Perkembangan Hilmi

Sejak menjadi ibu, banyak pengalaman baru yang saya rasakan. Saya baru tahu bahwa bahagia itu benar-benar sederhana. Sesederhana menyaksikan tumbuh kembang anak kita.

Saya juga paham betapa setiap anak juga memiliki keunikan-keunikan masing-masing. Baik berupa kecerdasan verbal maupun motorik.

Bahagia sekali rasanya jika kita menyaksikan satu persatu kepintaran anak kita muncul.

Apalagi ketika kata pertama yang muncul adalah “IBU”. Meskipun sayangnya…anak saya lebih fasih menyebut kata “AYAH” dibandingkan ibu. Dia lebih senang memanggil saya “ENYAK”

Continue reading

Seru Kali Ya

Seru Kali yah mas, kalau suatu saat kita menikmati masa tua kita di Jogja atau di Bali… (ditempat favorit kita)…

Seru Kali yah mas, kalau suatu saat kita sekeluarga bisa berlibur ke Venice dan keliling Eropa…

Seru Kali yah mas, kalau suatu saat kita dan anak-anak kita sering memeluk satu sama lain, saling mendoakan satu sama lain dan berkumpul di Surganya ALLOH…aamiin

Teman Dengan Sifat Iri

Ada waktu-waktu tertentu dimana saya dan suami cuma duduk berdua didepan teras rumah. Biasanya dia akan memegang sepuntung rokok dan kopi, sedangkan saya memegang coklat batang atau sekedar menikmati malam.

Kebiasaan ini sering kami lakukan sejak menikah.

Kebanyakan dari diskusi kami adalah membahas soal hidup, soal masalah yang sedang dihadapi atau karakter-karakter teman yang kita temui sehari-hari.

Beberapa minggu lalu, saya membahas sifat yang paling sering saya temui yaitu Teman dengan Sifat “IRI”.

Orang denganĀ  sifat ini punya karakter:

  1. Suka membandingkan pencapaiannya dengan orang lain
  2. Suka merasa apa yang dikerjakannya lebih banyak dibanding orang lain
  3. Suka merasa bahwa dia memiliki keunggulan yang luar biasa dibandingkan orang lain
  4. Suka menjelek-jelekan temannya (menyebarkan kebencian) kepada orang lain demi menutupi kelemahannya
  5. Banci tampil
  6. Menghambat/menjatuhkan karir temannya
  7. Menghancurkan image temannya didepan teman lain atau boss
  8. Fitnah
  9. Suka mencari tau (memata-matai) apa yang sedang kita kerjakan (kepo)
  10. dbs.

Terkadang jujur, manusiawi sekali jika kita bertemu dengan orang-orang dengan sifat ini, tentu membuat emosi.Padahal teman semacam ini tidak pernah mengenal kita lebih dalam, tidak pernah kita persulit dan tidak pernah kita jatuhkan.

Tapi, suami saya selalu berkata…

“Ingatlah Tuhan tidak pernah tidur. Lihatlah takdirnya bekerja…apakah kamu tidak sadar bahwa kemudahan-kemudahan yang kita rasakan sekarang adalah buah dari kesabaran.

Tahukah kamu bahwa orang-orang itu sebenarnya harus kamu kasihani?”

Saya menyernyit jika pertanyaan itu muncul.

“Bahwa orang-orang dengan sifat iri, biasanya tidak dapat menemukan kebahagiannya, kekanakan dan tidak pandai bersyukur. Sekarang mana yang harusnya kamu kasihani? dirimu atau diri mereka?”

Saya mengerti sekarang…

Jadi, teman-teman…jika kalian mengalami hal yang sama…silahkan luapkan emosi anda pada tempatnya (pundak suami misalnya, jika belum punya bisa ke adik kakak atau ayah bunda) dan ingatlah pesan dari suami saya tersebut…Selanjutnya Diam, bersabar dan abaikan mereka. Jangan lupa memberikan penghargaan pada diri anda karena telah berhasil melewatinya dengan bijak. Tetaplah menjadi orang baik.

Salam damai dan bahagia..

Hutan

Aku tampak berani melawan. Kamu juga tetap memegangi tanganku. Kita saling menguatkan. Kejaran mereka terhenti. Lemparan panah-panah kecil yang mereka layangkan ke tubuh kita, sudah terhenti.

Nafas kita masih memburu. Satu-satu, kita coba mengatur irama nafas kita.

Tanpa sadar, kita berdua tiba ditengah hutan yang sangat lebat. Tanahnya berbau daun-daun yang sudah berubah menjadi kompos, bercampur dengan sebuah bau harum yang sangat mistis.

Bau bunga yang dengan menciumnya saja, kita dapat membayangkan warnanya yang putih gading.

Kita saling memandang dan melayangkan pandangan keatas.

Bunga-bunga Wijaya Kusuma jatuh satu persatu ke tanah. Kepak-kepak mahkota bunganya menirukan tarian ubur-ubur.

Kita berdua terpaku, tak sanggup merumuskan sebuah kata yang dapat merangkum rasa damai yang muncul tiba-tiba.

Aku menggapai kameraku, mencari sudut yang pas untuk mengabadikan moment yang belum pernah kita rasakan sebalumnya.

Kamu cuma memandang takjub atas gerakan cepatku. Kamu tahu bagaimana aku mencintai setiap moment dalam hidupku.

Kita meneruskan perjalanan hingga ujung dari hutan___yang sudah beberapa jam kita masuki. Perkumpulan bunga Chamomile menyambut kita. Bunga yang juga berwarna putih.

Kita sama-sama tahu, aku tidak terlalu menyukai bunga. Tapi entah mengapa, dua bunga putih ini tiba-tiba menghadirkan kebahagiaan lain yang masuk ke hatiku.

Aku melemparkan sebuah senyuman, kamu menangkapnya sebagai sebuah kode cinta padamu. Seperti biasa.

Kamu memelukku setelah aku meminta untuk mengabadikan moment ini.

“Aku tak ingin ini berakhir.” Kataku sambil memelukmu erat. Kusandarkan daguku pada bahumu yang bidang.

“Aku mencintai setiap moment kita.” Bisikku di kupingmu.

“Aku mencintaimu.” Balasmu sambil mencubit manja pinggangku dan menggodaku seharian.


-20160906-

Saya masih suka berdiskusi

Setiap hari adalah sebuah kesempatan yang luar biasa buat saya. Saya selalu percaya bahwa selalu ada hal-hal baik yang datang kedalam hidup kita disetiap harinya. Salah satunya adalah adalah “sharing knowledge” atau berdiskusi.

Diskusi adalah hal utama yang paling saya senangi. Mengapa? karena didalam sebuah diskusi, saya selalu mempelajari bagaimana seseorang dapat menanggapi sebuah masalah dan selipan ilmu yang terkadang tanpa sadar dibagikan oleh lawan bicara saya.

Tadi pagi contohnya, ketika saya menumpang mobil seorang tetangga untuk menghadiri training System Analyst di daerah Sudirman. Continue reading