5 Kartun Populer Generasi Y

Hari terakhir memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Akhirnya tiba di hari terakhir menjawab tantangan menulis satu tulisan perhari selama tujuh hari. Sebenarnya, berat sekali rasanya…apalagi mencari ide plus riset-riset kecil yang mendukung tulisan. Saya harus menyediakan waktu di sela-sela pekerjaan bahkan ketika menyusui anak. Hehehe. Tapi, nggak masalah…tantangan ini justru membuat saya sangat semangat. Saya bisa menjamin, gara-gara tantangan ini saya harus memutar otak sedemikan rupa sehingga pusing mendera. Halah. Intinya, saya merasa sangat produktif dan saya suka sekali.

Tulisan kali ini masih berkisar generasi Y. Kenapa generasi Y? karena saya generasi Y. Sehingga tepat-lah rasanya jika saya menceritakan sesuatu yang dialami diri sendiri. Hehehe.

Continue reading

Advertisements

Tiga puluh tahun

Tiga puluh tahun mencari,

Tiga puluh tahun menanti,

Tiga puluh tahun berjuang menikmati hari.

Masih terlintas rasa ingin mencicipi,
selembar keju kenamaan dalam balutan selembar roti.

Keinginanku tak besar.

Hanya rasa asin hasil fermentasi.

Tiga puluh tahun hampir berlalu.

Jenis keju sudah tidak terfokus pada lembaran roti.

Ayam panggang dengan saus madu korea, kini disirami lelehan keju.

Bak lava yang turun menjilat tiap sisi.

Keju ini memabukkan.

Tapi tidak se-spesial dulu.

Ketika seorang remaja seumurku
mengigit tiap bagian roti berisi keju,
dan aku menelan ludah.

Oh hidup tak selamanya mudah.
Kita berani menghargai atau justru berani melupakan bahkan membuangnya.

Ah, tiga puluh tahun sudah…

Tiga puluh tahun aku menanti…

Tiga puluh tahun aku mencari…

Sebuah kenangan yang menghantarkan rasa tiga puluh tahun ini…

Sebuah rasa tuk mengakui…

Aku tetap mencintai makanan kuning ini…

Selamat tiga puluh tahun pecinta keju sejati…

 

 

5 Kejadian Terseram Sepanjang Hidup

Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Setelah menulis cerita mengenai pengalaman supranatural beberapa hari yang lalu, ternyata ada beberapa permintaan untuk menulis cerita seram kembali. Berhubung cerita seperti ini tidak memerlukan banyak analisa dan research, jadi sepertinya akan saya kabulkan. hehehe. Jadi, sebelum kalian membaca kisah ini…pastikan kalau kalian tidak sedang sendirian. Hehehe.

Sepanjang hidup, saya lumayan sering mengalami gangguan dan terkadang semacam firasat mengenai suatu tempat berhantu atau tidak. Firasat untuk membedakan mana orang yang cocok dan tidak cocok dengan saya. Firasat mengenai seseorang jahat atau tidak. Firasat mengenai seseorang berbohong atau tidak. Firasat apakah seseorang tersebut memiliki “kelebihan” atau tidak. Firasat mengenai apa yang akan terjadi pada hidup seseorang. Saya tidak tahu kelebihan macam apa yang ada di diri saya. Tapi, saya bisa menyimpulkan bahwa kelebihan ini tidak terlalu kuat karena muncul sesekali dan tidak pernah saya asah. Rasanya ingin sekali membagi hal-hal ini ke beberapa orang yang juga mengalami hal yang sama. Tapi, sulit sekali menemukan prinsip dan pemikiran yang sama terutama masalah untuk menemukan setitik logika pada semua kejadian. Cerita-cerita berikut ini-pun tidak bisa saya logika-kan. Jadi, mari kita anggap saja cerita-cerita ini adalah sekedar cerita saja. Silahkan menikmati.

Kursi makan yang bergerak

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2010, kebetulan saya sedang berada di rumah sendirian. Semua anggota rumah sedang mudik lebaran.

Saya sedang online, bertelponan dengan teman saya (sekarang jadi suami). Kebetulan pada saat itu, saya berada di ruang tamu yang letaknya berdempetan dengan ruang makan dan ruang TV . Jadi, bisa dipastikan bahwa ruangan ini sangat besar. Kalian para penakut, tentu tahu bahwa ruangan besar tidak akan menghasilkan rasa aman. Kita lebih merasa aman dengan ruangan sempit seperti kamar, bukan? yess, saya cukup penakut.

Saya dan teman saya tersebut sedang membahas hal-hal lucu, sehingga saya mengeluarkan tawa yang lumayan besar untuk waktu yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Jadi mungkin pada saat itu ada beberapa pihak tak kasat mata, yang terganggu dengan tawa saya. Awalnya saya hanya mendengar beberapa peralatan dapur yang berbunyi. Itu adalah peringatan pertama. Namun, saya masih acuh dan menganggap bunyi-bunyian itu hasil ilmu fisika bernama “pemuaian” pada benda-benda yang “mungkin” menghasilkan bunyi.

Peringatan kedua. Kursi makan saya mengeluarkan suara gesekan dan teman saya (yang notabenenya sedang menelpon saya) pun mendengar suara ini. Saya mulai merinding. Rasa-rasanya badan saya mematung. Saya sudah tidak bisa menemukan alasan yang logis)__ yang dapat menjelaskan gesekan itu, saya juga tak mampu membuka buku fisika yang mungkin bisa menjelaskan gaya gesek macam apa yang terjadi. Saya diam, teman di seberang saya mencoba menenangkan dengan cerita-cerita lucu lainnya. Tapi, mereka semakin menjadi-jadi. Bagaikan menyaksikan acara “Dunia Lain”, kursi-kursi makan bergerak dengan sendirinya. Lutut saya terasa lemas, badan terasa berat dan mematung. Saya bahkan lupa bagaimana bacaan ayat kursi, saking gugupnya. Saya cuma bisa berjalan kecil-kecil menuju kamar dan berusaha menenangkan diri.

Ketukan di jendela hotel

Saya dan kelima teman saya kebetulan memutuskan untuk berlibur di Bandung dengan menginap di salah satu hotel milik saudara salah satu teman rombongan. Hotelnya sangat murah, kami hanya cukup membayar Rp80.000 untuk satu kamar. Sehingga, kami yang masih bergaji di bawah 5 juta (pada saat itu) tentu saja tidak berpikir panjang untuk mencari hotel lain.

Hotelnya berada di tikungan jalan dengan pohon-pohon besar di sisi kiri dan kanan. Hal yang paling menonjol adalah lukisan harimau yang berada di koridor tangga menuju kamar. Saya merasa, harimau ini begitu terlihat hidup. Saya tidak mampu menjelaskannya, tapi saya jamin bahwa harimau itu benar-benar tidak seperti lukisan.

Saya bisa mendeskripkan bahwa kamar-kamar hotel ini-pun di penuhi pihak-pihak tak kasat mata. I can prove it, karena semua rombongan juga membuktikan semua hal yang saya rasakan selama di hotel. Kejadian pertama adalah ketika saya dan kedua teman saya membawakan kue tart ke kamar teman-teman pria kami. Rencananya, kami akan memberikan sureprise kecil untuk salah satu dari mereka. Saya menyanyikan lagu kesukaannya “Only Hope” Mandy Moore, kalian bisa menyaksikan videonya pada Link ini.

Jadi…ketika saya menyanyikan lagu tersebut, saya merasa ada beberapa makhluk yang masuk kekamar.  Pada saat kami semua menyanyikan lagu ulang tahun, barulah keanehan terjadi. Jendela kamar tiba-tiba dipukul berkali-kali (suara ini anehnya tidak terekam pada video sama sekali). Awalnya, kami hanya menganggap suara angin. Namun, ketika pintu jendela terbuka dan mengeluarkan suara ketukan yang lebih kuat. Kami menghentikan semua kegiatan dan kembali ke kamar masing-masing. Untunglah masing-masing kami tidak tidur sendirian.

Keanehan tidak terjadi sampai di situ saja. Saya ingat sekali bahwa saya menghidupkan alarm handphone pada pukul 04.30 pagi, anehnya…alarm tersebut tidak berbunyi. Handphone salah satu teman sekamar saya-lah yang tiba-tiba berbunyi. Padahal menurut pengakuannya, handphone itu tidak pernah ter-setting untuk menyalakan alarm pagi. Anehnya lagi, handphone saya tiba-tiba menghilang dan berhasil kami temukan di bawah bantal. Padahal malam sebelumnya, saya menaruhnya di meja. That was creepy.

Salah satu teman pria kami juga bercerita bahwa handphone-nya sempat menyalakan pemutar musik, sendiri. Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya dua hari di hotel ini, bukan?

Berdebat dengan diri sendiri

Pada cerita sebelumnya, saya sempat menceritakan bahwa saya sering mengalami igauan di malam hari ketika mengandung almh. anak perempuan saya. Saya nggak bisa memaksa kalian percaya atau tidak, namun hal ini benar-benar terjadi.

Suami saya selalu membangunkan dan menceritakan mengenai suara-suara yang keluar dari mulut saya ketika tidur. Awalnya ia berpikir, bahwa itu adalah igauan biasa. Dia bahkan mencari tahu mengenai “apakah normal seorang ibu hamil mengingau” dan jawaban dari Google adalah “iya”, ini disebabkan karena tekanan bayi pada pernafasan ibu sehingga memunculkan hal-hal di luar kondisi. Sehingga kami berdua mengangapnya logis. Namun, semakin hari…igauan ini semakin parah. Igauan ini akan berakhir sebuah tangisan yang sangat menyayat dan ini menyebabkan suami saya khawatir. Ia mencoba merekam semua igauan saya. Ia berani bersumpah bahwa ia mendengar seolah-olah saya sedang mendebatkan sesuatu dan saya selalu kalah dan menangis.

Suatu malam, suami saya terpaksa harus pulang larut, saya terpaksa harus tidur sendiri. Saya memutuskan untuk tidak tidur, tapi hanya berbaring menunggu suami saya pulang. Anehnya saya tiba-tiba menangis dan tidak dapat mengontrol amarah saya. Saya ternyata tertidur dan mengigau lagi. Saya cuma bisa menelpon suami saya dan berkata “Kamu pulang sekarang! saya berdebat dengan diri saya sendiri. Saya berkomunikasi dengan diri saya sendiri! PULANG!”. Please jangan tanya kenapa bisa seperti itu. Saya tidak pernah bisa menyimpulkan atau bahkan menemukan jawabannya. Namun yang saya ingat bahwa saya mendebatkan mengenai bayi yang saya kandung. Kejadian ini berlangsung beberapa bulan sebelum anak saya meninggal.

Dia yang tidur di tengah-tengah kami

Kehamilan saya bertambah besar. Saya mulai sering muntah ketika kekenyangan. Namun, saya juga akan muntah jika ada sesuatu yang tidak beres di sekitar saya.

Malam itu saya dan suami tidur di kamar depan seperti biasa. Namun yang tidak biasa adalah ketika saya terbangun dari tidur dan hendak muntah. Saya buru-buru bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Anehnya, perhatian saya terpusat pada sesuatu yang ganjil. “Siapa orang yang tidur di tengah-tengah kami”. Saya tetap menuju ke kamar mandi dan mengeluarkan semua rasa mual saya. Saya menceritakan hal itu pada suami saya. Dia menyarankan untuk pindah kamar.

Saran itu, saya terima. Namun sang pria dengan rambut klimis, tubuh lumayan tinggi dengan setelan jas dan dasi kupu-kupu ini, tidak mau menyerah. Ia tetap menampakkan wujud dengan seringainya di sebelah kipas yang kami pasang di kamar. Kejadi ini berlangsung hingga beberapa minggu sebelum kematian anak saya. Ia selalu berdiri di dekat kipas dan memerhatikan saya ketika tidur. Anyway, saya masih ingat dengan wajah sosok ini.

“Tante” yang muncul diatas perut

Cerita terakhir ini mengenai “erep-erep”, “kedidipan”, “sleep paralysis” atau “ketindihan” atau semacamnya.

Suatu ketika, saya sangat amat kelelahan. Kejadian itu terjadi pada pukul 11.34, saya mengingatnya karena baru saja mengecek handphone saya. Saya tiba-tiba tidak bisa menggerakkan tangan saya yang sedang memegang telepon genggam. Kaki-pun tidak bisa saya gerakkan. Semua terasa amat berat. Saya mengingat sesuatu, kata orang ini dinamakan ketindihan. Sesuatu sedang menindih badan saya. Saya mencoba membaca banyak ayat, namun tubuh saya tidak juga bisa digerakkan.

Pada pertengahan pembacaan ayat tersebut, saya melihat sosok berbaju putih sedang menduduki perut saya. Saya tidak bisa melihat wajahnya yang tertutupi rambut sepanjang bahu. Saya berkali-kali membaca ayat-ayat Alqur-an kembali, ia tetap tidak bergeming. Ia masih senang duduk di sana.  Saya berteriak minta tolong. Saya memanggil mama, bapak dan adik-adik… tapi tidak ada yang mendengar. Namun, dengan usaha yang demikian keras, saya berhasil menggerakkan tubuh saya yang sebelumnya lumpuh sementara. Saya baru menyadari bahwa saya telah tertidur cukup lama dan anehnya… saat itu masih pukul 11.34. Terlepas dari apakah ini halusinasi hasil sleep paralysis atau bukan. Saya masih merasakan kejadian tersebut terasa real.

 

5 Bacaan Fenomenal Remaja Gen X ke Gen Y

Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Setelah menulis mengenai Sahabat Pena beberapa hari yang lalu, ternyata ada beberapa teman pembaca yang senang dengan hal-hal berbau jadul. Pembaca-pembaca ini adalah si generasi transisi alias generasi X yang mepet lahirnya dengan generasi Y.

Topik “Sahabat Pena” ini, mengingatkan mereka mengenai sebuah kolom di sebuah majalah bertajuk “Sahabat Mop” milik majalah Mop. Kolom yang berisikan beberapa nama, wajah, dan alamat yang dapat dijadikan teman berkirim-kirim surat. Zaman di mana pertemanan masih dikuasai pena, zaman di mana facebook masih belum menjadi sebuah ide besar.

Continue reading

“Ayah, itu apa?” dan kami terdiam

Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Tulisan berikut ini saya buat karena terinspirasi oleh nessie judge. Ketika saya menonton salah satu videonya yang membahas “video TERSERAM anak kecil DIHANTUI! #NERROR”. Jadi, buat para penggemar konten #nerror, silahkan menyimak kisah berikut.

###

Kata orang, anak yang masih balita itu…masih terbuka mata batinnya. Tapi, kalau sudah lumayan gede, gak ilang-ilang jugak… itu artinya BAKAT

Kalimat seperti ini bikin kita merinding gak sih? kalau saya, IYA.

Continue reading

Sahabat Pena (Maya)

Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

Pertemanan itu memang tidak selalu kita ketahui darimana asalnya dan bagaimana bisa terjadi, terutama zaman yang segala rupa sudah terhubung dengan seutas kabel bernama “internet”. Siapapun bisa menjadi teman, siapapun bisa menjadi musuh dan siapapun bisa menjadi tokoh dan idola.

Saya mungkin bukan tipe yang menjadi idola, mungkin bisa dikatakan “haus teman bicara”, alias butuh teman. Jadi, mungkin kalau dihitung-hitung 20% dari teman saya adalah teman yang saya temukan di dunia maya. Jika ditanya pernah ketemu, tidak sama sekali. Kami hanya dipertemukan oleh tekanan “jempol” bernama “poke” dan “like” di facebook yang di lanjutkan “love” di instagram. Kalau sisa jari yang lain sedang rajin, kami tidak pernah absen untuk mengirimkan komentar pada foto-foto yang menarik. Sesimpel itu.

Continue reading

Jokka-Jokka Sehari Ri Mangkasa

Memenuhi #1Hari1Tulisan #7harimenulis #sevendayswritingchallenge #CLif dari Rendy Satya Padmanaba

###

Happy New Year, gengs! ciehh yang habis liburan…yang habis travelling…pasti sekarang sudah semangat buat bikin rencana travelling lagi, ya kan? Nah, berhubung masih suasana liburan, eike akan share tempat wisata yang bisa kamu kunjungi dalam sehari. Makassar. Yuk kita Cuss.

###

Continue reading