu